Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Kapan Bayi Boleh Makan Telur? Jangan Asal Diberi Sebelum Cukup Usia

Elia Amaliana   |   HaiBunda

Jumat, 30 Oct 2026 20:30 WIB

Resep telur puyuh untuk mpasi
Kapan bayi boleh makan telur?/Foto: Getty Images/panida wijitpanya
Daftar Isi

Setiap bayi pastinya membutuhkan nutrisi yang berkualitas untuk perkembangan dan pertumbuhannya. Oleh karena itu, orang tua perlu memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi Si Kecil, termasuk telur yang kaya akan zat gizi.

Telur memiliki kandungan yang mendukung fungsi tubuh seperti protein dengan kualitas tinggi, vitamin B12, vitamin D, zat besi, dan omega 3. Dikutip dari laman resmi IDAI, telur merupakan sumber protein hewani yang mengandung asam amino lengkap. Bisa dilihat dari kandungan satu buah telur rebus mengandung 77 kkal yang terdiri dari protein sekitar 6 g dan lemak total 5,3 g.

Dengan kandungan tersebut, telur bisa menjadi salah satu pilihan bahan MPASI untuk Si Kecil. Namun, pemberiannya tetap harus diperhatikan dan disesuaikan dengan usia dan kesiapan bayi dalam menerima makanan pendamping ASI. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Meski kaya akan nutrisi, telur perlu diolah dengan benar sebelum diberikan pada bayi. Sebab, sebagian orang tua mungkin masih menganggap telur mentah atau setengah matang dapat membuat membuat tubuh jadi lebih kuat.

Padahal, kebiasaan tersebut berisiko bagi kesehatan, terutama pada bayi. Hal ini menjadi perhatian setelah muncul kasus bayi berusia 24 hari meninggal dunia akibat diberikan telur mentah oleh neneknya. 

Kapan bayi boleh makan telur?

Dilansir detikcom, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan bahwa bayi di bawah usia enam bulan tidak memerlukan makanan lain selain ASI, termasuk air putih, kaldu, maupun bahan makanan lain yang diencerkan. “ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi,” ujar Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso.

Pemberian makanan yang terlalu dini disebut dapat meningkatkan risiko kesehatan karena sistem pencernaan makan bayi masih di tahap perkembangan. Oleh karena itu, semuanya harus dilihat berdasarkan kesiapan bayi dan kemampuannya dalam menerima makanan yang masuk ke tubuhnya. Dalam hal ini, telur pun belum boleh diberikan pada bayi sebelum berusia enam bulan ya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, dan disusul MPASI hingga usia dua tahun atau lebih. Namun, jika sekiranya ASI tidak memungkinkan untuk diberikan dengan kondisi tertentu, susu formula bayi bisa jadi pilihan dengan syarat sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan juga tidak dianjurkan untuk semua bayi. Selain itu, pemberian makanan pada bayi harus memperhatikan kebutuhan gizi, usia, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan. 

“Pemberian MPASI sebelum usia empat bulan tidak dianjurkan. MPASI sejak usia empat bulan juga bukan rekomendasi rutin untuk semua bayi. Kesiapan bayi menerima makanan dapat dilihat dari kemampuannya mempertahankan posisi kepala dan leher, duduk dengan bantuan, serta mengoordinasikan gerakan mulut untuk menerima dan menelan makanan,” ujar dr. Piprim.

“Pemberian makanan yang tidak sesuai dengan usia, kemampuan menelan, atau tekstur yang dapat ditoleransi bayi dapat meningkatkan risiko tersedak, aspirasi, hingga gangguan pemberian makan,” lanjutnya. 

Olahan telur untuk bayi

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, meskipun menjadi sumber protein yang baik, cara pengolahannya tetap perlu diperhatikan agar tidak meningkatkan risiko terkena infeksi. Telur sebaiknya dimasak dengan matang sempurna, sebab telur utuh mengandung bakteri Salmonela, yang dimana ketika anak mengonsumsinya akan berpotensi terkena keracunan makanan berupa Salmonelosis. 

Gejala ini muncul 12-72 jam setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi dan akan membaik dalam waktu 4-7 hari tanpa perlu pemberian obat. Gejalanya meliputi diare berdarah, demam, muntah, dan dehidrasi. Hal ini bisa semakin berbahaya jika disertai kurangnya cairan dalam tubuh. Selain itu, olahan telur yang dimasak setengah matang seperti mayonnaise atau mousse, bisa menimbulkan Salmonelosis. 

Tips agar terhindar dari Salmonelosis

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar Si Kecil terhindar dari Salmonellosis yang dikutip dari IDAI:

  • Hindari pemberian telur kotor atau retak.
  • Simpan telur di lemari es.
  • Hindari mengonsumsi telur mentah atau setengah matang.
  • Masak telur dengan matang karena tidak akan menghilangkan kandungan nutrisinya.
  • Segera konsumsi telur yang sudah matang dan jangan dibiarkan terlalu lama guna menghindari kontaminasi kuman.

Itulah informasi mengenai olahan telur bagi Si Kecil. Pastikan telur diolah hingga matang sempurna agar aman dikonsumsi. Selain itu, telur matang tetap mengandung nutrisi yang baik dan juga lebih mudah dicerna oleh saluran cerna anak. Semoga membantu, Bunda.

 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda