Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Membuat Anak Merasa Bersalah Meski Tak Salah

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Senin, 02 Nov 2026 16:50 WIB

Anak merasa bersalah
Anak merasa bersalah/ Foto: Getty Images/Simplylove

Orang tua memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak. Kebiasaan yang dilakukan orang tua dapat berpengaruh terhadap tingkah laku anak dalam jangka panjang.

Dalam artikel ini, dibahas kebiasaan orang tua yang dapat menyebabkan anak merasa bersalah, bahkan ketika anak tidak bersalah sekali pun. Yuk, Bunda, simak informasi selengkapnya.

Kebiasaan orang tua ini bisa membuat anak merasa bersalah

Kebiasaan orang tua yang bisa membuat anak merasa bersalah dapat dilihat dari sikap orang tua saat berbuat salah. Umumnya ketika melakukan kesalahan, orang tua akan meminta maaf kepada anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Namun, dalam beberapa kasus, terdapat orang tua yang enggan meminta maaf. Mereka cenderung berteriak marah atau menuduh balik, alih-alih mengakui kesalahannya. Sehingga, pada akhirnya sang anak yang meminta maaf.

Hal ini mungkin dapat melindungi ego orang tua. Akan tetapi, kebiasaan orang tua tidak mengaku salah dapat membuat anak berpikir ketika terjadi masalah, ialah yang harus mengatasinya.

Psikolog Remaja Janet Sasson Edgette dalam artikelnya yang berjudul Why It's So Hard for Parents to Apologize to Their Kids memaparkan alasan mengapa ada orang tua yang sulit meminta maaf kepada anaknya.

Ia mencatat bahwa banyak orang tua enggan mengucapkan maaf karena merasa itu berarti kalah, bukan memberi. Meminta maaf terasa seperti menyerah. Sehingga mereka memilih untuk tidak mengutarakan maafnya.

Namun, dari sudut pandang anak, kebiasaan orang tua tersebut akan terbentuk pemikiran bahwa harga diri orang dewasa lebih penting daripada perasaannya. Pola kebiasaan enggan meminta maaf ini dapat membuat anak tidak lagi mengharapkan permintaan maaf.

Akibatnya, anak terjebak dalam dua pilihan. Mempertahankan pendiriannya namun hidup dalam konflik atau mulai berasumsi dialah yang bersalah.

Sayangnya, sebagian anak lebih memilih pilihan kedua. Mereka lebih memilih menjaga hubungan daripada memenangkan perdebatan. Sehingga, mulai timbul keraguan dalam dirinya. Suara-suara ketidakyakinan seperti “Mungkin aku bereaksi berlebihan”  atau “Mungkin seharusnya aku tidak mengatakan apa pun” jadi sering menggema.

Dalam jangka panjang, dampak kebiasaan orang tua yang enggan meminta maaf  ini dapat berpengaruh pada anak di luar lingkungan rumah. Anak bisa saja menerima pendapat guru yang sebenarnya tahu bahwa pernyataan tersebut salah.

Contoh lainnya, anak dengan cepat mengubah pendapatnya karena ada temannya yang tidak setuju. Anak dapat lebih percaya pendapat orang lain. Sementara pendapat diri sendiri tidak terlalu ia yakini.

Dikutip laman Bolde, dampak kebiasaan orang tua yang satu ini tidak langsung membuat anak terlihat tidak percaya diri. Luka anak akibat pola ini tidak dapat dilihat secara kasatmata.

Banyak anak yang mengalami ini tampak baik-baik saja. Mereka berprestasi di sekolah, menjaga pertemanan tetap stabil, dan menghindari masalah.

Masalahnya, akibat perkara ini, anak dapat sulit mempercayai sinyal internalnya. Sinyal internal berkaitan dengan kemampuan diri untuk lebih waspada tentang sesuatu yang tidak beres. Sinyal ini membantu seseorang dalam menetapkan batasan dan sadar, ketika ia sedang tidak diperlakukan adil. Terkadang, sinyal itu dapat tidak berfungsi baik apabila seseorang selalu mengabaikannya.

Mengutip laman Psychology Today, Psikoterapis Imi Lo berpendapat tentang penyebab anak menyalahkan diri sendiri saat masa kanak-kanak. Ia menggambarkan pola tersebut sebagai bentuk kendali.

Kalau anak berpikir "aku yang salah", ia merasa masih bisa memperbaiki keadaan. Sebaliknya, kalau ia sadar bahwa orang tua yang bermasalah, ia akan merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu, bagi anak, menyalahkan diri sendiri terasa lebih bisa ditanggung.

Anak mungkin tidak sadar sedang melakukan itu. Ia hanya melihat bahwa setiap kali ia minta maaf, suasana rumah membaik. Sehingga, ia menilai hal itu sebagai cara yang berhasil. Akhirnya rasa bersalah tidak lagi sekadar perasaan, tetapi menjadi cara untuk mengembalikan kedekatan dengan orang tua.

Anak tidak hanya belajar menerima kesalahan. Namun, ia juga belajar bahwa saat orang yang ia sayangi sedang kesal, meminta maaf jadi cara untuk menunjukkan sayang, terlepas ia salah atau tidak.

Pola kebiasaan enggan meminta maaf ini berisiko membuat anak mudah mentolerir hal-hal yang seharusnya tidak bisa ditolerir, menempatkan mereka di situasi yang merugikan diri sendiri, serta salah mengartikan beban yang ia pikul sebagai bentuk kepedulian, padahal itu tanda sesuatu yang tidak beres.

Dari semua dampak yang bisa saja dialami anak akibat kebiasaan orang tua tidak mau mengakui kesalahan, penyelesaian yang dibutuhkan anak adalah pengakuan orang tua atas kesalahannya.

Anak perlu melihat bahwa orang tua bisa mengaku salah, dan kasih sayang di antara mereka tetap ada setelahnya. 

Permintaan maaf dari orang tua tidak hanya menyelesaikan satu kejadian. Anak juga belajar bahwa konflik tidak harus mencari siapa yang bersalah, dan dekat dengan seseorang tidak berarti ada salah satu harus mengalah. 

Ada kalanya hal terbaik untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak adalah menunjukkan bahwa orang dewasa bisa salah, dan hubungan mereka tetap baik-baik saja keesokan harinya.

Itulah penjelasan tentang kebiasaan orang tua yang dapat membuat anak merasa bersalah, sekali pun anak tidak salah. Kebiasaan ini dapat berpengaruh hingga anak dewasa, ia bisa saja selalu menganggap dirinya bersalah demi menjaga hubungan. Pengakuan bahwa anak bisa benar dan orang tua salah dalam situasi tertentu, serta anak tetap mendapat cinta menjadi solusi yang diperlukan anak.

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda