Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

5 Cerita Dongeng Pendek untuk Dibacakan kepada Bayi 2 Bulan

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Sabtu, 24 Oct 2026 21:00 WIB

Dongeng Anak: JJ si Anak Jerapah dan Mopi Si Monyet Pintar
Dongeng untuk bayi dua bulan/ Foto: HaiBunda/Dwi Rachmi
Daftar Isi

Membacakan dongeng untuk bayi dua bulan? Mungkin terkesan terlalu dini, tapi tahukah Bunda kalau tidak ada kata terlalu dini untuk membacakan cerita pada bayi?

Bayi mungkin tidak mengikuti alur cerita, tetapi mereka mengenali pola. Misalnya, dalam cerita tersebut ada adegan melempar, mengejar, lalu mengembalikan. Suara yang meninggi saat sesuatu dilempar, kemudian merendah saat tokoh dalam cerita beristirahat.

Dikutip dari Sleepy Tale, kisah yang dibangun di seputar tindakan sederhana yang berulang memberikan sesuatu yang bisa dipegang oleh bayi, bahkan sebelum mereka mampu mengucapkan kata-kata sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pengulangan tersebut menjadi sebuah sinyal yakni bahwa dunia ini stabil, tidak ada hal mengejutkan yang akan terjadi, kamu boleh merasa tenang dan melepaskan ketegangan.

Itulah sebabnya cerita pengantar tidur yang mengangkat dunia keseharian bayi, seperti halaman rumah, seekor anjing, atau bola, jauh lebih efektif daripada cerita yang rumit atau penuh fantasi. Bunyi-bunyiannya tetap terasa tenang. Emosinya tetap lembut.

Irama dalam setiap adegan pun selaras dengan ritme yang Anda ciptakan melalui napas, gerakan menimang, serta gumaman suara yang lembut tepat di atas kepala Si Kecil.

Jika Bunda mencari cerita dongeng untuk dibacakan untuk bayi yang berusia dua bulan, coba simak dan ceritakan kisah yang dipilih dari berbagai sumber berikut ini!

1. Sehari di Kebun Binatang

Hari ini, Mia pergi ke kebun binatang.

“Halo, hewan-hewan!” sapanya.

Mia tiba di kebun binatang dan melambaikan tangan, sementara enam ekor hewan yang ramah mengintip dari habitat mereka.
Pertama, Mia melihat seekor jerapah yang tinggi.

“Halo, Jerapah!”

Jerapah itu sedang mengunyah dedaunan hijau.

Jerapah memiliki leher yang sangat panjang agar bisa menjangkau dedaunan tinggi di pepohonan.

Mia mendongak saat seekor jerapah tinggi menggunakan leher panjangnya untuk meraih dedaunan hijau.
Selanjutnya, Mia melihat seekor gajah yang besar.

“Halo, Gajah!”

Gajah itu mengangkat belalainya.

Gajah menggunakan belalai mereka untuk minum, mencium bau, dan mengambil benda-benda.

Seekor gajah yang lembut mengangkat belalainya dan menyemprotkan air, sementara Mia melambaikan tangan.
Kemudian, Mia mendengar suara yang nyaring.

“AUM!”

Itu seekor singa!

Singa itu sedang beristirahat di bawah sinar matahari yang hangat.

Singa bisa mengaum dengan sangat keras.

Mia mendengarkan saat seekor singa yang ramah mengeluarkan auman keras sambil beristirahat di bawah sinar matahari yang hangat.
Tidak jauh dari situ, seekor monyet yang lucu berayun dari dahan pohon.

“Halo, Monyet!”

Monyet itu memanjat naik, terus naik!

Monyet adalah pemanjat yang sangat mahir.

Seekor monyet yang jenaka berayun dari dahan tinggi di atas Mia.
Lalu, Mia melihat seekor pinguin yang berjalan dengan langkah terhuyung-huyung.

Wek-wek-wek!

Pinguin adalah sejenis burung, tetapi mereka tidak bisa terbang. Sebaliknya, mereka adalah perenang yang hebat.

Seekor pinguin berjalan terhuyung-huyung di samping Mia, sementara pinguin lainnya berenang di dalam kolam air biru yang jernih.
Di ujung jalan, Mia menemukan seekor kuda nil yang mengantuk di dalam air.

“Halo, Kuda Nil!”

Byur!

Kuda nil menghabiskan banyak waktu di dalam air agar tetap sejuk.

Mia tersenyum melihat seekor kuda nil yang mengantuk sedang menyejukkan diri di dalam air dengan cipratan lembut.
Mia melambaikan tangan untuk berpamitan.

“Sampai jumpa, Jerapah!
Sampai jumpa, Gajah!
Sampai jumpa, Singa!
Sampai jumpa, Monyet!
Sampai jumpa, Pinguin!
Sampai jumpa, Kuda Nil!”

Mia melambaikan tangan untuk berpamitan kepada jerapah, gajah, singa, monyet, pinguin, dan kuda nil di kebun binatang. Sungguh hari yang menyenangkan di kebun binatang!

Dan betapa menakjubkan hewan-hewan yang ditemui Mia.

Selesai

2. Bip Bip, Saatnya Tidur

Truk kecil itu menjalani hari yang sangat sibuk. Vrum, vrum!

Ia mengangkut pasir. Ia mengangkut batu. Ia melaju menaiki bukit, lalu turun kembali.

Namun kini, langit mulai gelap. Saatnya untuk pulang.

Truk kecil itu melaju makin pelan, makin pelan. Vrum… vrum… syyy.

Ia pun parkir di garasi yang nyaman, di samping truk-truk besar dan truk-truk kecil lainnya.

Klik, lampu depannya pun padam dengan lembut.

Mesin truk kecil itu kini senyap. Beristirahatlah sekarang. Beristirahatlah.

Selamat malam, truk kecil. Bip, bip. Saatnya tidur.  

3. Warna-Warna Pergi Lebih Dulu

Hari mulai berakhir. Namun, senja tidak datang sekaligus. Ia hadir warna demi warna.

Bukit kecil itu kini penuh dengan warna. Matahari yang kuning, atap-atap rumah yang merah, rerumputan yang hijau, serta langit luas yang biru. Semuanya terjaga. Semuanya terang benderang.

Bukit kecil yang cerah menampilkan matahari kuning, atap merah, rumput hijau, dan langit biru sebelum senja tiba. Ssst… Warna kuning pergi lebih dulu. Matahari mengemas semuanya, setiap tetes terakhir, lalu membawanya turun ke balik bukit.

Matahari kuning membawa tetesan-tetesan cahaya kuning turun ke balik bukit kecil.
Selamat tinggal, kuning. Ssst…

Berikutnya, giliran warna merah. Ia turun dari atap-atap rumah dengan perlahan dan tenang, lalu meringkuk di dalam kelopak bunga tulip yang mulai menutup untuk menyambut malam.

Warna merah meluncur turun dari atap dan meringkuk di dalam bunga tulip yang menutup saat malam tiba.
Selamat tinggal, merah. Ssst…

Kini, warna hijau pun mulai mengantuk. Ia merayap turun. semakin rendah, semakin rendah lagi, lalu bersembunyi jauh di dalam rerumputan. Rumput-rumput itu mendekapnya dengan lembut, layaknya sebuah rahasia.

Warna hijau menyelinap rendah ke sela-sela helai rumput saat senja mulai terasa mengantuk.
Selamat tinggal, hijau. Ssst…

Hanya warna biru yang tersisa. Biru selalu bertahan paling lama. Ia tidak pergi jauh, ia tetap berada di dekat sini.

Warna biru membentang luas di atas rumah, di atas bukit, dan di atas pepohonan, lalu berubah menjadi langit malam.

Warna biru membentang di atas rumah, bukit, dan pepohonan, berubah menjadi langit malam.

Biru yang pekat. Biru yang lembut. Biru yang mengantuk. Selamat malam, biru. Ssst…

Lalu, datanglah kegelapan. Kegelapan yang paling lembut. Ia menyelimuti layaknya selimut.

Kegelapan berwarna nila yang lembut turun menyelimuti bukit dan rumah mungil itu.
Di atas bukit. Di atas rumah. Di atasmu.

Warna-warna itu pun tidur. Kamu pun tidur.

Warna-warna itu terlelap di tempat-tempat kecil yang berpendar, sementara rumah beristirahat di bawah langit malam.

4. Benni Si Beruang Nakal

Benni si beruang terbangun dengan perasaan kesal dan berkata kepada mainan-mainan lain, “Pergi sana! Ini rak milikku!”

Si badut mencoba menghiburnya, tetapi Benni tidak mau mendengarkan. Satu per satu, teman-temannya pun meninggalkan rak tersebut.

Tak lama kemudian, Benni merasa kesepian dan berseru, “Tolong kembali! Aku tidak bermaksud begitu!”

Malam itu, seorang peri baik hati muncul dan berkata, “Benni, jika kau berjanji untuk bersikap baik, aku akan membantumu.”

Benni menjawab, “Aku janji! Tolong kembalikan teman-temanku!”

Peri itu mengayunkan tongkat ajaibnya dan memberi tahu mainan-mainan lain bahwa Benni benar-benar menyesal.

“Kami memaafkanmu!” ujar teman-temannya seraya kembali ke rak tersebut.

Benni tersenyum dan berkata, “Terima kasih! Kalian semua boleh menempati ruang sebanyak yang kalian mau.”

Mainan-mainan itu pun saling berpelukan dan tertidur dengan bahagia.

5. Selamat Malam, Bebek Kecil

Di tepi kolam yang tenang, seekor anak bebek bersiap untuk tidur.

“Selamat malam, air,” ucap si anak bebek. Air pun menjadi tenang.

“Selamat malam, alang-alang,” ucap si anak bebek. Alang-alang bergoyang, lembut dan perlahan.

“Selamat malam, bulan,” ucap si anak bebek. Bulan tersenyum dari atas, hangat dan terang.

Anak bebek itu melipat satu kakinya ke atas. Lalu kaki yang satunya lagi. Mungil dan nyaman.

Induk bebek membentangkan sayapnya yang lebar dan lembut. “Kemarilah, sayang.”

Anak bebek itu meringkuk di dekat induknya. Hangat. Aman. Mengantuk.

Selamat malam, anak bebek. Selamat malam, selamat malam.

Demikian beberapa ide mendongeng untuk anak dua bulan, yang bagus untuk menstimulus perkembangannya. Meskipun anak belum bisa merespon, kemampuan merekam memorinya sedang berkembang ya, Bunda.

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda