Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

9 Ciri Anak yang Tumbuh di Keluarga dengan Emosi Tidak Stabil Menurut Psikolog

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Selasa, 03 Nov 2026 13:40 WIB

Ilustrasi Orang Tua dan Anak
9 Ciri Anak yang Tumbuh di Keluarga yang Emosinya Tidak Stabil Menurut Psikolog/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Tomwang112
Daftar Isi
Jakarta -

Keluarga memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian dan perkembangan emosional anak. Lingkungan rumah yang penuh dengan konflik, misalnya, dapat memengaruhi cara anak memahami dan mengelola perasaannya hingga dewasa.

Faktanya, ada orang tua yang terus membiarkan amarah menguasai diri mereka atau yang belum dewasa secara emosional saat menghadapi anak-anaknya. Artinya, mereka biasa menangani situasi sulit dan stres dengan cara yang sangat merugikan bagi anak.

Orang tua seperti ini dapat menciptakan lingkungan yang sangat tidak stabil sehingga anak-anak merasa seperti berjalan di atas 'duri' dan sulit berkembang dengan baik. Orang tua yang membuat anak-anak mereka merasa seperti itu sering disebut sebagai orang tua rapuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Orang tua yang rapuh adalah orang tua yang secara kronis terlibat dalam suasana hati, emosi, dan/atau perilaku yang kacau, beracun, tidak dewasa dan/atau tidak aman, tidak konsisten, dan tidak dapat diprediksi," kata psikologis klinis Dr. Kim Sage, PsyD, MA, dilansir Parade.

Sementara menurut psikolog klinis, ahli trauma, dan penulis buku Post-Traumatic Parenting: Break the Cycle and Become the Parent You Always Wanted to Be, Dr. Robyn Koslowitz, orang tua yang sensitif bisa membuat anak merasa bertanggung jawab untuk emosi tersebut.

"Dinamika yang tepat dalam keluarga yang sehat mencakup orang tua yang berperan sebagai 'wadah emosional' bagi anaknya. Ini termasuk membantu anak mengatur emosi dengan menenangkan. Tetapi dalam situasi di mana ada orang tua yang rapuh, peran tersebut terbalik," ujar Koslowitz.

Tanda anak dibesarkan oleh orang tua yang rapuh

Berikut beberapa tanda anak yang tumbuh dalam keluarga dengan emosi tidak stabil menurut psikolog:

1. Perilaku suka menyenangkan orang lain (menjilat)

Perilaku suka menyenangkan orang lain atau menjilat bisa berasal dari trauma masa kecil, Bunda. Saat kecil, anak-anak ini mungkin dibesarkan oleh orang tua yang terlalu berhati-hati dan tidak sabaran.

"Jika menenangkan seseorang adalah cara aga tetap aman, oran-orang ini akan tumbuh dengan berpikir bahwa menyenangkan orang lain adalah bentuk cinta. Mereka menjadi sangat pandai membaca orang dan sangat buruk dalam menyatakan kebutuhan," kata Koslowitz.

2. Fobia emosi

Jika seseorang dibesarkan oleh orang tua yang mudah marah karena ketidaknyamanan atau emosi sekecil apa pun yang bukan milik mereka, maka kemungkinan besar orang ini belajar untuk menekan perasaannya dan tidak membagikannya, terutama jika perasaan itu negatif. Kebiasaan menekankan emosi tersebut dapat mengikuti seseorang hingga dewasa.

"Ketika emosi memicu kemarahan orang tua, anak akan belajar bahwa emosi itu berbahaya. Anak mungkin takut akan kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan pada diri sendiri, karena perasaan itu merugikannya," ungkap Koslowitz.

3. Terlalu baik dalam merawat orang lain, sementara mengabaikan kebutuhan sendiri

Anak-anak yang memiliki orang tua terlalu protektif sangat pandai merawat orang lain. Namun, pada saat yang sama, mereka rela untuk mengabaikan kebutuhannya sendiri.

"Anak-anak yang sensitif diajarkan untuk mengalihkan rasa aman mereka sendiri, yang hanya dapat dialami ketika orang lain bahagia, baik-baik saja, puas, stabil secara emosional, dan sebagainya," ujar Sage.

"Kita tidak dapat memenuhi kebutuhan kita sendiri pada saat yang bersamaan, jadi kita berhenti belajar bagaimana mengidentifikasi apa yang kita rasakan, menghargai atau memvalidasi apa yang kita rasakan atau butuhkan, dan sebagainya. Kita belajar bahwa kita tidak penting. Merawat orang lain membuat kita penting, itu membuat kita merasa berharga, dilihat, dan divalidasi."

4. Terlalu banyak menjelaskan dan mengulang-ulang percakapan secara kronis

Anak yang dibesarkan di lingkungan dengan emosi tidak stabil juga bisa mengembangkan kebiasaan menjelaskan secara berlebihan. Mereka suka mengulang-ulang percakapan untuk mendapatkan validasi.

"Orang dewasa yang dibesarkan dengan cara ini sering kali membela perasaan mereka terlebih dahulu karena reaksi orang tua yang tidak dapat diprediksi," ujar Koslowitz.

5. Lebih suka mengisolasi diri

Anak yang tinggal dengan orang tua rapuh cenderung lebih suka mengisolasi diri atau menyendiri. Mereka melakukannya untuk mendapatkan rasa merasa aman dan rileks, atau enggan berurusan dengan orang lain.

"Sama seperti di masa kanak-kanak, jika kita menyendiri di suatu tempat, itu satu-satunya saat di mana sistem saraf dan tubuh kita merasa aman dan rileks. Saat itu, tidak ada orang di sekitar yang harus kita waspadai secara berlebihan untuk mengantisipasi ancaman. Kita merasa paling aman ketika kita sendirian," kata Sage.

6. Merasa seperti 'terlalu berlebihan' atau 'menjadi beban,' dan kesulitan mengendalikan emosi

Masuk akal jika anak yang terus-menerus disalahkan atas ledakan emosi dari orang tua mungkin mulai merasa menjadi beban. Mereka merasa sebagai sumber masalah, padahal sebenarnya tidak.

"Jika perasaan itu memicu reaksi negatif, anak akan menyadari bahwa kebutuhannya adalah masalah. Ia lalu akan mengecilkan masalah, meminta maaf karena keberadaannya, atau merasa bersalah karena menginginkan perawatan," ujar Koslowitz.

7. Perfeksionis

Ketika anak terlalu fokus untuk tidak membuat kesalahan, maka ia akan belajar menjadi seorang perfeksionis. Dalam situasi ini, hal itu tidaklah sehat, Bunda.

"Kita belajar bahwa tidak melakukan sesuatu dengan benar untuk orang tua bisa menyebabkan lebih sedikit ledakan emosi. Hal itu memberi anak-anak yang sensitif harapan palsu bahwa kesempurnaan mungkin bisa membuat orang lain bahagia," ungkap Sage.

8. Kewaspadaan berlebihan terhadap perubahan kecil

Kewaspadaan berlebihan merupakan tanda bahwa seseorang dibesarkan oleh orang tua yang terlalu protektif. Mereka bahkan bisa menjadi lebih waspada terhadap perubahan yang sangat kecil, Bunda.

"Anak akan memperhatikan perubahan kecil dalam suara, ekspresi wajah, langkah kaki, dan keheningan, karena mereka memang harus melakukannya," kata Koslowitz.

Sage juga mengatakan bahwa anak yang waspada terhadap perubahan kecil kemungkinan besar sangat sensitif, empatik, dan responsif terhadap orang lain.

9. Gejala somatik, terutama setelah kontak dengan orang tua

Jika seseorang pernah mengalami trauma, ia tahu tubuhnya akan bereaksi secara tidak sadar sebelum memikirkan sesuatu. Respons somatik tersebut dapat benar-benar muncul pada orang dewasa yang dibesarkan oleh orang tua yang tidak stabil karena otaknya telah terprogram untuk memiliki reaksi tersebut sebagai respons terhadap orang tua yang mudah marah.

Gejala somatik ini terutama dapat terjadi setelah berinteraksi dengan orang tua. Gejala dapat bermanifestasi sebagai sakit kepala, sakit perut, dada terasa sesak, kelelahan dan banyak lagi.

Demikian 9 ciri anak yang tumbuh dari keluarga dengan emosi tak stabil. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda