parenting
Tanda-Tanda Kecemasan pada Anak yang Jarang Disadari Orang Tua
HaiBunda
Selasa, 13 Oct 2026 09:20 WIB
Daftar Isi
Bukan cuma orang dewasa, anak juga bisa mengalami kecemasan atau anxiety. Bagaimana tanda-tanda kecemasan pada anak yang perlu Bunda ketahui?
Dikutip dari Cleveland Clinic, kecemasan pada anak dapat dianggap sebagai gangguan jika rasa khawatir atau takut yang muncul sampai mengganggu kehidupannya selama lebih dari 6 bulan.
Kendati demikian, tidak selalu mudah bagi orang tua untuk mengetahui apakah anak sedang mengalami kecemasan.Â
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada anak yang bisa dengan mudah bercerita tentang rasa takutnya, ada pula yang sebaliknya. Orang tua pun perlu mengetahui tanda-tanda anak kecemasan pada anak.Â
Apa itu kecemasan pada anak?
Dalam masa tumbuh kembang anak, wajar jika mereka memiliki rasa cemas dan takut.
Takut merupakan reaksi alami ketika sedang menghadapi bahaya, sementara kecemasan merupakan reaksi terhadap 'kemungkinan' adanya ancaman.Â
Rasa takut dan cemas terhadap hal-hal baru biasanya hanya berlangsung sementara. Hal ini juga menunjukkan bahwa anak sedang belajar menghadapi masalah dan mencari cara untuk mengatasinya sendiri.
Nah, gangguan kecemasan pada anak berbeda dari rasa takut atau cemas yang biasa terjadi, Bunda. Gangguan ini biasanya ditandai dengan perilaku menghindar yang lebih ekstrem, reaksi emosional yang lebih besar, atau berlangsung lebih lama dari yang seharusnya.
Anak dengan gangguan kecemasan sering mengalami luapan emosi, seperti menangis atau tantrum. Mereka juga cenderung banyak menghindari situasi yang membuatnya cemas.
Selain itu, anak juga dapat mengalami berbagai gejala fisik, seperti sakit perut, sakit kepala, mual, muntah, sesak napas, atau gangguan tidur.
Apa saja jenis kecemasan pada anak?
Ada beberapa jenis gangguan kecemasan yang dapat dialami anak seperti dikutip berbagai sumber:
1. Gangguan kecemasan perpisahan
Kecemasan perpisahan atau separation anxiety merupakan bagian normal dan penting dari perkembangan anak. Kondisi ini biasanya mulai muncul ketika anak berusia sekitar 8 hingga 12 bulan.
Pada kecemasan perpisahan yang normal, anak mungkin takut terhadap orang asing dan merasa tidak aman ketika orang tua tidak berada di dekatnya.
Biasanya, kecemasan perpisahan mulai berkurang ketika anak memasuki usia prasekolah. Namun, gangguan kecemasan perpisahan bisa menjadi lebih ekstrem dan terus berlanjut setelah melewati tahap perkembangan yang seharusnya.
Dalam kondisi ini, anak mungkin terus merasa khawatir terhadap orang tua atau anggota keluarga lainnya. Mereka juga tidak mau pergi ke sekolah, tidak mau jauh dari rumah atau keluarga, bahkan enggan berpisah ketika hendak tidur.
2. Fobia spesifik
Rasa takut sebenarnya berfungsi untuk melindungi diri dari bahaya. Karena itu, anak merasa takut terhadap hal tertentu merupakan sesuatu yang wajar.Â
Misalnya, anak pada umumnya takut terhadap suara petir, badut, atau hal-hal lainnya. Namun, fobia spesifik merupakan rasa takut yang sangat kuat dan tidak sebanding dengan ancaman bahaya yang sebenarnya.
3. Gangguan kecemasan sosial
Gangguan kecemasan sosial ditandai dengan rasa takut yang intens terhadap penilaian atau penolakan dalam situasi sosial. Anak mungkin menghindari berbicara di depan umum atau tampil di hadapan orang lain.
Mereka juga mungkin merasa sangat tidak nyaman ketika harus berinteraksi dengan orang lain di sekolah atau lingkungan yang sudah dikenalnya. Dalam beberapa kasus, anak bahkan menghindari situasi sosial sepenuhnya.
4. Gangguan kecemasan umum
Gangguan kecemasan umum ditandai dengan rasa khawatir dan takut yang berlebihan terhadap berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari. Anak mungkin juga lebih sering mengkhawatirkan masa depan dibandingkan anak lain seusianya.
Kekhawatiran anak bisa sangat beragam dan berubah dari waktu ke waktu. Namun, biasanya selalu ada sesuatu yang membuat mereka merasa cemas.
5. Gangguan panik
Anak dengan gangguan panik dapat mengalami episode ketika muncul rasa takut dan cemas yang sangat kuat, disertai gejala fisik seperti jantung berdebar dan pusing.Â
Anak juga mungkin merasa kesulitan bernapas atau seperti tidak bisa bernapas. Serangan panik dapat muncul secara tiba-tiba tanpa peringatan dan biasanya mereda dalam hitungan menit hingga beberapa jam.
Apa saja tanda-tanda kecemasan pada anak?
Dikutip dari Child Mind Institute, kecemasan merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang cukup umum dialami pada masa anak-anak dan remaja.Â
Berikut beberapa tanda-tanda kecemasan pada anak yang umum terjadi:
1. Sering merasa khawatir
Anak dengan kecemasan dapat merasakan kekhawatiran atau ketakutan yang tidak sebanding dengan kondisi yang sebenarnya mereka hadapi.
Kekhawatiran tersebut tidak kunjung hilang, bahkan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari anak.Â
2. Mengalami gejala fisik
Anak yang cemas juga mungkin memiliki gejala fisik seperti sakit kepala, sakit perut, berkeringat, dan jantung berdebar. Perhatikan keluhan yang disampaikan oleh anak ya, Bunda.
"Anak-anak yang memiliki gangguan cemas dapat menunjukkan gejala fisik, seperti sakit perut atau sakit kepala yang sering terjadi," Â ucap Rachel Delany, MD, dikutip dari Parents.
3. Menghindari situasi tertentu
Tergantung pada hal yang membuatnya cemas, anak mungkin menghindari situasi yang sebenarnya dapat dinikmati atau dijalani dengan nyaman oleh anak-anak lain.
Misalnya, anak dengan kecemasan sosial mungkin menghindari bermain bersama anak lain atau meminta untuk tidak pergi ke sekolah dan tetap berada di rumah.
4. Sulit berkonsentrasi
Pikiran yang dipenuhi rasa cemas dapat membuat anak sulit memusatkan perhatian pada tugas sekolah maupun aktivitas lainnya.
5. Sulit tidur
Rasa khawatir yang terus muncul juga dapat mengganggu tidur anak. Mereka mungkin sulit untuk bisa tidur dengan cukup dan nyenyak. Efeknya, mereka jadi semakin sulit untuk beraktivitas dengan baik keesokan harinya.
6. Menunjukkan perilaku yang mengganggu
Ketika kewalahan menghadapi perasaan yang tidak nyaman, anak dengan kecemasan terkadang dapat melampiaskannya dengan marah, menyerang, atau menunjukkan perilaku agresif.
7. Terus ingin dekat dengan orang tua atau pengasuh
Anak yang mengalami kecemasan mungkin kesulitan berpisah dari orang tua dan membutuhkan banyak kepastian atau diyakinkan berulang kali.
8. Terlalu keras terhadap dirinya sendiri
Sebagian anak yang mengalami kecemasan sering merasa takut gagal atau khawatir akan terlihat buruk di depan orang lain.Â
Mereka mungkin memiliki rasa percaya diri yang rendah, sehingga sering mengatakan hal-hal negatif tentang dirinya sendiri.
Apa penyebab kecemasan pada anak?
Sebagian anak memang memiliki sifat yang lebih sensitif secara alami dan mungkin lebih sulit menghadapi perubahan atau emosi yang kuat.
Anak-anak tersebut mungkin memiliki kecenderungan biologis atau faktor keluarga yang membuat mereka lebih rentan mengalami kecemasan.
Kecemasan juga dapat berkembang setelah anak mengalami berbagai peristiwa yang penuh tekanan sejak usia sangat dini, seperti:
- Rasa duka setelah ada anggota keluarga atau kerabat yang meninggal dunia
- Pindah ke rumah atau sekolah baru, terutama jika perpindahan tersebut terjadi berulang kali
- Kesulitan mendapatkan pendidikan yang konsisten
- Orang tua yang sering bertengkar atau berkonflik, termasuk perpisahan dan perceraian
- Perundungan, kekerasan, atau penelantaran
Apa penyebab utama kecemasan pada anak?
Sulit untuk mengetahui secara pasti apa penyebab utama kecemasan pada masa kanak-kanak. Ini karena rasa takut sendiri merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang anak.
Sebagian anak dapat mengelola rasa takut tersebut dengan baik. Namun pada anak yang kecemasannya sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, faktor genetik, biologis, dan riwayat keluarga diyakini turut berperan.
Bagaimana kecemasan pada anak didiagnosis?
Untuk mendiagnosis kecemasan pada anak, tenaga kesehatan profesional biasanya akan berdiskusi dengan orang tua sekaligus anak.
Mereka akan menanyakan perilaku anak dan bagaimana orang tua mengetahui bahwa anak sedang mengalami kecemasan.
Anak juga akan diminta menceritakan gejala yang mereka rasakan, termasuk kapan gejala tersebut biasanya muncul.
Orang tua mungkin diminta pula untuk mengisi kuesioner. Jika perlu informasi lebih lanjut, tenaga kesehatan dapat melakukan diskusi dengan guru atau pengasuh anak lainnya.
Anak dapat didiagnosis mengalami gangguan kecemasan jika tidak ditemukan penyebab lain dari gejalanya, serta kecemasan tersebut menimbulkan tekanan emosional.
Bagaimana kecemasan pada anak ditangani?
Ada dua cara utama untuk menangani kecemasan pada anak, yaitu terapi perilaku kognitif dan terapi dengan obat-obatan.
Kedua penanganan tersebut dapat dilakukan secara terpisah. Namun, keduanya tampaknya memberikan hasil yang lebih baik jika dilakukan secara bersamaan sesuai kebutuhan:
1. Terapi perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT) membantu anak mempelajari berbagai keterampilan untuk menghadapi kecemasan.Â
Keterampilan tersebut dapat membantu anak menenangkan reaksi tubuh, mengubah pola pikir, serta menghadapi rasa takut dan tantangan secara bertahap. Anak dapat mempelajari keterampilan ini melalui terapi individual maupun terapi kelompok.Â
2. Terapi obat-obatan
Obat-obatan yang digunakan untuk menangani kecemasan pada anak juga dapat menimbulkan efek samping tertentu, sehingga perlu dilakukan hanya berdasarkan resep dari dokter saja.Â
Itulah penjelasan tentang tanda-tanda kecemasan pada anak yang jarang disadari orang tua. Semoga bermanfaat ya, Bunda!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
3 Tips Melatih Anak agar Tak Gampang Cemas
Parenting
7 Sikap Orang Tua yang Terlihat Baik tapi Ternyata Bikin Anak Cemas Menurut Psikolog
Parenting
Kenapa Anak Zaman Sekarang Lebih Sering Merasa Cemas? Ternyata Ini Alasannya Menurut Pakar
Parenting
4 Cara agar Anak Merasa Miliki Privasi, tapi Tetap Bisa Bunda Pantau
Parenting
Buang Jauh Gengsi Bun, Ini Pentingnya Orang Tua Minta Maaf pada Anak
7 Foto
Parenting
7 Potret Mima Shafa, Anak Mona Ratuliu yang Jadi Penggiat Isu Kesehatan Mental
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Dari 'Aku Takut' Jadi 'Aku Mau Coba': Cara Mendampingi Anak Hadapi Pengalaman Baru
5 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Disiplin dan Sopan tanpa Hukuman
8 Cara Mendidik Anak agar Tangguh Menghadapi Tantangan Menurut Pakar