parenting
Kebiasaan Sederhana Orang Tua Ini Ternyata Bisa Bikin Nilai Sekolah Anak Lebih Tinggi
HaiBunda
Jumat, 16 Oct 2026 14:10 WIB
Nilai sekolah yang tinggi masih menjadi patokan kecerdasan seorang anak. Sayangnya, tidak semua orang tua menganggap ini penting, Bunda.
Menurut temuan terbaru dari ujian standar yang diikuti oleh anak-anak berusia 15 tahun di seluruh dunia, minat keluarga terhadap pendidikan anak-anak menurun di banyak negara berpenghasilan tinggi karena sistem sekolah berjuang mengatasi penurunan drastis nilai ujian.
Dalam temuan ini, lebih dari 760 ribu remaja di puluhan negara, mengikuti survei dalam Programme for International Student Assessment (PISA) atau Program Penilaian Siswa Internasional di tahun lalu. Hasilnya menunjukkan skor rata-rata dalam matematika, membaca, dan sains yang berada pada titik terendah dalam sejarah di antara negara-negara dengan ekonomi maju.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebiasaan orang tua bisa membuat nilai anak turun
Alasan mengapa nilai-nilai turun begitu drastis dapat ditemukan dalam survei ini, Bunda. Dibandingkan dengan hasil tahun 2022, hampir setiap negara mengalami penurunan dukungan keluarga terhadap pendidikan anak-anak mereka, terutama untuk anak laki-laki, yang diukur melalui pertanyaan tentang seberapa sering orang tua berbicara dengan anak-anak tentang pekerjaan sekolah atau menunjukkan minat pada pembelajaran anaknya.
"Orang tua lebih memandang diri mereka sebagai klien sekolah, bukan sebagai seseorang yang memiliki minat pribadi," kata direktur pendidikan dan keterampilan untuk Organization for Economic Cooperation and Development, Andreas Schleicher, dilansir laman AP News.
Anak-anak yang mengatakan bahwa anggota keluarga mereka setidaknya setiap minggu menanyakan apa yang mereka lakukan di sekolah memperoleh skor sekitar 35 poin lebih tinggi pada tes sains. Hasil ini dibandingkan dengan siswa yang keluarganya kurang menunjukkan minat terhadap pendidikan.
Selain dukungan, kebiasaan orang tua membebaskan anak bermain gadget juga bisa membuat nilai turun. Lebih dari seperempat siswa di negara-negara berpenghasilan tinggi mengeluh bahwa teman sekelas mereka terganggu oleh perangkat digital di sebagian besar atau setiap kelas sains.
"Tidak diragukan lagi ada hubungan kuat antara siswa yang menggunakan perangkat digital untuk hiburan dan nilai ujian yang lebih rendah," ungkap Schleicher.
"Namun, ketika teknologi digunakan untuk pembelajaran, hasilnya lebih beragam."
Menurut laporan di beberapa negara, penggunaan perangkat digital selama sekitar dua hingga tiga jam per hari di sekolah menunjukkan nilai ujian yang lebih tinggi. Tetapi, nilai tersebut menurun begitu penggunaan teknologi melampaui batas.
Dampak orang tua tidak realistis pada pencapaian anak
Nilai yang tinggi memang bisa menunjukkan kecerdasan anak. Tapi, banyak orang tua memiliki harapan tinggi terhadap prestasi akademik anak-anak mereka. Menurut penelitian yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA), jika harapan tersebut tidak realistis, maka dampaknya anak-anak mungkin tidak berprestasi baik di sekolah.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa aspirasi orang tua yang tinggi menyebabkan peningkatan prestasi akademik, tetapi hanya ketika aspirasi tersebut tidak melebihi harapan yang realistis. Ketika aspirasi melebihi harapan, prestasi anak-anak menurun secara proporsional.
"Penelitian kami mengungkapkan aspek positif dan negatif dari aspirasi orang tua terhadap prestasi akademik anak-anak mereka. Meskipun aspirasi orang tua dapat membantu meningkatkan prestasi akademik anak, aspirasi orang tua yang berlebihan dapat menjadi racun," kata penulis utama Kou Murayama, PhD, dari University of Reading.
Studi ini menunjukkan bahwa fokus program pendidikan tersebut seharusnya bukan pada peningkatan aspirasi orang tua yang berlebihan, tetapi pada pemberian informasi yang dibutuhkan orang tua untuk mengembangkan harapan yang realistis.
"Harapan yang terlalu tinggi dan tidak realistis dapat menghambat prestasi akademik. Meningkatkan harapan saja bukanlah solusi efektif untuk meningkatkan keberhasilan dalam pendidikan," ungkap Murayama, dikutip dari laman APA.
Jadi untuk membantu meningkatkan nilai anak di sekolah, orang tua perlu memberikan dukungan penuh, bukan target yang tak masuk akal. Orang tua juga diharapkan memupuk kebiasaan untuk menunjukkan minat terkait pendidikan anak-anaknya.
Demikian kebiasaan sederhana orang tua yang ternyata bisa bikin nilai anak sekolah tinggi. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Niatnya Mendidik, 7 Kebiasaan Orang Tua Ini Justru Bisa Jadi Bumerang ke Anak
Parenting
Cuma 20 Menit Sehari, Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Bikin Anak Makin Dekat dengan Orang Tua
Parenting
5 Kebiasaan Sehari-hari Bikin Bayi Cerdas, Penting untuk Tumbuh Kembang Si Kecil
Parenting
7 Kebiasan Orang Tua Membuat Otak Anak Mengecil, Termasuk Memukul & Berteriak
Parenting
7 Kebiasaan Toksik Orang Tua ke Anak, Bisa Berdampak Negatif ke Tumbuh Kembang
7 Foto
Parenting
7 Potret Anak Artis Jago Olahraga Sejak Kecil, Salah Satunya Putra Sandra Dewi
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
8 Cara Orang Tua Menghadapi Nilai Ujian Anak yang Jelek Menurut Psikolog
Ciri Kepribadian yang Membuat Anak Lebih Berprestasi di Sekolah
7 Ciri Anak Tertekan Secara Emosional Meski Nilai Sekolahnya Tetap Bagus