parenting
Keren! Siswa-Siswa SD Islam Al Azhar 8 Kembangan Luncurkan Buku Antologi Cerpen & Komik
HaiBunda
Jumat, 30 Oct 2026 21:25 WIB
Daftar Isi
Bulan Oktober merupakan bulan peringatan Hari Sumpah Pemuda sekaligus Bulan Bahasa dan Sastra. Pada momen ini, SD Islam Al Azhar 8 Kembangan menghadirkan serangkaian kegiatan untuk menumbuhkan minat para siswa terhadap literasi, sekaligus peluncuran buku yang ditulis oleh para siswa sekolah ini.
Diselenggarakan pada Rabu, 28 Oktober 2026, rangkaian Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa diawali dengan upacara peringatan Sumpah Pemuda. Dilanjutkan dengan peluncuran buku hasil karya siswa SD Al Azhar 8 Kembangan. Selain itu, ada pula sesi workshop pembekalan penulisan buku. Kegiatan ini merupakan kesempatan yang diberikan sekolah kepada para siswa agar mereka mengenal tentang penulisan buku.
"Hari ini kita ada dua kegiatan yaitu peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa dan Sastra. Tadi pagi kita awali dengan upacara peringatan Sumpah Pemuda. Kemudian dilanjutkan dengan launching buku yang semua penulisnya itu berasal dari anak-anak SD Islam Al Azhar 8 Kembangan," ucap Enden Daenuri, M. Pd. selaku Kepala SD Islam Al Azhar 8 Kembangan kepada HaiBunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peluncuran 3 buku karya siswa SD Al Azhar 8 Kembangan
Pada peringatan Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa dan Sastra tahun 2026 ini, ada tiga buku karya siswa SD Islam Al Azhar 8 Kembangan yang diterbitkan. Dua buku antologi cerpen berjudul Jejak Imajinasi dan Cerita Kecil Mimpi Besar, serta satu komik bertajuk Robot AI Pertamaku.
Komik Robot AI Pertamaku yang diterbitkan Mizan menghadirkan lima kisah bernuansa fantasi, teknologi, dan persahabatan. Terdapat ilustrasi komik yang mendukung pemahaman alur cerita.
Penerbitan Komik Robot AI Pertamaku merupakan bentuk kerja sama sekolah dengan Penerbit Mizan, melalui seri Kecil Kecil Punya Karya (KKPK). Kecil Kecil Punya Karya telah lama dikenal sebagai media literasi yang rutin meluncurkan novel, kumpulan cerpen, dan komik yang ditulis anak-anak.
Sementara itu, antologi cerpen Cerita Kecil Mimpi Besar yang diterbitkan Exupery Project menyajikan kumpulan kisah tentang cita-cita, perjuangan, prestasi, dan pengalaman. Sementara Jejak Imajinasi penerbit Yayasan Nurummubin berkisah tentang imajinasi, mimpi, dan petualangan.
Ketiga buku yang diluncurkan ini bisa dibaca oleh para siswa. Bagi siswa yang ingin membeli, pihak sekolah juga akan memfasilitasi. Selain itu, salah satu bukunya tersedia di toko buku, sehingga bisa dibaca oleh kalangan yang lebih luas.
Sebagai bentuk kelanjutan, sekolah berencana untuk mengeksplorasi potensi siswa dalam berkarya. Tidak hanya terbatas pada karya fiksi, tetapi juga karya nonfiksi.
“Kami memang masih mengarahkan anak-anak untuk menulis karya fiksi yang pas dengan usia SD. Selain karya fiksi, mungkin selanjutnya anak-anak bisa menulis karya sastra seperti kumpulan puisi atau pantun,” tutur Enden.
SD AL azhar 8 Kembangan/ Foto: Tim HaiBunda |
Proses seleksi penerbitan antologi cerpen dan komik
Di balik peluncuran tiga buku oleh para siswa, ada proses seleksi penerbitan yang cukup panjang, Bunda. Prosesnya dimulai dari pelatihan menulis, lalu anak-anak membuat karya mereka sendiri.
Untuk buku yang diterbitkan sendiri oleh sekolah, seleksi dilakukan oleh tim dari sekolah. Setelah itu, karya yang terpilih diterbitkan lewat penerbit yang menjadi mitra kerja sama sekolah. Untuk buku yang bekerja sama dengan Mizan, hasil tulisan anak-anak diseleksi oleh tim Mizan.
Sebelum penulisan cerpen dilakukan oleh siswa, para guru terlebih dahulu memberikan pembekalan. Pembekalan dimulai pada Agustus 2026 melalui pengenalan penulisan cerpen oleh guru bahasa Indonesia.
Pertama, siswa dikenalkan pengertian cerpen beserta unsur-unsurnya, lalu mempelajari materi dan contoh cerpen. Guru kemudian menjelaskan tokoh, alur, dan akhir cerita.
“Jadi guru harus mengenalkan nih, cerpen itu ada unsurnya apa aja sih? Kamu bisa membuat jadi antagonis, menjadi protagonis, imajinasinya dia keluarkan, dan yang penting ada konflik di situ, karena kalau enggak ada konflik itu nantinya enggak seru," jelas Abdul Aziz, M.Pd., selaku Guru Pendidikan Agama Islam.
Dari tahap ini terjaring sekitar 42 siswa berbakat. Memasuki bulan September, mereka mulai menyusun ide dan menulis cerpen dengan bimbingan intensif guru Bahasa Indonesia selama satu bulan.
Sekolah juga bekerja sama dengan dua penerbit untuk keperluan layout dan desain sampul. Kerja sama juga dilakukan dengan percetakan.
SD AL azhar 8 Kembangan/ Foto: Tim HaiBunda |
Sekolah sediakan workshop menulis untuk siswa
Selain pembekalan menulis yang dilakukan oleh para guru, sekolah juga mengadakan workshop kepenulisan bekerja sama dengan Mizan. Kegiatan workshop ini dihadiri 50 peserta yang terdiri atas perwakilan kelas 3 hingga kelas 6, serta 40 penulis yang sebelumnya terpilih seleksi untuk menerbitkan buku.
“Nah, ada 50 murid yang menjadi garda terdepan dalam penulisan antologi selanjutnya, atau mereka akan menjadi penulis-penulis selanjutnya. Ini kerja sama yang lumayan simbiosis mutualisme dengan Mizan. Diharapkan tidak hanya berakhir pada saat workshop, tapi mereka anak-anak yang setelah workshop ini mendapatkan insight baru dari penerbit Mizan yang sudah terkenal dan bisa menerbitkan sebuah buku. Harapannya tidak antologi lagi, tapi memang sudah buku cerita,” kata Aziz.
Selama workshop dari Mizan berlangsung, seluruh peserta diberi materi perkenalan tentang unsur-unsur cerita. Sebagai bentuk penerapan materi, siswa diberikan selembar kertas untuk praktek secara langsung. Mereka diajak menentukan topik, menentukan tokoh cerita, membuat premis, dan menyusun judul.
Setelah praktek selesai, beberapa perwakilan siswa tampil di depan aula untuk mempresentasikan hasil tulisan. Pada momen yang sama, mereka juga menyampaikan kesan selama kegiatan workshop berlangsung.
SD AL azhar 8 Kembangan/ Foto: Tim HaiBunda |
Tantangan penggunaan AI dalam pembuatan karya
Hal yang paling utama dari penulisan cerpen adalah orisinalitas ide dari para siswa. Di tengah maraknya penggunaan AI, para guru SD Al Azhar ini memiliki siasat untuk mencegah pemanfaatan kecerdasan buatan dalam tulisan anak-anak.
Untuk mencegah penggunaan AI dan menjaga keaslian karya, siswa diminta menulis secara manual dengan kertas dan pena.
"Nah, untuk menyiasati itu, supaya karya ini tetap original, salah satu yang kita upayakan adalah mereka menulis manual atau menulis menggunakan kertas dan penanya,” kata Aziz.
Tulisan itu kemudian disortir oleh para guru dan ditandatangani. Karena sekitar 40 siswa menyetor naskah berbentuk kertas, menyalin semuanya akan memakan waktu lama. Maka setelah ditandatangani, para siswa mengetik ulang karya mereka di Microsoft Word agar menjadi file.
File itu lalu dikirim ke para guru lewat tautan Google Drive. Sehingga, guru bisa memetakan karya berdasarkan kelas dan isi ceritanya.
Melalui kegiatan ini, Aziz berharap siswa dapat mulai mengurangi penggunaan gawai dan membiasakan diri membaca buku.
"Dan ketika kita mulai membaca buku, literasi kita bertambah dan kosakata kita juga bertambah, sehingga tidak hanya cakap dalam dunia berselancar di dunia maya, tetapi mereka bisa kembali kepada fitrahnya yaitu membaca dan mengekspresikannya dalam sebuah bentuk tulisan.”
Kegiatan pembekalan dan penerbitan buku ini mendapat sambutan baik dari orang tua murid. Adanya kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk mengembangkan ide siswa hingga nantinya terbit dalam bentuk buku.
“Terima kasih yang sangat besar kepada pihak sekolah karena telah menyediakan wadah bagi siswa melatih mengembangkan ide, menyusun alur cerita, membangun karakter, memperkaya kosakata, dan menyampaikan pesan moral. Menerbitkan hasil karya mereka menjadi buku dalam bentuk fisik adalah sebuah apresiasi besar bagi proses berkarya mereka, dan menjadi dokumentasi perjalanan kreativitas siswa,” tutur Bunda Anin salah satu orang tua murid.
Sebagai penutup, Enden menyampaikan bahwa sekolah berharap anak-anak memiliki kompetensi yang sesuai dengan usia perkembangannya. Ia ingin menanamkan dasar bahwa menulis dan menuangkan ide itu penting, karena ide yang dituliskan lebih abadi dan bisa dikenal lebih banyak orang.
"Kami ingin membangun satu paradigma kepada anak-anak bahwa ide yang dituliskan, pikiran yang dituliskan itu dapat diwariskan dan itu abadi selama buku itu ada dan dibaca, punya kisah,” tuturnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Haru & Prestasi, Kelulusan Siswa SD Islam Al Azhar 8 Kembangan Jadi Momen Tak Terlupakan
Parenting
Lagu Bangun Pemuda Pemudi: Makna, Lirik, Pencipta, dan Sejarah di Baliknya
Parenting
5 Contoh Doa Upacara Hari Sumpah Pemuda yang Singkat dan Penuh Makna untuk Acara Sekolah
Parenting
Mengenal Si Kembar Adan & Salsa, Hafiz Cilik Juara MHQ Bisa Mengaji Sejak Umur 3 Tahun
Parenting
10 SD Swasta di Jakarta Barat Beserta Biayanya, Uang Pangkal Capai Rp90 Juta
Parenting
5 Fakta tentang Sumpah Pemuda yang Perlu Anak Tahu
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
SD AL azhar 8 Kembangan/ Foto: Tim HaiBunda
SD AL azhar 8 Kembangan/ Foto: Tim HaiBunda
SD AL azhar 8 Kembangan/ Foto: Tim HaiBunda
Gaya Parenting Ibunda Adan & Salsa yang Juara MHQ, Ajarkan Ngaji Sejak Usia 3 Tahun
35 SD Islam Akreditasi Terbaik di DKI Jakarta, Lengkap dengan Alamat dan Biaya
Anak SD Wajib Belajar Bahasa Inggris Mulai 2027/2028, Ini Aturan Barunya