parenting
7 Kebiasaan Orang Tua yang Membuat Anak Cerdas dan Tangguh Menurut Psikolog Harvard
HaiBunda
Jumat, 30 Oct 2026 14:55 WIB
Daftar Isi
-
7 Kebiasaan orang tua yang membuat anak cerdas dan tangguh
- 1. Mendukung potensi anak, bukan memaksanya jadi sesuatu
- 2. Sering mengajak anak berbicara dan membaca
- 3. Menjelaskan aktivitasnya, alih-alih orangnya
- 4. Aktif dalam menjelaskan sesuatu
- 5. Bimbing anak saat ia meniru orang dewasa
- 6. Membiarkan anak mengeksplorasi dunianya
- 7. Mengajak anak berinteraksi secara rutin
Otak anak dapat berkembang seiring perkembangan usianya, bahkan sejak kandungan. Dalam proses ini, kebiasaan orang tua dapat berpengaruh pada tahap perkembangan otak anak.
Lisa Feldman Barrett, Ph.D., merupakan peneliti yang telah selama bertahun-tahun menganalisis kebiasaan orang tua yang dapat membantu perkembangan otak anak. Ia merupakan ahli saraf dan psikolog, profesor di Northeastern University, serta memiliki jabatan akademis di Harvard Medical School dan Massachusetts General Hospital. Ia juga menjabat sebagai Kepala Ilmuwan di Center for Law, Brain & Behavior, Harvard University.
7 Kebiasaan orang tua yang membuat anak cerdas dan tangguh
Berikut ini 7 kebiasaan orang tua yang membuat anak cerdas dan tangguh menurut Psikolog Harvard Lisa Feldman Barrett, Ph.D. Cara ini bisa diterapkan dalam memaksimalkan pertumbuhan otak anak, sehingga ia tumbuh jadi anak yang cerdas dan tangguh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Mendukung potensi anak, bukan memaksanya jadi sesuatu
Kebiasaan orang tua yang dapat membentuk karakter anak cerdas dan tangguh adalah dengan mendukung potensi anak, alih-alih memaksanya menjadi seseorang yang diinginkan orang tua.
Barrett menggunakan analogi tukang kayu dan tukang kebun untuk menggambarkan situasi ini. Tukang kayu mengukir kayu sesuai bentuk yang mereka inginkan. Tukang kebun membantu tanaman tumbuh sendiri dengan memelihara lanskap yang subur. Ia berpendapat agar orang tua sebaiknya menjadi seperti tukang kebun.
Kebiasaan orang tua mengarahkan anak seperti tukang kayu bisa saja berhasil. Namun, dalam jangka panjang anak bisa saja tidak menyenangi aktivitas yang ia jalani.
Sementara orang tua dengan pendekatan tukang kebun umumnya lebih fleksibel. Mereka menempatkan anak di berbagai kegiatan untuk melihat minatnya. Setelah anak mengetahui letak minatnya, di sana lah peran orang tua untuk menyediakan lingkungan yang mendorong pertumbuhan yang sehat.
2. Sering mengajak anak berbicara dan membaca
Kebiasaan orang tua mengajak anak berbicara dan membaca memiliki manfaat yang baik dalam pembangunan fondasi saraf anak. Semakin banyak kata yang mereka dengar, semakin besar efeknya. Anak juga dapat memiliki kosakata dan pemahaman bacaan yang lebih banyak.
Dalam penelitian berjudul Linking Language and Cognitionin Infancy tahun 2018, kebiasaan orang tua mengajak anak berbicara dan membaca baik dilakukan ketika Si Kecil baru berusia beberapa bulan. Meskipun ia belum memahami makna kata-kata, otak anak akan tetap meresponnya.
Orang tua juga dapat mengajarkan anak kata-kata yang berkaitan dengan emosi, seperti bahagia dan sedih. Sehingga, Semakin banyak kata yang mereka kenal, semakin luwes mereka dalam menyikapi perasaannya.
3. Menjelaskan aktivitasnya, alih-alih orangnya
Ketika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, orang tua sebaiknya tidak langsung melabelinya sebagai anak nakal. Namun, bisa jelaskan situasi seperti apa yang dilarang dilakukan anak. Sehingga ia paham tindakan seperti apa yang seharusnya tidak boleh ia lakukan.
Barret memberi contoh ketika anak menampar kepala saudara perempuannya, alih-alih menyebut “anak nakal” Akan lebih baik jika orang tua menjelaskan. "Berhenti memukul saudara perempuanmu. Itu menyakitinya dan membuatnya merasa kesal. Katakan padanya kamu minta maaf."
Hal ini juga berlaku ketika anak melakukan sesuatu yang baik. Dibanding memberi pujian “anak baik“, orang tua bisa memberi komentar atas tindakannya. "Kamu membuat pilihan yang baik dengan tidak membalas dengan menghajar saudaramu."
Jenis kata-kata ini akan membantu otak anak dalam membangun konsep yang lebih berguna tentang tindakannya dan dirinya sendiri.
Barret juga memberi studi kasus lain. Ketika sedang menggambarkan karakter dalam buku cerita, kemudian ada tokoh yang tidak mengatakan keadaan yang sebenarnya, daripada berkata "Sam itu pembohong," yang berkaitan dengan orangnya.
Orang tua dapat memberi keterangan lebih lanjut. "Menurutmu kenapa Sam melakukan itu? Bagaimana perasaan orang lain jika mereka mengetahuinya? Haruskah mereka memaafkan Sam?"
Dengan demikian, anak akan lebih fleksibel dalam bersikap di situasi nyata. Orang tua dapat memberi pemahaman bahwa Sam ini tidak jujur, tetapi ia berbohong dalam situasi tertentu. Apabila ada situasi lain, mungkin saja ia akan bersikap lebih jujur.
4. Aktif dalam menjelaskan sesuatu
Anak-anak umumnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Pertanyaan “Kenapa?” mungkin sering didengar oleh sebagian orang tua.
Akan lebih baik apabila orang tua menghindari berkata ”Karena memang sudah dari sananya seperti itu” atau “Karena Bunda/Ayah bilang begitu.” ketika anak bertanya “Kenapa?”
Sebagai contoh, dibanding anak hanya tahu bahwa ia tidak boleh makan semua kue karena ada orang yang melarangnya dan ia akan mendapat masalah, akan lebih baik anak diberi pengertian. Misalnya, ia tidak boleh makan semua kue karena ia akan sakit perut. Selain itu, saudaranya akan kecewa jika tidak kebagian kue.
Hal ini dapat membantu anak dalam memahami konsekuensi dari tindakan mereka, sekaligus menumbuhkan empati. Selain itu, nak-anak yang memahami alasan untuk berperilaku, dapat mengatur tindakan mereka dengan lebih efektif.
5. Bimbing anak saat ia meniru orang dewasa
Anak-anak secara alami meniru perilaku dan rutinitas yang dilakukan orang dewasa. Apabila ini terjadi, orang tua dapat mengajarkan anak untuk belajar untuk dapat menguasai sesuatu.
Misalnya, ketika orang tua melakukan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah atau mencabut rumput liar, orang tua dapat memberi anak sapu mini atau sekop taman. Dengan demikian, anak dapat melakukan peniruan.
Karena anak-anak merupakan peniru yang baik, orang tua juga perlu memperhatikan hal ini. Ia bisa saja meniru kebiasaan orang dewasa, baik itu kebiasaan baik maupun buruk.
6. Membiarkan anak mengeksplorasi dunianya
Ada kalanya anak-anak suka mencoba sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya. Meskipun terkadang mereka melakukan hal yang tampak seperti kekacauan, tetapi ini bisa jadi upaya anak memahami dampak dari yang ia lakukan.
Dalam menyikapi hal ini, orang tua perlu tahu kapan harus membiarkan anak dan kapan harus turun tangan. Terkadang membiarkan mereka berjuang membangun ketahanan dan membantu mereka memahami konsekuensi dari tindakan mereka.
7. Mengajak anak berinteraksi secara rutin
Kebiasaan orang tua mengajak anak bersosialisasi dapat berdampak baik bagi anak. Dalam sebuah penelitian, bayi yang rutin berinteraksi secara rutin dengan penutur bahasa berbeda berpotensi mempertahankan jaringan otak penting yang membantu mereka belajar bahasa lain di masa depan.
Begitu juga, bayi yang sering melihat berbagai macam wajah. Otak anak dapat terbentuk untuk lebih mudah membedakan dan mengingat lebih banyak variasi wajah saat dewasa nanti. Ini mungkin langkah paling sederhana yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua untuk melawan rasisme.
Itu dia, Bunda, kebiasaan orang tua yang berpengaruh dalam pembentukan karakter anak yang cerdas dan tangguh menurut Psikolog Harvard.
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
7 Hal yang Dilakukan Orang Tua Anak Cerdas di Rumah
Parenting
3 Kebiasaan Parenting 'Baik' yang Justru Bikin Anak Sulit Mandiri
Parenting
Terbukti pada 200 Anak, Ini 9 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Memiliki Keterampilan Sosial Hebat
Parenting
7 Kebiasan Orang Tua Membuat Otak Anak Mengecil, Termasuk Memukul & Berteriak
Parenting
7 Kebiasaan Toksik Orang Tua ke Anak, Bisa Berdampak Negatif ke Tumbuh Kembang
7 Foto
Parenting
7 Potret Mischka dan Devon Anak Cerdas Peraih 85 Medali Olimpiade Matematika dan Sains
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
17 Tanda Anak Punya Kecerdasan Tinggi Menurut Mensa, Organisasi untuk Orang IQ Tinggi
Anak Cerdas tapi Sering Menyendiri, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?
7 Kebiasaan yang Dilakukan Anak-anak dengan Kecerdasan Emosi Tinggi