parenting
Kemenkes Ungkap Hampir 10% Anak RI Alami Masalah Kesehatan Mental, Kenali Tanda Cemas & Depresi
HaiBunda
Jumat, 16 Oct 2026 16:30 WIB
Daftar Isi
Masalah kesehatan mental dapat menyerang semua usia, tak terkecuali anak-anak. Baru-baru ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengungkap hampir 10 persen anak di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, Bunda.
Temuan tersebut diketahui dari hasil pemeriksaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025-2026. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kemenkes mendeteksi gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah signifikan.
Menurut Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali," kata Budi, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3/26), dilansir laman Kemenkes RI.
Budi mengatakan, persoalan terkait kesehatan mental pada anak perlu mendapat perhatian serius karena dapat berakibat fatal. Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan tren anak yang mencoba mengakhiri hidup mengalami peningkatan, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.
Menurut Budi, masalah kesehatan jiwa pada anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu. Faktor lingkungan keluarga, pertemanan, serta pendidikan juga memegang peranan penting.
"Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik," ungkapnya.
Seperti dari data CKG, gejala masalah kesehatan mental yang ditemukan pada anak di antaranya adalah kecemasan dan depresi. Lantas, apa saja tanda anak cemas dan depresi yang perlu diketahui orang tua?
Simak penjelasan dari Bubun berikut ini ya!
Gangguan kecemasan pada anak
Gangguan kecemasan atau anxiety disorders merupakan salah satu jenis gangguan mental. Gangguan ini terjadi ketika seseorang merespon situasi atau hal-hal yang dialaminya dengan perasaan takut, cemas, dan khawatir yang berlebihan, bahkan tanpa alasan yang jelas.
Gangguan kecemasan ini bisa berlangsung cukup lama, sehingga berdampak pada kemampuan untuk beraktivitas sehari-hari dan kualitas hidup. Ada beberapa jenis gangguan kecemasan, yakni gangguan kecemasan umum, gangguan kecemasan sosial, fobia, dan panic disorder.
Penyebab gangguan kecemasan pada anak
Dikutip dari laman Cleveland Clinic, penyebab kecemasan pada anak dapat bervariasi, Bunda. Beberapa anak secara alami sensitif dan mungkin kesulitan mengatasi perubahan atau emosi yang kuat.
Anak-anak juga mungkin memiliki kecenderungan biologis atau keluarga untuk cemas. Kecemasan juga dapat berkembang setelah peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, dan beberapa orang mengalami banyak peristiwa yang penuh tekanan sejak usia sangat dini.
Namun, sebenarnya sulit untuk mengatakan dengan pasti apa penyebab utama kecemasan pada anak-anak. Rasa takut adalah bagian alami dari tumbuh kembang. Beberapa anak dapat mengatasinya dengan baik. Tetapi bagi anak-anak dengan kecemasan yang mengganggu kehidupan sehari-hari mereka, diperkirakan bahwa faktor genetika, biologi, dan riwayat keluarga dapat berperan.
Tanda gangguan kecemasan pada anak
Melansir dari beberapa sumber, berikut beberapa tanda gangguan kecemasan yang dapat dialami oleh anak:
- Muncul rasa gelisah, tegang, dan sulit untuk tenang
- Sulit fokus atau berkonsentrasi
- Mengalami gangguan tidur
- Sakit kepala atau nyeri otot
- Merasa lelah berlebihan
- Otot tegang atau tremor
- Keringat dingin
- Napas tersengal-sengal atau sesak napas
- Jantung berdebar-debar
- Merasa mual
- Bersikap manja, terutama pada anak kecil
- Mengeluh sakit perut dan merasa tidak enak badan
- Selalu menangis
- Mudah marah atau tersinggung, dan kehilangan kendali saat meluapkan emosi
- Makan lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya
Depresi pada anak
Depresi adalah gangguan kesehatan mental yang menyebabkan seseorang merasa sedih berkepanjangan dan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari yang biasa dilakukan. Kondisi ini dapat berlangsung lama, mulai dari berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Depresi pada anak adalah gangguan suasana hati yang dapat menyebabkan mereka merasa sedih, mudah tersinggung, atau putus asa. Anak-anak sering mengalami perubahan suasana hati. Tetapi setelah beberapa saat, mereka cenderung merasa lebih baik lagi.
Depresi itu berbeda. Jika anak mengalami depresi, maka kesedihannya akan berlangsung lebih dari dua minggu. Mereka mungkin juga mudah tersinggung atau merasa putus asa yang berkepanjangan. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi tidur, nafsu makan, atau hubungan anak dengan orang lain.
Depresi juga dapat mencegah anak Anda menikmati sekolah, olahraga, atau hobi yang pernah mereka sukai. Dalam kasus yang parah, depresi dapat menyebabkan pikiran untuk mengakhiri hidup.
Penyebab depresi pada anak
Para ahli tidak mengetahui secara pasti apa penyebab depresi pada anak-anak dan remaja. Namun mereka berpendapat bahwa faktor genetik dan lingkungan bisa berperan.
Depresi pada anak-anak kemungkinan besar berhubungan dengan beberapa faktor berikut ini:
- Faktor genetika dan riwayat keluarga (kerabat biologis dekat lainnya juga menderita depresi).
- Penyakit atau cedera fisik.
- Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan seperti perpisahan, perceraian, pindah rumah, atau kematian orang terdekat.
- Penggunaan zat terlarang.
- Perundungan atau paparan terhadap pengalaman traumatis lainnya.
Tanda depresi pada anak
Depresi pada anak mungkin tampak berbeda dari depresi pada orang dewasa. Tanda dan gejala depresi pada anak meliputi:
- Perubahan suasana hati. Anak mungkin tampak lebih sedih atau lebih mudah marah dari biasanya, dan mereka merasa seperti ini hampir sepanjang waktu.
- Kurangnya minat pada kegiatan yang menyenangkan.
- Tingkat energi rendah atau kelelahan umum.
- Pembicaraan negatif tentang diri sendiri atau rendah diri.
- Sulit tidur atau tidur terlalu banyak.
- Hilang nafsu makan.
- Gangguan fisik, seperti nyeri punggung dan sakit kepala.
- Merasa pesimis dan tidak berguna.
- Sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan.
- Memiliki pikiran menyakiti diri sendiri.
Bila Si Kecil menunjukkan tanda kecemasan atau depresi, Bunda sebaiknya segera membawa ke ahli medis atau profesional ya. Demikian berita tentang tanda kecemasan dan depresi pada anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Dari Ceria Jadi Tak Terkontrol, Kisah Anak 9 Tahun yang Alami Perubahan Perilaku Drastis
Parenting
Anak SD yang Alami Depresi Makin Banyak, Ternyata Ini Penyebabnya
Parenting
Curhat Influencer Naajmi W, Khawatir Putrinya Alami Depresi di Usia 5 Tahun
Parenting
3 Dampak Buruk Tak Menjaga Kesehatan Mental Anak
Parenting
7 Kesalahan Orang Tua yang Dapat Merusak Mental Anak
5 Foto
Parenting
Bagikan Foto Lebaran, Deretan Artis Ini Masih Rahasiakan Wajah Anak
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
12 Tanda Anak Mengalami Depresi, Cepat Marah hingga Berpikir Kematian
9 Tanda Anak Merasa Tertekan untuk Selalu Sempurna
Alarm Kesehatan Mental Anak, Kemenkes Umumkan Ratusan Bocah Alami Gejala Depresi