Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

4 Tipe Ayah yang Terlihat Hadir, tetapi Sebenarnya Jauh dari Anak

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Minggu, 25 Oct 2026 15:35 WIB

Ilustrasi Ayah dan Anak
4 Tipe Ayah yang Terlihat Hadir, tetapi Sebenarnya Jauh dari Anak/ Foto: Getty Images/twinsterphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Kehadiran seorang ayah dalam kehidupan anak tidak hanya diukur dari seberapa sering ia berada di rumah, Bunda. Lebih dari itu, anak juga membutuhkan perhatian dan kedekatan emosional dengan ayahnya.

Namun, ada kalanya seorang ayah terlihat selalu hadir secara fisik, tetapi justru terasa jauh secara emosional dari anak-anaknya. Ia mungkin menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua, tetapi kurang terlibat dalam kehidupan sang anak.

"Ayah yang hadir dan sehat sering kali tidak sedramatis yang orang bayangkan. Mereka tidak sempurna. Kekuatan mereka terletak pada ketersediaan emosional, konsistensi, akuntabilitas, dan rasa aman," kata psikolog klinis Bridgette Peteet, Ph.D.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Mereka hadir, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara emosional. Mereka dapat mengatur diri sendiri, memperbaiki kesalahan yang mereka buat, dan memberi ruang bagi individualitas anak," sambungnya, dilansir laman Psychology Today.

Menurut Peteet, para ayah yang lebih kompleks biasanya lebih sulit untuk diidentifikasi. Mereka sering kali kesulitan dalam hal empati, akuntabilitas, pengaturan emosi , kerentanan, konsistensi, dan kepekaan terhadap kebutuhan anak-anaknya.

Tipe ayah yang terlihat hadir namun sebenarnya jauh

Ayah yang terlihat hadir tetapi sebenarnya jauh biasanya dapat dikenali dari kepribadiannya yang khas. Berikut empat tipe ayah ini, menurut Peteet:

1. Ayah yang jauh

Sosok ayah yang jauh secara fisik hadir, tetapi secara emosional absen. Ia mungkin seorang pencari nafkah dan lebih suka menawarkan keamanan fisik. Ayah tipe ini biasanya jarang mengajukan pertanyaan yang bermakna, menawarkan kenyamanan, mengungkapkan kasih sayang, atau menunjukkan minat emosional yang berkelanjutan pada anak-anaknya.

"Para ayah ini sering kali percaya bahwa berada di rumah saja sudah cukup. Mereka mungkin menonton televisi, bermain video game, membuka ponsel, bekerja berjam-jam, atau tetap tidak tersedia secara emosional bahkan ketika berada di ruangan yang sama dengan anaknya," ujar Peteet.

"Percakapan mungkin tetap bersifat praktis, korektif, atau dangkal. Percakapan yang lebih mendalam mungkin hanya terjadi ketika aturan dilanggar dan hukuman diperlukan."

2. Ayah yang reaktif

Ayah yang reaktif biasanya menanggapi stres, rasa frustrasi, atau perselisihan dengan kemarahan, sikap defensif, penarikan diri, atau perubahan suasana hati. Kondisi emosional yang berubah tersebut dapat memengaruhi seluruh anggota keluarga.

Dalam keluarga ini, istri dan anak-anak menjadi sering belajar untuk memantau suasana hati ayah, untuk menghindari pemicu kemarahan dan menjaga perdamaian. Rumah mungkin tampak stabil dari luar, namun semua orang di dalamnya bisa saja hidup dalam ketakutan.

Para ayah ini mungkin menyalahkan orang lain atas ledakan emosi yang diluapkan anak-anak. Mereka mungkin bersikeras bahwa mereka berteriak karena lelah, bercanda, atau terlalu diprovokasi.

"Alih-alih bertanggung jawab, para ayah ini malah membuat orang lain bertanggung jawab untuk mengelola emosi mereka. Bagi anak-anak, hal ini disebut parentifikasi," ungkap Peteet.

3. Ayah yang suka mengontrol

Ayah yang suka mengontrol sering kali salah mengartikan kontrol dengan perhatian. Ia mungkin menuntut kepatuhan tanpa syarat, membatasi kemandirian, mengkritik pilihan, dan memperlakukan anak sebagai perpanjangan dari dirinya sendiri daripada sebagai pribadi yang terpisah.

Para ayah ini juga kerap otoriter dalam gaya pengasuhan, yang ditandai dengan kontrol tinggi dan respons emosional yang rendah. Otonomi diperlakukan sebagai pemberontakan atau otoritas ayah menjadi lebih penting daripada perkembangan anak.

"Kritik mungkin disamarkan sebagai bimbingan. Kekerasan mungkin dianggap sebagai disiplin. Jarak emosional mungkin dianggap sebagai kekuatan. Anak mungkin dihukum bukan hanya karena perilaku buruk, tetapi juga karena memiliki pendapat, preferensi, emosi, atau batasan," kata Peteet.

"Pola asuh otoriter mungkin mengajarkan anak-anak cara patuh, tetapi tidak selalu mengajarkan mereka cara berpikir, berkomunikasi, mengatur emosi, atau mempercayai diri sendiri."

4. Ayah yang egois

Ayah yang egois memprioritaskan kebutuhan, citra, kenyamanan, dan egonya sendiri. Ia mungkin memiliki identitas publik yang dirancang dengan cermat sebagai sosok yang sukses, dihormati, murah hati, atau patut dikagumi. Namun, di dalam keluarga, anak-anaknya mungkin merasa diabaikan kecuali jika mereka mendukungnya.

Para ayah ini mungkin mengharapkan kekaguman dan menjadi defensif atau kesal ketika mendapatkan kritik. Anak-anak yang dibesarkan dengan tipe ayah ini mungkin belajar untuk tidak pernah mengatakan apa pun yang dapat mempermalukan, menantang, atau merusak citra yang ingin sang ayah tunjukkan kepada orang lain.

Beberapa ayah yang egois bahkan tak ragu untuk bersaing dengan anak-anaknya. Sementara yang lain menggunakan prestasi anak-anak sebagai bukti kesuksesan mereka sendiri. Pencapaian penting seorang anak sering kali menjadi kesempatan bagi sang ayah untuk memusatkan perhatian pada dirinya sendiri.

Demikian empat tipe ayah terlihat hadir, tapi sebenarnya jauh dari anak-anaknya. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda