parenting
Di Balik Senyum Ayah, Survei Ungkap 8 Beban yang Kerap Dipendam
HaiBunda
Sabtu, 24 Oct 2026 16:20 WIB
Daftar Isi
-
8 beban yang kerap dipendam ayah
- 1. Memikul beban dalam diam
- 2. Beban tanggung jawab
- 3. Perasaan belum melakukan cukup banyak hal untuk keluarga
- 4. Rasa bersalah karena hanya ada untuk diri sendiri
- 5. Waktu yang menjadi milik orang lain
- 6. Beban pencari nafkah
- 7. Dikelilingi orang banyak, namun merasa sendirian
- 8. Beban emosional karena kehilangan identitas
Setiap ayah memiliki tanggung jawab besar dalam keluarga. Mereka tak hanya punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tapi juga mendampingi tumbuh kembang anak dan menjadi sosok yang memberikan rasa aman bagi keluarga.
Di balik senyum dan sikap tegar seorang ayah, tak banyak yang tahu kadang mereka menyimpan beban yang tak terlihat. Tuntutan untuk selalu kuat dan mampu diandalkan terkadang membuat sebagian ayah memilih menyimpan masalahnya sendiri demi menjaga ketenangan keluarga.
Good Dad Research Survey pada Februari 2026 mengungkap beberapa tantangan yang kerap dipendam oleh ayah dalam kesehariannya menjalankan peran sebagai kepala keluarga. Survei ini dilakukan pada 308 ayah di mana 96 di antaranya menjawab.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, apa saja beban yang kerap dipendam oleh ayah dan tidak diketahui banyak orang? Simak penjelasan Bubun berikut ini ya!
8 beban yang kerap dipendam ayah
Melansir dari laman Good Dad, berikut 8 beban yang sering kali dipendam oleh seorang ayah:
1. Memikul beban dalam diam
Dari survei, 15 ayah menggambarkan beberapa versi dari beban tak terlihat. Beban ini ternyata bukanlah satu hal saja, Bunda.
Itu adalah akumulasi tanggung jawab yang tidak sepenuhnya disadari oleh siapa pun. Beban ini dapat berupa beban mental untuk mengingat setiap janji temu, melacak setiap persediaan popok, mengetahui anak mana yang membutuhkan sepatu baru, mengelola keuangan rumah tangga, atau mempertahankan karier untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Hal yang sangat mengisolasi adalah sebagian besar beban sebagai seorang ayah ini tidak terlihat. Tidak ada yang menghargai mereka karena tidak ada yang bisa melihatnya.
2. Beban tanggung jawab
Di survei ini, 12 atau lebih ayah menggambarkan beberapa versi yang disebut 'topeng'. Penampilan mereka seolah-olah baik-baik saja padahal sebenarnya tidak.
"Berpura-pura tegar dan tidak membiarkan mereka tahu bahwa kamu sebenarnya sedang berjuang," kata seorang ayah.
Berusaha tampak tegar bukan berarti para ayah ini tidak memiliki kesadaran emosional. Mereka mampu mengungkapkannya secara detail ketika diberi kesempatan. Namun, mereka merasa tidak memiliki izin untuk mengekspresikannya dalam peran yang mereka emban.
Sang ayah selalu dianggap menjadi tumpuan. Mereka dituntut untuk menjadi sosok yang stabil, pencari nafkah yang pulang ke rumah, dan harus memiliki energi untuk membantu mengurus anaknya. Ketika citra itu retak, rasanya seperti ayah mengalami kegagalan pribadi daripada kegagalan sistemik.
3. Perasaan belum melakukan cukup banyak hal untuk keluarga
Survei ini juga menemukan 10 atau lebih ayah menggambarkan kalau mereka terbebani dengan perasaan belum cukup melakukan yang terbaik bagi keluarga. Beban ini bukan jenis ketidakmampuan yang dramatis atau akut yang berasal dari satu kegagalan saja. Ini adalah jenis ketidakmampuan kronis dan ringan yang selalu ada di latar belakang kehidupan sehari-hari.
"Ini adalah perasaan terus-menerus tentang kita yang tidak melakukan cukup banyak," kata seorang ayah di survei ini.
Beban ini sebenarnya adalah konsekuensi alami dari upaya seorang ayah dalam memenuhi tugas yang mustahil dengan sumber daya yang terbatas. Peran ayah modern yang banyak terkadang dibebankan secara bersamaan, tanpa buku panduan, dan tanpa pengakuan bahwa perhitungan matematisnya tidak sesuai.
4. Rasa bersalah karena hanya ada untuk diri sendiri
Menurut survei, 8 atau lebih ayah mengidentifikasi rasa bersalah sebagai beban yang tidak pernah dibicarakan ke siapa pun. Ini bukan rasa bersalah atas sesuatu yang mereka lakukan salah, melainkan karena menginginkan sesuatu untuk diri mereka sendiri.
Ketika menjadi seorang ayah, kontrak tersiratnya adalah kebutuhan laki-laki menjadi yang terakhir. Tanpa disadari, muncul perasaan bahwa meluangkan waktu untuk kesejahteraan sendiri sama saja mengambil waktu dari keluarga.
Hal tersebut menciptakan pola spesifik dan merusak, Bunda. Laki-laki yang paling membutuhkan dukungan justru paling kecil kemungkinan untuk mencarinya, karena mencari dukungan terasa seperti bentuk kegagalan dalam membantu orang-orang yang mereka dukung.
5. Waktu yang menjadi milik orang lain
Setidaknya, 8 atau lebih ayah berbicara tentang waktu, kekurangan waktu, dan rasa frustrasi karena tidak memiliki waktu yang benar-benar menjadi milik mereka sendiri. Hal itu tanpa disadari menjadi beban yang tak terlihat dalam peran ayah di keluarga.
Perlu dipahami, keterbatasan waktu bagi para ayah tidak sama dengan kesibukan. Ini adalah perasaan bahwa setiap jam dan setiap hari dimiliki oleh pekerjaan dan keluarga. Celah di antaranya untuk fokus pada diri sendiri tidak cukup besar untuk digunakan sebagai sesuatu yang bermakna.
6. Beban pencari nafkah
Survei mengungkap, enam ayah atau lebih secara khusus berfokus pada tekanan finansial dan sebagai pencari nafkah. Menjadi ayah sama saja mengemban beban sebagai penopang operasional dalam keluarga.
Tak hanya itu, dinamika peran ayah modern juga terjebak dalam ketidaksesuaian generasi. Banyak ayah saat ini dibesarkan oleh ayah yang bekerja berjam-jam tetapi tidak diharapkan untuk hadir secara emosional atau terlibat dalam urusan rumah tangga.
Generasi saat ini diharapkan untuk menyamai atau melampaui kapasitas generasi sebelumnya dalam menyediakan kebutuhan keluarga, sekaligus terlibat langsung dalam urusan rumah tangga. Ketika tuntutan itu harus dipenuhi, kesejahteraan ayah bisa dikorbankan.
7. Dikelilingi orang banyak, namun merasa sendirian
Dalam survei, lima atau lebih ayah menggambarkan kesepian. Bukan kesepian karena isolasi, karena kenyataannya mereka selalu dikelilingi oleh keluarga, kolega, hingga teman.
"Ini aneh karena kita dikelilingi oleh orang-orang yang selalu membutuhkan kita, tetapi anehnya kita merasa sendirian di tengah semua itu," kata seorang ayah.
Kesepian ini dapat diartikan sesuatu yang minim timbal balik. Artinya, semua orang membutuhkan sesuatu dari seorang ayah, termasuk waktu, perhatian, tenaga, dan penghasilan. Tetapi, tidak ada yang bertanya bagaimana kabar seorang ayah, dan ketika mereka bertanya, jawaban yang diharapkan adalah "baik-baik saja".
8. Beban emosional karena kehilangan identitas
Beban berikutnya dikaitkan dengan kehilangan identitas. Survei mengungkap, empat atau lebih ayah menggambarkan beberapa versi kehilangan identitas, termasuk perasaan bahwa peran sebagai ayah telah mengikis jati diri mereka sebelumnya.
Seorang ayah yang dulunya memiliki hobi harus mengalah karena tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ini bukan ketidakpuasan. Ini adalah bentuk kehilangan terhadap diri sendiri.
Seorang ayah mungkin terbiasa mengutamakan anggota keluarga hingga perlahan melupakan hal-hal yang membuat mereka bahagia. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk mengenal diri sendiri, mengeksplorasi minat, dan melakukan sesuatu semata-mata karena menyukainya, bukan karena merasa harus melakukannya demi orang lain.
Demikian 8 beban yang kerap dipendam seorang ayah dalam menjalankan perannya di keluarga. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Tak Hanya Bunda, Otak dan Tubuh Ayah Juga Alami Perubahan Setelah Punya Anak
Parenting
Jangan Disepelekan, Ini 5 Batasan Interaksi Ayah dan Anak Perempuannya saat Sudah Memasuki SD
Parenting
7 Perilaku Ayah yang Akan Ditiru Anak Laki-Laki Sejak Dini
Parenting
Ayah Ikut Terlibat Pengasuhan Bikin Anak Sukses di Sekolah, Ini Alasan Uniknya
Parenting
Tak Kalah dari Bunda, Intip 4 Peran Penting Ayah untuk Perkembangan Anak
7 Foto
Parenting
7 Potret Gaya Ayah Seleb saat Gendong Anak, Ario Bayu Pakai Kain Jarik
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Alasan Peran Ayah Penting dalam Perkembangan Anak Perempuannya
Ayah Berpengaruh Besar pada Mental Anak Perempuan & Sikap Disiplin Anak Laki-laki, Ini Penjelasannya
Dear Ayah, Ini 7 Cara Ajak Bayi Bermain agar Tumbuh Kembangnya Baik