parenting
5 Penyebab Overstimulasi pada Bayi, Benarkah Selalu Karena Lingkungan Ramai?
HaiBunda
Jumat, 23 Oct 2026 18:20 WIB
Daftar Isi
Stimulasi memang baik untuk tumbuh kembang, tapi jika berlebihan dampaknya justru bisa jadi negatif. Bayi bisa mengalami kondisi yang disebut sebagai overstimulasi.
Banyak yang mengira overstimulasi hanya terjadi ketika bayi berada di tempat ramai dan bising, tapi faktanya tak demikian.
Ada berbagai faktor lain yang dapat memicu bayi mengalami overstimulasi, bahkan sampai sulit tidur nyenyak. Salah satunya karena aktivitas bermain yang terlalu intens.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu overstimulasi pada bayi?
Overstimulasi adalah kondisi ketika bayi menerima rangsangan yang melebihi kemampuannya untuk memproses dan merespons rangsangan tersebut. Termasuk rangsangan yang berasal dari berbagai indra, seperti suara, penglihatan, sentuhan, maupun aktivitas fisik.
Saat masih usia bayi, sistem saraf masih berkembang sehingga mereka belum mampu mengatur respons terhadap berbagai rangsangan seperti orang dewasa.Â
Akibatnya saat menerima terlalu banyak stimulasi, bayi dapat merasa kewalahan dan menunjukkannya melalui tangisan atau rewel yang tak kunjung berhenti.Â
"Overstimulasi terjadi ketika bayi atau anak mengalami lebih banyak rangsangan daripada yang dapat mereka tangani atau biasa rasakan," ungkap dokter spesialis anak di Amerika Serikat, Kevin Kathrotia, dikutip dari Healthline.Â
Menurut Kathrotia, stimulasi berlebihan pada bayi cukup sering terjadi. Tepatnya paling umum pada usia sekitar 2 minggu hingga 3-4 bulan.Â
Kondisi ini juga bisa terjadi pada anak balita dan anak usia sekolah, bahkan pada remaja dan dewasa. Setiap individu memiliki kapasitas dan batas toleransi yang berbeda-beda. Kondisi ini juga berlaku pada anak-anak sesuai dengan tahap perkembangan usianya.
Penyebab overstimulasi pada bayi
Overstimulasi tidak selalu disebabkan oleh lingkungan yang ramai, Bunda. Ada beberapa faktor yang dapat menjadi faktor penyebab overstimulasi pada bayi, seperti:Â
1. Faktor lingkungan
Sebagian bayi mudah merasa kewalahan saat berada di tempat yang bising, ramai, memiliki pencahayaan terang, atau penuh warna mencolok.
Berada di tempat yang ramai dan berisik juga bisa membuat bayi overstimulasi. Misalnya  ketika bayi diajak menghadiri acara keluarga atau berada di pusat perbelanjaan dalam waktu lama.
Kondisi ini bisa memicu sensory overload karena merasa kewalahan akibat terlalu banyak input sensorik.
2. Screentime berlebihan
Penggunaan gadget dan screentime berlebihan, termasuk dari televisi, ponsel, dan perangkat elektronik lainnya dapat menjadi 'terlalu berat' untuk diproses otak bayi. Terutama saat usia mereka masih di bawah 18 bulan.Â
Oleh sebab itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk menghindari penggunaan gadget pada bayi.
3. Terlalu banyak aktivitas bermain
Bermain memang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi, tapi jika terlalu banyak atau terus-terusan juga bisa membuat bayi overstimulasi.
Mengganti mainan terlalu cepat atau memberikan beberapa mainan yang mengeluarkan suara dan cahaya secara bersamaan juga dapat membuat bayi kewalahan.
4. Kurang tidur
Melewatkan waktu tidur, baik tidur siang atau tidur terlalu larut malam juga bisa menjadi penyebab overstimulasi. Rasa lelah yang berlebihan dapat dengan cepat membuat bayi mengalami kelelahan.
Tidur merupakan kebutuhan penting bagi bayi. Ketika waktu tidur tidak terpenuhi, Si Kecil bisa menjadi lebih mudah rewel.
5. Terlalu banyak orang di sekitar
Sebagian bayi senang bertemu banyak orang, tetapi sebagian lainnya bisa cepat merasa kewalahan ketika bertemu wajah-wajah baru.
Ada juga anak yang sangat merasa tidak nyaman atau bahkan kewalahan saat berada di tengah keramaian.
Biasanya orang dewasa akan senang menggendong bayi secara bergantian atau terus menyentuhnya, ini bisa membuat sebagian bayi merasa tidak nyaman.
"Seorang anak mungkin bisa berada di taman yang ramai pada satu kesempatan, tapi di waktu lain merasa overstimulasi. Misalnya saat kurang tidur atau melewatkan jam makan," ujar analis perilaku, Kerri Milyko, PhD, BCBA-D, LBA (NV), dikutip dari Parents.
Tanda-tanda overstimulasi pada bayi dan anak
Tanda overstimulasi bisa terlihat berbeda pada setiap anak. Namun beberapa tanda umum yang dapat muncul pada bayi contohnya yakni:
- Menangis dan lebih rewel dari biasanya
- Menolak sentuhan atau memalingkan kepala saat disentuh
- Sering menguap atau menggosok-gosok mata
- Ingin terus digendong
- Ingin menyusu lebih sering
- Mengepalkan tangan atau menggerakkan tangan dan kaki
- Mengalami tantrum
- Terlihat sangat lelah
Cara mengatasi bayi overstimulasi
Untuk membantu mengatasi bayi yang mengalami overstimulasi, berikut beberapa cara yang bisa Bunda lakukan:
1. Pindahkan bayi ke tempat yang lebih sepi
Saat menyadari Si Kecil sudah kewalahan, langkah paling awal yang perlu dilakukan adalah memindahkannya ke lingkungan yang lebih tenang.
Kurangi suara televisi atau musik, jauhkan dari kerumunan, dan redupkan pencahayaan jika terlalu terang.
Lingkungan yang lebih tenang dapat membantu mengurangi rangsangan yang diterima bayi sehingga ia memiliki kesempatan untuk menenangkan diri.
2. Gendong dan tenangkan bayi
Gendong bayi dengan posisi yang nyaman dan usap punggungnya secara perlahan. Bicaralah dengan suara lembut.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), Bunda juga bisa mengayun tubuh bayi dengan lembut dan bernyanyi pelan agar ia lebih nyaman.
3. Membedong bayi
Bunda juga dapat mempertimbangkan untuk membedong bayi. Membedong memberikan tekanan yang stabil, meniru kenyamanan saat berada di dalam rahim, serta membantu mengurangi refleks kaget yang bagi sebagian bayi terasa menenangkan.
4. Hentikan semua aktivitas bermain bayi
Hentikan aktivitas bermain sementara dan berikan kesempatan kepada bayi untuk beristirahat. Jika Si Kecil menunjukkan tanda-tanda mengantuk, bantu ia agar bisa tidur dengan nyaman.
Bunda juga bisa memutar musik yang lembut atau menggunakan mesin suara maupun white noise.
5. Penuhi kebutuhan dasar bayi
Jangan lupa periksa juga kebutuhan dasar bayi, termasuk apakah mungkin ia sedang lapar, merasa kepanasan atau kedinginan.
Jika bayi tetap menangis meskipun sudah ditenangkan, pertimbangkan kemungkinan penyebab lain, termasuk rasa sakit atau kondisi medis tertentu.
Kapan harus cek ke dokter?
Sesekali mengalami overstimulasi sebenarnya merupakan hal yang wajar bagi bayi. Namun dalam beberapa kasus, overstimulasi yang terlalu sering terjadi bisa menjadi tanda adanya kondisi lain, seperti gangguan pemrosesan sensorik.
Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila ada tanda-tanda berikut:
- Perilaku anak mengganggu aktivitas dan rutinitas sehari-hari
- Anak mengalami kesulitan bergerak atau berdiri
- Reaksi anak terlalu sulit ditangani tanpa bantuan profesional
Itulah penjelasan tentang penyebab overstimulasi pada bayi. Ingat, perhatikan selalu respons bayi saat berada di lingkungan ramai. Segera pindah ke tempat tenang jika Si Kecil tampak sudah kelelahan ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Kapan Bayi Disebut Balita atau Toodler? Beda Usia Beda Penyebutan, Jangan Salah Bun!
Parenting
12 Kebiasaan yang Bisa Membuat Tubuh Anak Tinggi, Salah Satunya Lompat Tali
Parenting
6 Manfaat Busy Book untuk Anak, Benarkah Bisa Tingkatkan Keterampilan Motorik Halus?
Parenting
7 Mainan Ini Bikin Anak Happy saat Mandi, Bantu Ia Belajar juga Bun
Parenting
3 Cara Pantau Tumbuh Kembang Anak
5 Foto
Parenting
5 Potret Cute Baby Regina Anak Ahok & Puput Nastiti Bareng Dua Kakaknya
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Ini Efek yang Terjadi pada Otak Bayi Jika Sering Menangis
Bayi Jarang Menangis Hanya Merengek, Normalkah? Kenali Penyebab & Cara Mengatasinya
Mengenal Parallel Play, Tahap Bermain Penting untuk Tumbuh Kembang Anak