parenting
9 Ciri Kepribadian Anak Dibesarkan Orang Tua yang Terlalu Mengatur
HaiBunda
Rabu, 04 Nov 2026 13:40 WIB
Daftar Isi
-
Ciri kepribadian anak yang dibesarkan orang tua terlalu mengontrol
- 1. Perfeksionis
- 2. Anak kesulitan menjelaskan emosinya
- 3. Selalu berusaha membuat orang lain bahagia, bahkan ketika hal itu menguras energi sendiri
- 4. Tidak bisa berhenti khawatir
- 5. Suka meragukan diri sendiri dan merasa seperti pecundang
- 6. Benci ketika orang lain terlalu bergantung
- 7. Cenderung merusak diri sendiri dalam hubungan yang sehat
- 8. Kesulitan dalam hal kepercayaan
- 9. Takut konfrontasi
Pola asuh orang tua memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian anak, Bunda. Misalnya, ketika orang tua terlalu mengatur dan membatasi kebebasan anak, hal tersebut dapat memengaruhi cara mereka berpikir dan bersikap.
Orang tua yang terlalu mengontrol juga bisa menanamkan banyak sifat sulit yang akan melekat pada anak-anak mereka hingga dewasa. Banyak anak yang tumbuh dewasa, namun kesulitan dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis dan di lingkup pertemanan.
Seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua suka mengatur biasanya tumbuh dengan kepribadian yang khas. Apa saja ciri kepribadian anak-anak ini? Simak penjelasan dari Bubun berikut ya!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ciri kepribadian anak yang dibesarkan orang tua terlalu mengontrol
Melansir dari laman Your Tango, berikut 9 ciri kepribadian anak yang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu mengatur:
1. Perfeksionis
Saat anak dibesarkan oleh orang tua yang terlalu mengontrol, ia mungkin akan mempelajari perfeksionisme seperti halnya belajar berjalan atau berbicara. Bagi anak-anak ini, tidak ada yang cukup baik kecuali sempurna.
Menurut sebuah studi dari Journal of Abnormal Child Psychology, perfeksionisme dan kontrol orang tua sering kali memicu kecemasan pada anak-anak. Kemudian, perhatian orang tua terhadap detail dan harapan yang tidak realistis terhadap anak-anak juga secara signifikan memengaruhi sikap dan citra diri anak-anak tersebut.
2. Anak kesulitan menjelaskan emosinya
Jika seseorang pernah merasa kesulitan memproses atau mengekspresikan emosi, maka kemungkinan besar itu adalah bagian dari dampak memiliki orang tua yang terlalu mengontrol. Itu karena tipe orang tua ini cenderung mengandalkan rasa kendali untuk mendidik anak-anak mereka, alih-alih membantu mereka memahami aturan dan mengapa mereka harus membuat pilihan yang baik.
Alih-alih membantu anak-anak belajar mengandalkan kecerdasan emosionalnya, orang tua ini justru mengajari anak-anak untuk terlalu bergantung karena takut mengecewakan orang tua. Dalam hal ini, orang tua mencontohkan kekakuan, kekuasaan, dan sikap dingin, bukan kasih sayang dan empati.
3. Selalu berusaha membuat orang lain bahagia, bahkan ketika hal itu menguras energi sendiri
Orang tua yang suka mengatur sering menetapkan aturan dan marah hanya agar mereka dapat mempertahankan kendali. Mereka melakukannya untuk mengajarkan keterampilan tertentu atau menjaga keselamatan anak-anak.
Menurut studi yang diterbitkan di Journal of Child and Family Studies pada tahun 2023, anak-anak ini seperti mengalami 'penguasaan lingkungan' semata. Sebagai anak-anak, mereka belajar bagaimana membuat orang tua yang posesif tetap bahagia, bahkan jika itu berarti penipuan, pengorbanan, dan kompromi yang tidak adil.
4. Tidak bisa berhenti khawatir
Penelitian dari Journal of Abnormal Child Psychology tahun 2019 menunjukkan bahwa ada kaitan antara kehadiran orang tua yang mengatur dalam lingkungan rumah anak, dan kecenderungan mereka untuk mengembangkan gangguan kecemasan di kemudian hari. Jadi, jika anak memiliki orang tua yang sangat mengontrol dan tampaknya tidak bisa berhenti khawatir, mungkin keduanya saling terhubung.
Anak-anak dengan orang tua yang mengontrol juga sering kali menghadapi respons yang tidak terduga dan sangat emosional dari orang tua mereka. Akibatnya, mereka cenderung menekan perasaan dan membawa kekhawatiran itu hingga dewasa.
5. Suka meragukan diri sendiri dan merasa seperti pecundang
Sebuah studi dari Journal of Family Theory and Review tahun 2021 berpendapat bahwa orang yang tumbuh dari orang tua yang terlalu protektif cenderung mengadopsi gaya keterikatan yang tidak aman dalam hubungan baru. Hal itu membuat mereka tumbuh dengan hubungan yang transaksional dan penuh kecemasan, hingga suka meragukan dirinya sendiri.
Anak-anak ini juga cenderung tidak tahu minatnya, dan karenanya mereka hampir tidak pernah berhasil dalam hal-hal yang penting. Tak lama kemudian, mereka akan meragukan diri sendiri dan nilainya di dunia.
6. Benci ketika orang lain terlalu bergantung
Sebuah studi oleh American Psychological Association berpendapat bahwa orang-orang yang menunjukkan kecenderungan terlalu mandiri, sering kali memiliki pengalaman traumatis masa kecil yang sama dengan kebutuhan ketergantungan yang tidak terpenuhi. Laporan tersebut menjelaskan bahwa banyak dari orang-orang ini memiliki pengalaman di mana orang tua mereka gagal memberikan dukungan emosional yang memadai.
Peneliti juga menemukan bahwa orang tua ini, suka mengatur bagian-bagian yang kurang penting dalam kehidupan anak-anaknya. Hal itu membuat anak-anak ini menemukan kemandirian sebagai suatu hal yang nyaman.
7. Cenderung merusak diri sendiri dalam hubungan yang sehat
Menurut sebuah studi psikiatri tahun 2008 di jurnal Primary Care Companion to The Journal of Clinical Psychiatry, hampir 64 persen orang mengaku pernah mengalami perilaku 'sabotase diri' setidaknya sekali dalam hidup mereka. Namun, mereka yang memiliki orang tua yang terlalu protektif dan mengontrol lebih rentan membiarkan perilaku ini secara teratur merusak kehidupan, hubungan, dan kepuasan.
Meskipun perilaku sabotase diri dapat terlihat berbeda dalam berbagai skenario, hal itu hampir selalu berputar di sekitar kurangnya kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain. Anak-anak dewasa tidak mempercayai pasangan mereka untuk sepenuhnya mendukung, mirip dengan perasaan mereka saat masih kecil, sehingga mereka menutup diri, menyabotase hubungan, atau menciptakan jarak untuk menghindari rasa sakit.
8. Kesulitan dalam hal kepercayaan
Bagi anak-anak dewasa yang dibesarkan orang tua suka mengatur, mereka biasanya kesulitan untuk mempercayai diri sendiri. Mulai dari menjalani kehidupan sehari-hari hingga membuat keputusan besar dalam hidup dan memprioritaskan minat, trauma masa kecil dapat merusak kepercayaan diri dan keyakinan mereka pada diri sendiri.
Pelatih pengembangan pribadi Pamela Aloia berpendapat bahwa ada cara untuk membangun kembali kepercayaan diri di masa dewasa, tetapi itu dimulai dengan kesadaran diri. Sebelum dapat belajar menghadapi ketakutan, kita harus mempelajari kecerdasan emosional yang tidak pernah diajarkan saat masih kecil.
9. Takut konfrontasi
Anak-anak yang memiliki orang tua terlalu protektif kesulitan menghadapi konflik. Sebagian karena rasa tidak aman dan sebagian karena cara mereka ditegur oleh orang tua.
Ketakutan akan konfrontasi ini kembali pada kecenderungan anak-anak untuk memiliki keterikatan yang tidak aman. Setiap muncul tanda konflik, hal itu bisa memicu kecemasan dan ledakan emosi, yang pada akhirnya mengganggu stabilitas hubungan.
Demikian 9 ciri kepribadian anak yang dibesarkan orang tua suka mengontrol. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
4 Tipe Kepribadian Anak yang Penting Diketahui Orang Tua
Parenting
Cara Mengetahui Kepribadian dan Masa Depan Anak Sesuai Jam Lahirnya, Mau Coba?
Parenting
Kiat Mengajarkan Rukun Islam pada Anak
Parenting
Jenis Olahraga yang Sesuai dengan Kepribadian Anak
Parenting
Ucapan Positif Orang Tua untuk Ajak Anak Selalu Berbuat Baik
8 Foto
Parenting
Kocak! Ini Perbedaan antara Bunda dan Ayah Saat Mengasuh Anak
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
4 Tipe Kepribadian Anak yang Penting Diketahui Orang Tua
11 Ciri Kepribadian Anak Dibesarkan Orang Tua yang Lebih Banyak Mendengar daripada Bicara
7 Ciri Anak Social Butterfly, Sosok Percaya Diri dan Mudah Bergaul