parenting
9 Ciri Orang Tua Terapkan Tiger Parenting pada Anak, Bunda Termasuk?
HaiBunda
Selasa, 03 Nov 2026 21:30 WIB
Daftar Isi
- Apa itu tiger parenting?
-
Ciri-ciri tiger parenting
- 1. Punya aturan sangat ketat
- 2. Ekspektasi tinggi
- 3. Jadi otoritas tertinggi
- 4. Anak jadi kurang mandiri
- 5. Kesuksesan anak diukur berdasarkan pencapaian
- 6. Cemas saat anak tidak unggul dalam hal prestasi
- 7. Hanya fokus pada pemikiran sendiri
- 8. Kurang memperhatikan keinginan anak
- 9. Jarang mengobrol santai dengan anak
- Bagaimana tiger parenting memengaruhi kesehatan mental anak?
- Cara menghindari pola asuh tiger parentingÂ
Pola asuh tiger parenting merupakan gaya pengasuhan yang sangat ketat dan mengutamakan keberhasilan akademis di atas segalanya. Seperti apa ciri-ciri orang tua yang menerapkan tiger parenting?
Meski anak dari orang tua tiger parenting berpotensi meraih prestasi akademis yang baik, sering kali ini justru dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental mereka.
Alasannya, pola asuh yang demikian terasa membatasi kemandirian dan meningkatkan stres bagi kehidupan anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu tiger parenting?
Menurut psikolog klinis di Amerika Serikat Michelle Chung, PsyD, tiger parenting merupakan gaya pengasuhan yang ketat dan melibatkan orang tua secara intensif dalam kehidupan anak.
"Orang tua yang menerapkan tiger parenting merasa bahwa peran mereka adalah mempersiapkan anak menghadapi dunia nyata," jelas penulis buku Free To Fly: The Secret To Fostering Independence In The Next Generation, Nicole Runyon, LMSW, dikutip dari Parents.
Hal ini dianggap sebagai cara untuk mengajarkan anak tentang dunia dalam lingkungan yang aman melalui hubungan antara orang tua dan anak. Dalam pola asuh ini, disiplin sering kali dianggap sebagai bentuk kasih sayang.
Biasanya, orang tua yang menerapkan pola asuh ini juga memiliki ekspektasi tinggi dan banyak menuntut anak, sementara kesempatan anak untuk menyampaikan pendapat atau terlibat dalam pengambilan keputusan cenderung terbatas.
"Orang tua biasanya berfokus pada kesuksesan dan pencapaian, sementara kreativitas, emosi, dan kebebasan anak untuk mengekspresikan diri kurang mendapat perhatian," ujar Chung.
Fokus orang tua adalah masa depan anak. Menurut tipe pola asuh ini, jika anak belajar disiplin, tangguh, dan membangun kebiasaan kerja yang baik sejak dini, mereka akan mampu menghadapi tantangan apa pun dalam hidupnya kelak.Â
Ciri-ciri tiger parenting
Orang tua dengan tipe tiger parenting secara umum menerapkan aturan yang ketat dan memiliki kendali penuh terhadap kehidupan anak.Â
Komunikasi antara orang tua dan anak sering kali jadi sangat terbatas, termasuk yang menyangkut tentang hobi atau minat anak.
Berikut beberapa contoh ciri-ciri orang tua menerapkan tiger parenting:
1. Punya aturan sangat ketat
Orang tua yang menerapkan tiger parenting secara umum menekankan pentingnya kerja keras. Mereka juga punya aturan ketat, termasuk soal kegiatan sehari-hari anak.
Anak mungkin tidak boleh mengikuti kegiatan yang dianggap tak berhubungan dengan kebutuhan akademis. Misalnya seperti melarang anak menghadiri pesta ulang tahun temannya, karena dianggap dapat mengalihkan perhatian mereka dari target akademis.
2. Ekspektasi tinggi
Orang tua tiger parenting juga ingin anak mereka selalu unggul, lalu memberikan upaya terbaik dalam segala hal yang mereka lakukan. Jika gagal, anak dapat ditegur atau dimarahi karena dianggap telah mempermalukan keluarga.
Untuk memenuhi ekspektasi yang tinggi tersebut, anak diatur untuk menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengerjakan tugas sekolah, belajar, dan mengikuti kegiatan akademis lainnya.Â
3. Jadi otoritas tertinggi
Pada pola asuh tiger parenting, mereka menempatkan diri sebagai pihak yang memiliki otoritas tertinggi. Anak diharapkan selalu menghormati mereka dan tidak diperbolehkan membantah orang yang lebih tua, atau bahkan sekadar mempertanyakan pendapat mereka.
Jika anak tidak setuju, orang tua dapat mendisiplinkan mereka melalui ancaman emosional dan/atau hukuman fisik.
4. Anak jadi kurang mandiri
Orang tua dengan pola asuh tiger parenting juga memegang kendali penuh atas kehidupan anak. Mereka dibesarkan dengan kebiasaan mengambil keputusan berdasarkan persetujuan orang tua.
Akibatnya, kemampuan mengatur diri sendiri (self-regulation) dan berpikir mandiri tidak menjadi prioritas dalam pola asuh ini.
Orang tua juga cenderung kurang sabar atau tidak memiliki keinginan untuk memahami kepribadian, pemikiran, perasaan, dan sudut pandang anak.
5. Kesuksesan anak diukur berdasarkan pencapaian
Ciri orang tua menerapkan tiger parenting pada anak berikutnya yakni mendefinisikan kesuksesan berdasarkan status sosial atau capaian akademis.
Oleh sebab itu, mereka berharap anak bisa memiliki nilai akademis yang baik, selalu unggul dan memenangkan berbagai kompetisi.Â
Sementara itu, kecerdasan emosional, kemampuan berpikir kritis, kemandirian dalam menentukan pilihan, dan keterampilan interpersonal lainnya tidak dianggap sebagai hal yang penting.
6. Cemas saat anak tidak unggul dalam hal prestasi
Orang tua tiger parenting cenderung memiliki standar keberhasilan yang sangat tinggi dan berharap anak selalu unggul, baik dalam bidang akademik maupun kegiatan lainnya.Â
Ketika anak tidak mendapatkan nilai tertinggi atau gagal memenangkan lomba, orang tua mungkin merasa khawatir, kecewa, atau menganggap anak belum berusaha cukup keras.
7. Hanya fokus pada pemikiran sendiri
Dalam pola asuh tiger parenting, orang tua meyakini bahwa mereka mengetahui apa yang terbaik bagi masa depan anak.Â
Hal ini bisa membuat orang tua selalu memilihkan apa pun terkait kehidupan anak. Misalnya pilihan mengenai pendidikan, kegiatan ekstrakurikuler, sampai cara anak menghabiskan waktu luang.
Mereka juga cenderung tidak mempertimbangkan minat dan kemampuan anak secara memadai.
8. Kurang memperhatikan keinginan anak
Hanya fokus pada capaian akademis terkadang membuat orang tua dengan tiger parenting mengabaikan emosi, minat, dan kebutuhan anak.
Anak dituntut untuk terus belajar atau berlatih, tanpa cukup diberi kesempatan untuk mengungkapkan rasa lelah atau bahkan keinginannya sendiri.
9. Jarang mengobrol santai dengan anak
Dalam pola asuh ini, orang tua cenderung menetapkan aturan dan target secara sepihak, lalu meminta anak untuk mematuhinya.Â
Alih-alih berdiskusi dan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, orang tua lebih sering menggunakan instruksi, tuntutan, atau hukuman untuk memastikan anak mengikuti keinginan mereka.
Bagaimana tiger parenting memengaruhi kesehatan mental anak?
Dikutip dari Very Well Mind, anak yang tumbuh dengan orang tua yang menerapkan tiger parenting cenderung kurang diperhatikan tanpa syarat.Â
Hal ini karena orang tua menerapkan aturan yang terlalu ketat, serta sering kali mengandalkan hukuman jika anak tak mencapai target.
Lama-kelamaan pengasuhan yang demikian dapat memengaruhi dan bahkan merusak kesehatan mental anak, termasuk membuat mereka menjadi:
- Punya risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, harga diri rendah, dan depresi.
- Kesulitan mengambil keputusan secara mandiri.
- Kesulitan membangun hubungan dekat dengan orang lain dan mengandalkan kemampuan diri sendiri.
- Takut melakukan kesalahan karena tidak ingin mengecewakan orang tua.
Cara menghindari pola asuh tiger parentingÂ
Dalam pengasuhan sehari-hari, cobalah untuk lebih terbuka terhadap perasaan dan pendapat anak. Berikut beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk menghindari pola asuh tiger parenting:Â
1. Jangan langsung menghukum ketika anak menghadapi masalah
Luangkan waktu untuk mendengarkan anak dan memahami apa yang sedang mereka alami, baik secara mental maupun emosional.
Alih-alih langsung berasumsi bahwa anak telah melakukan kesalahan, beri mereka kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dan mengajukan pertanyaan. Tunjukkan bahwa Bunda memahami emosi yang mereka rasakan.
Ketika orang tua menyediakan lingkungan yang lebih aman bagi anak untuk menceritakan rasa frustrasi mereka, kepercayaan di antara keduanya dapat tumbuh.
Jika anak mempercayai orang tua dan merasa aman, kemungkinan besar anak akan lebih terbuka untuk meminta bantuan ketika membutuhkannya.
2. Luangkan waktu untuk mengenal anak lebih dekat
Selalu sediakan waktu untuk memberikan perhatian penuh kepada anak, meskipun hanya untuk mendengarkan cerita tentang kegiatan mereka hari itu.
Walaupun tampak sederhana, ini dapat menjadi kesempatan untuk membangun hubungan yang lebih  hangat.
3. Dorong anak untuk mengungkapkan pendapatnya
Ketika pendapat anak dihargai, mereka akan merasa bahwa dirinya juga dihargai. Hal ini dapat membangun kepercayaan diri, sekaligus mendorong anak untuk berpikir mandiri.
Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa perbedaan pendapat juga wajar, bahkan dapat mengembangkan empati dan kecerdasan emosionalnya.
Itulah penjelasan tentang ciri orang tua yang menerapkan tiger parenting pada anak. Semoga bermanfaat ya, Bunda!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Kunci Sukses Pola Asuh Ideal, Ini Saran Ahli
Parenting
20 Perbuatan Orang Tua yang Tanpa Disadari Menyakiti Hati Anak, Hindari ya Bun
Parenting
3 Tanda Bunda dan Ayah adalah Tiger Parent, Hindari Ya
Parenting
20 Nasihat Parenting Aneh Sepanjang Masa, Bayi Diletakkan Dalam Sepatu
Parenting
3 Teknik Mengendalikan Emosi Bunda saat Memarahi Anak
5 Foto
Parenting
5 Potret Cute Baby Regina Anak Ahok & Puput Nastiti Bareng Dua Kakaknya
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Anak Lebih Nurut ke Ayah daripada Bunda? Ini Alasan di Baliknya Menurut Psikolog
3 Pola Asuh Orang Tua yang Bisa Membentuk Sifat Narsistik pada Anak
4 Kalimat Teguran Orang Tua yang Bisa Membekas di Hati Anak Menurut Pakar