Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Cara Mengenali Anak yang Dibesarkan Orang Tua Minim Empati Dilihat dari Kebiasaannya

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Minggu, 08 Nov 2026 17:20 WIB

Anak dibesarkan ortu minim empati
Anak dibesarkan ortu minim empati/ Foto: Getty Images/iStockphoto/golfcphoto
Daftar Isi

Setiap orang tua tentu ingin memberikan pengasuhan terbaik agar anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu menjalin hubungan sehat dengan orang lain. Namun, tidak semua anak mendapatkan dukungan emosional yang cukup selama masa pertumbuhannya.

Orang tua yang minim empati, misalnya, cenderung mengabaikan perasaan anak atau menganggap emosi yang ditunjukkan sebagai sesuatu yang berlebihan. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri hingga dewasa.

Bahkan, ada sejumlah kebiasaan yang terbentuk sebagai respons terhadap kurangnya perhatian dan validasi emosional dari orang tua. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lantas, bagaimana cara mengenali anak yang tumbuh dalam pola pengasuhan minim empati? Yuk, Bunda, simak delapan kebiasaannya yang mungkin terbawa hingga dewasa berikut ini.

8 Kebiasaan anak yang dibesarkan orang tua minim empati

Mengutip laman Your Tango, anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tanpa empati cenderung mengembangkan pola perilaku tertentu ketika beranjak dewasa. Saat perasaan mereka sering diabaikan, anak belajar menghadapi masalah emosional seorang diri, menyembunyikan perasaan, atau enggan meminta bantuan kepada orang lain.

Meskipun kebiasaan tersebut awalnya menjadi cara untuk melindungi diri dari kekecewaan selama masa kanak-kanak, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa. Berikut delapan kebiasaan yang mungkin muncul:

1. Sering meminta maaf untuk hal-hal kecil

Anak yang terbiasa merasa bahwa perasaannya menjadi beban bagi orang tua dapat tumbuh menjadi pribadi yang mudah meminta maaf.

Mereka bahkan merasa perlu mengatakan maaf ketika bertanya, meminta pertolongan, mengungkapkan ketidaknyamanan, atau menyampaikan pendapat.

Kebiasaan ini muncul karena mereka terbiasa menjaga suasana agar orang lain tidak merasa terganggu. Ketika dewasa, mereka mungkin terlalu banyak menjelaskan alasan di balik permintaannya atau merasa bersalah karena menganggap dirinya merepotkan orang lain.

2. Kesulitan meminta bantuan kepada orang lain

Ketika tumbuh bersama orang tua yang kurang peka terhadap kebutuhan emosionalnya, anak bisa belajar bahwa meminta bantuan tidak selalu mendatangkan dukungan. Mereka akhirnya terbiasa menyelesaikan berbagai persoalan sendiri daripada berharap kepada orang lain.

Saat dewasa, kebiasaan ini dapat terlihat dari sikap yang selalu merasa mampu mengatasi segala sesuatu tanpa bantuan. 

3. Terbiasa menyembunyikan perasaan

Anak yang sering mendapatkan respons negatif ketika menunjukkan kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan dapat memilih untuk memendam emosinya. Mereka merasa mengungkapkan perasaan hanya akan menimbulkan masalah baru sehingga lebih nyaman berpura-pura baik-baik saja.

Kebiasaan tersebut bisa berlanjut hingga dewasa. Mereka cenderung menghindari percakapan yang membutuhkan keterbukaan emosional dan memilih menjawab bahwa dirinya baik-baik saja meskipun sedang menghadapi masalah.

4. Selalu menganggap orang lain akan mengecewakan

Kurangnya dukungan dari orang tua dapat membuat anak kesulitan membangun ekspektasi positif terhadap orang lain. Ketika sosok yang seharusnya memberikan rasa aman justru sering mengabaikan kebutuhannya, anak bisa tumbuh dengan anggapan bahwa tidak ada orang yang benar-benar dapat diandalkan.

Saat dewasa, mereka mungkin memilih untuk tidak berharap banyak kepada orang lain. Bahkan, mereka cenderung menjaga jarak lebih dahulu karena khawatir kembali mengalami kekecewaan. 

5. Menjadi pribadi yang terlalu mandiri

Anak yang tidak mendapatkan validasi emosional sejak kecil biasanya terbiasa mengurus segala sesuatunya sendiri. Mereka belajar bahwa mengandalkan orang lain bukanlah pilihan yang bisa memberikan rasa aman.

Ketika dewasa, kebiasaan ini dapat terlihat dari kesulitan membagi tugas, menolak bantuan, hingga merasa harus menyelesaikan semua tanggung jawab tanpa melibatkan orang lain.

Dari luar, mereka mungkin terlihat sangat mandiri dan tangguh. Namun, di balik sikap tersebut, ada kemungkinan mereka sebenarnya merasa terbebani karena tidak terbiasa menerima dukungan.

6. Sulit mempercayai ketulusan orang lain

Kurangnya kasih sayang dan perhatian emosional di rumah dapat membuat anak tidak terbiasa menerima kebaikan secara konsisten. Akibatnya, ketika seseorang memberikan perhatian atau bantuan dengan tulus, mereka justru merasa curiga dan mempertanyakan maksud di balik tindakan tersebut.

Saat dewasa, mereka mungkin kesulitan menerima pujian, merasa tidak nyaman ketika mendapatkan perlakuan baik, atau menganggap ada sesuatu yang diharapkan sebagai balasannya. 

7. Sering meragukan perasaannya sendiri

Anak yang berulang kali dianggap terlalu sensitif atau berlebihan ketika menunjukkan emosi, dapat tumbuh dengan kebiasaan meragukan perasaannya sendiri. Mereka tidak lagi yakin apakah kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan yang dirasakan merupakan respons yang wajar.

8. Selalu mendahulukan kebutuhan orang lain

Anak yang tumbuh dengan orang tua yang kurang responsif secara emosional dapat terbiasa memperhatikan suasana hati orang lain demi menghindari konflik. Mereka belajar menyesuaikan diri dan mengesampingkan kebutuhan pribadi agar lingkungan di sekitarnya tetap nyaman.

Kebiasaan tersebut bisa terbawa hingga dewasa. Mereka mungkin selalu bersedia memenuhi permintaan orang lain meskipun sedang kelelahan atau memiliki kepentingan sendiri.

Ketika mencoba memprioritaskan dirinya, mereka justru merasa bersalah. Jika terus berlangsung, kebiasaan ini dapat membuat mereka merasa terkuras dan kesulitan memahami kebutuhan pribadinya.

Itu dia, Bunda, delapan kebiasaan yang mungkin terbawa hingga dewasa pada anak yang dibesarkan oleh orang tua minim empati.

Hal ini bisa menjadi pengingat bagi orang tua untuk selalu mendengarkan perasaan anak, memberikan dukungan emosional, dan membuat mereka merasa aman untuk mengekspresikan diri. 

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda