parenting
3 Psikolog Ungkap Cara Terbaik Menyambut Anak Sepulang Sekolah
HaiBunda
Senin, 02 Nov 2026 14:15 WIB
Daftar Isi
Momen anak pulang sekolah menjadi salah satu waktu penting bagi orang tua untuk membangun kedekatan emosional. Setelah menjalani berbagai aktivitas di sekolah, anak mungkin merasa lelah, lapar, senang, atau justru menghadapi pengalaman yang kurang menyenangkan.
Ya, bagi sebagian anak, aktivitas di sekolah dapat mengubah mereka menjadi anak yang baik untuk mengikuti aturan. Namun begitu sampai di rumah, anak bisa berubah menjadi 'tidak penurut' hingga mudah tantrum. Psikolog anak menyambut pengalaman tersebut sebagai 'kegagalan pasca-pengekangan'.
"Konsep 'keruntuhan pengendalian diri pasca-sekolah' adalah gagasan bahwa beberapa anak mampu mengendalikan diri sepanjang hari sekolah dengan mengikuti aturan, mengelola emosi, menghadapi situasi sosial, memperhatikan pelajaran, dan secara umum memenuhi harapan. Kemudian, mereka melepaskan semuanya begitu sampai di rumah," kata psikolog klinis, Dr. Holly Schiff, Psy.D., dilansir laman Parade.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi orang tua, kondisi tersebut mungkin terasa sedikit tidak adil. Mengapa anak bisa berperilaku sangat baik di kelas, lalu berubah jadi 'tak terkendali' ketika sampai di rumah?
"Rumah sering kali menjadi tempat anak merasa paling aman, jadi emosi yang dipendam sepanjang hari dapat keluar, misalnya anak menjadi mudah tersinggung, menangis, bertengkar, atau bahkan mengamuk," ungkap Schiff.
"Bukan berarti anak tersebut 'berperilaku lebih buruk' di rumah. Mereka mungkin hanya kehabisan kapasitas emosional dan mental," sambungnya.
Perubahan emosi anak tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan mengubah rutinitas. Ada beberapa cara menyambut anak dari sekolah yang bisa membuat Si Kecil tetap bersikap 'baik' di rumah. Simak penjelasannya berikut ini ya!
Cara terbaik menyambut anak sepulang sekolah
Berikut beberapa cara terbaik untuk menyambut anak sepulang sekolah agar terhindar dari tantrum atau perilaku tidak baik, menurut 3 psikolog:
1. Memberi anak-anak waktu istirahat
Menurut para psikolog, anak-anak sebenarnya mampu mengendalikan diri sepanjang hari dan mengatasi tekanan akademis, emosional, dan sosial. Mereka bisa mencapainya bila diberikan waktu istirahat setelah sekolah.
"Sistem saraf mereka membutuhkan waktu untuk tenang sebelum terjun ke aktivitas berikutnya," ujar psikolog Caitlin Slavens, BAACS, MC, R Psych.
Waktu istirahat ini disebut juga fase 'dekompresi' setelah sekolah. Psikolog klinis Dr. Amy Kincaid Todey, Ph.D., membandingkan dekompresi dengan 'landasan pacu' antara sekolah dan rumah.
"Anak-anak sudah tampil sepanjang hari. Dekompresi memberi mereka waktu di mana mereka tidak harus segera menghasilkan sesuatu yang lain," kata Todey.
Jika tidak diberikan waktu istirahat atau dekompresi, anak bisa mengalami krisis emosional pasca-sekolah. Menurut Todey, ada beberapa cara terbaik dekompresi atau meredakan stres, seperti mengonsumsi camilan favorit, membaca, menggambar, bermain LEGO, bermain di luar rumah, atau mendengarkan musik.
"Perlu diingat bahwa ini merupakan istirahat yang dapat diprediksi dari tuntutan. Anak-anak umumnya akan lebih baik jika mereka tahu, 'Saya bisa pulang, makan camilan, dan punya waktu untuk diri sendiri sebelum melanjutkan ke kegiatan berikutnya'," ujar Schiff.
2. Biarkan anak memilih untuk bermain atau mengerjakan PR sepulang sekolah
Jangan memaksa anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) sepulang sekolah. Bila ia ingin bermain terlebih dulu, Bunda perlu memberikan waktu. Slavens mengatakan bahwa sebagian besar anak mendapat manfaat dari bermain sebelum mengerjakan PR.
"Sangat berat untuk beralih dari enam atau tujuh jam di sekolah ke aktivitas duduk dan tuntutan kinerja yang lebih tinggi (seperti mengerjakan PR), terutama ketika anak masih kecil atau memiliki ADHD, kecemasan, sensitivitas sensorik, atau kesulitan belajar," ungkapnya.
Tidak semua anak memilih bermain usai pulang sekolah. Ada juga anak-anak yang lebih suka mengerjakan PR terlebih dahulu.
"Anak-anak lain lebih suka menyelesaikan tugas rumah yang singkat karena mengetahui bahwa tugas itu akan terus menghantui mereka dan menimbulkan lebih banyak stres," kata Todey.
"Prinsipnya sama, istirahat sebelum tuntutan yang tidak perlu, tetapi tetap memberikan cukup kepastian agar sore hari tidak menjadi kacau."
Hal yang sama juga diungkap Schiff. Ia merekomendasikan orang tua tetap menerapkan batasan terkait periode dekompresi.
"Lamanya waktu istirahat itu penting. Istirahat 20-30 menit sangat berbeda dengan bermain tanpa batas waktu yang membuat mengerjakan PR semakin sulit. Keseimbangan yang tepat juga bergantung pada usia anak, temperamen, beban kerja, dan jam berapa mereka pulang," katanya.
Pentingnya orang tua membuat jadwal kegiatan sepulang sekolah
Menyambut anak sepulang sekolah dengan baik memang penting untuk menjaga mood-nya. Namun, Bunda juga perlu membuat jadwal rutinitas kegiatan anak untuk mengingatkan diri sendiri betapa pentingnya waktu ini bagi anak. Jadwal ini sebaiknya telah disetujui oleh psikolog anak.
Nah, berikut contoh jadwal kegiatan sepulang sekolah yang bisa diterapkan ke anak:
- Selama 5 hingga 20 menit pertama setelah sampai di rumah: Bunda dapat menawarkan camilan kepada anak dan hindari tuntutan yang berlebihan. Biarkan mereka minum, makan sesuatu, dan bersiap untuk melakukan aktivitas selanjutnya tanpa terbebani.
- Selama 20 hingga 30 menit berikutnya: Lakukan aktivitas relaksasi ringan, seperti berada di luar ruangan, menggambar, mendengarkan musik, bermain LEGO, bergerak, atau berbaring.
- Selama 20 hingga 40 menit berikutnya: Si Kecil dapat mengerjakan PR atau tugas lain di meja.
- Waktu luang/pilihan anak: Setelah PR selesai, anak-anak dapat diberi waktu luang untuk menghabiskan waktu sesuai keinginan mereka (dalam batasan keluarga).
- Aktivitas malam hari: rutinitas ini dapat berupa makan malam bersama keluarga dan membuat rutinitas sebelum tidur.
Demikian beberapa cara menyambut anak sepulang sekolah menurut psikolog. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Tontonan Baru! Serial Puppet Show DOMIKADO, Hiburan Edukatif & Fun untuk Anak
Parenting
Cara Sederhana Mengajari Si Kecil Menghitung Skala Peta
Parenting
10 Alat Musik Harmonis yang Bisa Bunda Kenalkan pada Anak
Parenting
Kurikulum 2022 Bakal Diganti, Lebih Fleksibel Bun
Parenting
6 Metode yang Dapat Digunakan untuk Menyelesaikan Rubik 3x3
7 Foto
Parenting
7 Potret Anak Artis Jago Olahraga Sejak Kecil, Salah Satunya Putra Sandra Dewi
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Rutinitas Sepulang Sekolah agar Anak Bahagia dan Pintar
Jangan Ucap "Gimana Tadi di Sekolah?" saat Anak Pulang Sekolah, Ini Kata Pengganti Terbaiknya Menurut Pakar
4 Cara Mengajarkan Anak Kenali Emosi & Berani Menghadapinya