Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Selalu Jadi Anak Paling Dewasa dan Penurut Sejak Kecil, Psikolog Ungkap Dampaknya saat Besar

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Minggu, 01 Nov 2026 13:10 WIB

Parentifikasi
Anak selalu bersikap dewasa dan penurut sejak kecil/ Foto: Getty Images/iStockphoto/praetorianphoto
Daftar Isi

Setiap orang tua tentu senang memiliki Anak Penurut yang mudah diarahkan dan tidak banyak membuat masalah. Sejak kecil, anak yang selalu bersikap tenang, mandiri, dan bisa diandalkan sering kali dianggap lebih dewasa dibandingkan teman seusianya.

Bahkan, mereka kerap mendapat pujian karena mampu memahami keadaan orang lain dan jarang merepotkan orang tua. Namun, di balik sikap tersebut, ada hal yang perlu Bunda perhatikan.

Anak Dewasa yang terlalu cepat mengambil tanggung jawab dan terbiasa mengesampingkan kebutuhannya sendiri berisiko kehilangan kesempatan menikmati masa kecil. Kebiasaan ini juga dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam bersosialisasi ketika tumbuh besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lantas, apa saja dampak yang mungkin muncul? Yuk, Bunda, simak penjelasannya dalam artikel di bawah ini.

Dampak anak yang terlalu dewasa dan penurut sejak kecil saat besar

Melansir dari laman Yahoo Life, anak yang sejak kecil dikenal paling dewasa, penurut, dan tidak pernah merepotkan orang lain berpotensi mengalami tantangan tertentu ketika memasuki usia dewasa.

Fenomena ini berkaitan dengan istilah parentification, yaitu kondisi ketika anak mengambil peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua, baik dalam bentuk merawat secara fisik maupun memberikan dukungan emosional.

Psikolog klinis dan forensik, Ahona Guha, menjelaskan bahwa anak yang mengalami parentification sering kali dipuji karena dianggap bijaksana dan lebih matang dibandingkan usianya. Padahal, mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk menjalani pengalaman masa kecil, seperti bermain, belajar, dan membangun persahabatan dengan teman sebaya.

Sementara itu, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Annie Wright, mengungkapkan  bahwa anak yang mengalami parentification cenderung belajar sejak dini bahwa kebutuhan dan keinginan mereka tidak sepenting kebutuhan orang-orang yang merawatnya.

Meski tidak semua anak yang terlihat dewasa mengalami parentification, kebiasaan selalu menjadi anak yang mudah diatur, berguna, dan tidak banyak menuntut dapat terbawa hingga dewasa.

1. Kesulitan menikmati momen santai dan bermain bersama orang lain

Anak yang sejak kecil terbiasa menjadi sosok paling dewasa mungkin kesulitan menikmati aktivitas yang tidak memiliki tujuan atau tanggung jawab tertentu ketika sudah besar.

Misalnya, saat menghadiri pesta atau acara bersama teman, mereka cenderung mengambil peran sebagai orang yang membantu tuan rumah, merapikan barang, atau memastikan semua orang merasa nyaman.

Namun, ketika diminta ikut bermain, menari, atau melakukan hal-hal spontan bersama kelompok, mereka justru merasa canggung dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Hal ini bisa terjadi karena masa kecil mereka lebih banyak diisi dengan tanggung jawab dibandingkan kesempatan bermain bebas bersama teman sebaya.

Psikolog Peter Gray dari Boston College, pernah menjelaskan dalam makalahnya yang diterbitkan di American Journal of Play pada 2011 bahwa permainan bebas bersama anak-anak lain merupakan salah satu cara utama anak belajar membangun persahabatan, berinteraksi secara setara, dan mengatur emosi.

Melalui permainan, anak juga belajar memahami situasi sosial, membaca respons orang lain, serta menyesuaikan perilakunya ketika bermain dalam kelompok.

2. Merasa canggung dalam situasi sosial yang tidak terduga

Dampak lainnya adalah kesulitan menghadapi situasi sosial yang berlangsung spontan dan tidak memiliki aturan tertentu.

Anak yang terbiasa menjadi sosok penurut dan bertanggung jawab mungkin merasa nyaman ketika memiliki tugas yang jelas. Mereka bisa berbicara dengan baik dalam percakapan satu lawan satu atau menjalankan tanggung jawab di hadapan banyak orang.

Namun, ketika berada dalam kelompok yang mulai bercanda, melakukan permainan spontan, atau menari bersama, mereka justru merasa tidak nyaman.

Hal ini bukan berarti mereka tidak menyukai orang lain. Mereka mungkin hanya belum terbiasa terlibat dalam interaksi sosial, yang mengharuskan seseorang bersikap santai tanpa memikirkan tanggung jawab.

Dalam laporan Scientific American mengenai penelitian bermain, psikolog pendidikan Anthony Pellegrini menjelaskan bahwa kemampuan sosial anak tidak hanya terbentuk melalui arahan orang dewasa. Anak juga mempelajarinya dengan bernegosiasi dan berinteraksi langsung bersama teman sebaya.

3. Berisiko mengalami kecemasan saat dewasa

Pengalaman menjadi anak yang terlalu cepat mengambil tanggung jawab, juga dapat berkaitan dengan kondisi psikologis ketika seseorang tumbuh dewasa.

Sebuah meta-analisis tahun 2011 yang dipimpin Lisa Hooper menggabungkan hasil dari 12 penelitian dengan hampir 2.500 partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa parentification pada masa kecil berkaitan dengan masalah psikologis saat dewasa, termasuk kecemasan.

4. Tetap Bisa Belajar Menjadi Pribadi yang Lebih Santai

Kabar baiknya, pengalaman masa kecil tersebut bukan berarti seseorang tidak bisa mengembangkan sisi ceria dan spontan ketika dewasa. Psikolog kepribadian René Proyer dan Kay Brauer menjelaskan bahwa sifat suka bermain atau playfulness pada orang dewasa memiliki beberapa bentuk.

Dalam tulisan mereka di Society for Personality and Social Psychology, keduanya membagi sifat tersebut menjadi empat jenis, yaitu other-directed (senang bercanda dengan orang lain), lighthearted (menjalani hidup dengan lebih santai), intellectual (senang bermain dengan ide dan teka-teki), serta whimsical (menyukai hal-hal unik dan tidak biasa).

Penelitian yang melibatkan 211 pasangan tersebut juga menemukan bahwa sifat suka bercanda dengan orang lain dan kesenangan intelektual berkaitan dengan kepuasan hubungan.

Karena itu, orang yang sejak kecil terbiasa menjadi sosok dewasa tidak harus mengubah kepribadiannya secara drastis, untuk bisa menikmati kehidupan sosial.

Mereka dapat mulai membiasakan diri melakukan hal-hal sederhana, seperti bercanda bersama teman dekat, mencoba permainan baru meski belum mahir, atau sesekali membiarkan orang lain mengambil alih tanggung jawab.

Oleh karena itu, Bunda perlu memberikan keseimbangan antara mengajarkan tanggung jawab dan membiarkan anak menikmati masa kecilnya. Berikan mereka ruang untuk bermain, berekspresi, serta menyampaikan keinginan tanpa takut dianggap merepotkan.

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda