Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Viral di Korea, Anak-anak Justru Lebih Nurut saat Ditakut-takuti Hantu

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Kamis, 22 Oct 2026 16:00 WIB

Ilustrasi Anak Takut
Ilustrasi Anak Takut/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion
Daftar Isi
Jakarta -

Sebagai orang tua, kita dituntut untuk bisa mengajarkan anak kedisiplinan dan membuat Si Kecil memahami aturan. Setiap orang tua biasanya memiliki cara untuk mengajarkan hal tersebut, Bunda.

Ada orang tua yang memilih memberikan penjelasan secara perlahan, ada pula yang menerapkan konsekuensi agar sang anak belajar bertanggung jawab atas perilakunya. Namun, dalam situasi tertentu, ada orang tua yang justru memilih untuk menakut-nakuti anaknya dengan cerita tentang makhluk menyeramkan agar mereka berhenti melakukan sesuatu yang salah.

Fenomena ini belakangan menjadi perbincangan di Korea Selatan. Cara orang tua Korea menakut-nakuti anaknya dengan sosok hantu dianggap lebih ampuh daripada memberikan penjelasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Cara ini juga mungkin dianggap praktis untuk menghadapi tingkah anak yang sulit dikendalikan, terlebih ketika orang tua sedang kehabisan cara untuk membujuk Si Kecil.

Viral video anak Korea menurut usai ditakut-takuti hantu

Di media sosial, sebuah video yang memperlihatkan hantu-hantu di Korean Folk Village menakut-nakuti anak-anak baru-baru ini menjadi perbincangan publik. Para hantu jadi-jadian ini menakuti anak dan meminta mereka berjanji untuk 'bertingkah baik'.

Dilansir laman The Asia Business Daily, video-video anak-anak yang bertemu dengan tokoh hantu di Korean Folk Village bermunculan satu demi satu di media sosial, termasuk Instagram. Video-video tersebut memiliki judul seperti 'Akhir dari Kisah Anak Pemberani Berusia 5 Tahun', 'Hantu Gumiho Memberi Pelajaran kepada Anak Berusia 4 Tahun di Korean Folk Village', dan 'Anak yang Makan Sambil Menonton TV: Kunjungan ke Korean Folk Village'.

Video-video tersebut cenderung mengikuti pola yang serupa. Seorang orang tua memberi tahu hantu bahwa anaknya pilih-pilih makanan, sering mengamuk, atau tidak mau mendengarkan, dan hantu itu kemudian mendekati anak tersebut.

Hantu itu kemudian menakut-nakuti anak dengan mengatakan, 'Jika kamu tidak berperilaku baik, aku akan membawamu pergi'. Para hantu juga mungkin bertanya apakah anak itu akan mendengarkan orang tuanya mulai sekarang.

Anak-anak yang tadinya tenang tiba-tiba menangis di depan hantu, mengangguk ketakutan, dan berulang kali menjawab, 'Ya'.

Hantu-hantu dalam video tersebut adalah aktor karakter di festival musim gugur Korean Folk Village, yang berjudul 'Ghostsaba Ghost Play', yang berlangsung dari 12 September hingga 15 November.

Kenapa 'hantu' dianggap bisa mendisplinkan anak di Korea?

Di kalangan orang tua, Korean Folk Village telah mendapatkan reputasi seperti 'Sekolah Tata Krama'. Keluarga yang berharap bertemu 'hantu' terkadang membentuk antrean panjang di tengah alun-alun.

Beberapa orang tua yang berkunjung karena anaknya sangat pilih-pilih makanan mengatakan bahwa cara menakut-nakuti anak dengan hantu ini sangat membantunya. Anaknya langsung menurut saat ditakut-takuti.

"Ini berhasil. Anak saya tidak mendengarkan ketika ibunya memarahinya di rumah, tetapi mereka benar-benar takut pada hantu," kata seorang Bunda.

"Pihak taman kanak-kanak baru-baru ini menelepon untuk mengatakan bahwa anak saya juga makan dengan baik di sana," ungkap yang lain.

Alasan anak mudah takut dengan hantu

Secara perkembangan, seorang anak kecil bisa merasa takut karena semua yang mereka lihat dan dengar. Jadi, kuncinya bagi orang tua adalah bekerja sama dengan pikiran anak mereka daripada melawannya.

"Anak-anak memiliki pemicu rasa takut yang sama seperti orang dewasa, tetapi pemicunya jauh lebih kuat," kata sosiolog dan penulis buku Scream: Chilling Adventures in the Science of Fear, Margee Kerr, Ph.D., dilansir laman Fatherly.

"Imajinasi mereka bisa sangat kuat dan menguasai diri mereka. Mereka juga belum bisa membuat argumen rasional, sehingga kurangnya kemampuan untuk memahami sesuatu dapat menyebabkan cerita monster menjadi sangat menakutkan, karena mereka tidak dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak."

Lantas, apa dampaknya bila menggunakan rasa takut anak untuk mendisiplinkannya?

Menurut Psych Central, pola pengasuhan yang menggunakan ancaman atau disiplin berbasis rasa takut sebaiknya tidak dilakukan. Pasalnya, hal tersebut dapat memengaruhi perkembangan anak, kesehatan mental, dan hubungan orang tua dengan anak-anaknya, Bunda.

Pola asuh berbasis rasa takut juga dapat berdampak negatif pada kepercayaan diri anak. Si Kecil jadi mudah cemas dan kesulitan dalam membangun ketahanan.

Tapi sejujurnya, ketika anak-anak kita masih kecil, mereka mungkin bereaksi terhadap taktik menakut-nakuti kita dengan mengubah perilaku dalam jangka pendek karena mereka takut dan tidak berdaya. Namun, seiring bertambahnya usia dan kebijaksanaan anak-anak, teknik ini mungkin akan kehilangan efeknya.

Demikian berita viral orang tua di Korea yang menggunakan hantu untuk mendisplinkan anak-anaknya. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda