Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Sifat Baik Anak Bawaan Lahir atau Terbentuk dari Lingkungan? Ini Kata Psikolog

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Selasa, 27 Oct 2026 11:05 WIB

Sifat anak baik
Sifat anak baik/ Foto: Getty Images/Mayur Kakade

Setiap anak memiliki kecenderungan sifat yang berbeda-beda. Ada anak yang tampak mudah berbagi dan menolong, ada pula anak yang perlu lebih banyak bimbingan.

Apabila Bunda bertanya-tanya apakah sifat baik yang dimiliki anak adalah bawaan lahir atau dibentuk oleh lingkungan? Sejumlah psikolog telah menguraikan persoalan ini. Yuk, Bunda, temukan jawabannya melalui informasi berikut ini.

Apakah sifat baik anak bawaan lahir atau terbentuk dari lingkungan?

The American Psychological Association (APA) mendefinisikan kebaikan sebagai tindakan baik dan bermanfaat yang secara sengaja ditujukan kepada orang lain. Kebaikan sering dianggap didorong oleh keinginan untuk membantu orang lain, bukan untuk mendapatkan imbalan  atau menghindari hukuman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lantas, apakah sifat baik anak merupakan bawaan lahir atau terbentuk dari lingkungan? Jawabannya sifat baik anak dibentuk oleh keduanya, baik bawaan dari lahir maupun pengaruh lingkungan, Bunda.

Merujuk buku Building Kinder Brains  yang diterbitkan UNESCO MGIEP (Mahatma Gandhi Institute of Education for Peace and Sustainable Development) pada tahun 2021, empati dan altruisme memiliki dasar evolusi. 

Bayi secara alami memiliki sifat empati dan baik hati. Sebagai contoh, balita telah terbukti membantu orang dewasa tanpa diminta, baik orang tua mereka ada di ruangan atau tidak, bahkan tanpa diucapkan terima kasih.

Profesor Psikologi U.C. Berkeley sekaligus penulis Dacher Keltner  U.C.  adalah salah satu akademisi terkenal yang meneliti, asal-usul evolusi dari rasa welas asih. 

Menurut Keltner dalam artikelnya di Greater Good Magazine, bukti bahwa kita manusia pada dasarnya baik terlihat dari kondisi bayi yang lahir lemah dan sangat bergantung pada orang lain. Karena bayi manusia butuh dirawat, manusia sejak dulu terbiasa bekerja sama untuk menjaga mereka. 

Kebiasaan ini membuat otak dan sistem saraf kita berkembang menjadi lebih peduli. Karena itu, manusia disebut "spesies super perawat". 

Tidak hanya memberi dampak baik bagi orang lain, berbuat baik juga bermanfaat bagi diri sendiri. Menurutnya menebar kebaikan bisa membuat tubuh seseorang lebih sehat dan umur lebih panjang. 

Pernyataan tersebut juga disepakati oleh Profesor Michael Karlin dan Brendan Ozawa-de Silva. Dalam artikel The Need for kindness & compassion: embodying the values of Mahatma Gandhi, mereka menyebut bahwa karena kita butuh dirawat sejak lahir, tubuh kita memang merespons kebaikan secara positif.

“Seperti semua mamalia dan burung, kita tidak mandiri sejak lahir, atau bahkan selama beberapa tahun setelahnya. … Oleh karena itu, kebutuhan dasar akan perawatan ini berarti bahwa bahkan pada tingkat seluler, jauh di dalam biologi dan fisiologi kita, kita merespons kebaikan. Kita saling bergantung dan tubuh kita mengetahuinya.”

Mengutip laman Walden University, kebaikan anak dapat dikembangkan. Salah satunya melalui program-program yang mendukung pembelajaran sosial dan emosional anak di sekolah. 

Berbuat baik tidak hanya memberi manfaat bagi penerima, tetapi juga bagi pemberinya. Orang yang berbuat baik mendapat lonjakan endorfin yang memberi energi dan meredakan nyeri.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Keltner bahwa, "Kemurahan hati itu menular. Kebaikan menyebar seperti api."

Itulah penjelasan tentang sifat baik anak, Bunda. Sejatinya anak hadir di dunia dengan kebaikan sebagai bawaan lahir. Kebaikan tersebut kemudian dapat berkembang melalui lingkungan di sekitarnya.

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda