Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

10 Ciri Anak yang Tanpa Sadar Dipaksa Memikul Peran Orang Tua

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 03 Oct 2026 16:20 WIB

Ilustrasi Anak
10 Ciri Anak yang Tanpa Sadar Dipaksa Memikul Peran Orang Tua/ Foto: Getty Images/iStockphoto/nanausop
Daftar Isi
Jakarta -

Setiap anak membutuhkan ruang untuk bermain, belajar, dan mendapatkan dukungan dari orang dewasa di sekitarnya. Namun, dalam situasi tertentu, anak justru dituntut harus menjadi sosok yang kuat dan mampu mengurus banyak hal sendiri.

Mereka tanpa sadar memikul peran orang tua untuk mengambil tanggung jawab. Nah, beban itu bisa berdampaknya serius bila tanggung jawab perlahan berubah menjadi pola yang disebut parentifikasi, Bunda.

Menurut psikolog Joseph Laino, parentifikasi adalah sebuah pola di mana anak-anak bertindak sebagai pengasuh atau orang tua. Anak dituntut untuk mengelola emosi orang dewasa atau tugas rumah tangga sebelum mereka siap secara usia perkembangan. Parentifikasi dapat berdampak buruk pada kesehatan mental anak-anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Hal ini dapat memicu kecemasan bagi anak, karena mereka tidak memiliki pegangan untuk diandalkan di luar diri mereka sendiri. Ini dapat membuat anak merasa kehilangan arah dan tidak aman," ungkap Laino, dilansir laman Net Mums.

Ada dua jenis bentuk utama dari parentifikasi, yakni parentifikasi emosional dan parentifikasi instrumental. Parentifikasi emosional terjadi ketika seorang anak menjadi orang kepercayaan atau penengah bagi orang dewasa, menyimpan rahasia, menawarkan kenyamanan dan jaminan, atau selalu siap secara emosional.

Sementara itu, parentifikasi instrumental terjadi ketika anak mengambil alih pekerjaan orang dewasa seperti memasak, membersihkan rumah, atau merawat saudara kandung mereka.

Banyak anak membantu di rumah dengan menyiapkan meja makan atau mengawasi adik mereka yang lebih muda, dan itu diyakini dapat membangun kepercayaan diri. Namun, hal itu dapat berubah menjadi parentifikasi ketika beban kerja menjadi berat, rutin, dan sebagian besar melayani kebutuhan orang tua daripada kebutuhan anak.

Dampak anak dipaksa memikul beban orang tua

Anak-anak yang diberi peran sebagai orang tua sering merasa harus menekan kebutuhan mereka sendiri. Hal ini dapat menyebabkan gangguan kecemasan, penyalahgunaan zat terlarang, depresi, isolasi sosial, hingga pikiran untuk mengakhiri hidup.

Seiring waktu, anak mungkin mulai percaya bahwa kebutuhan mereka kurang penting dibandingkan kebutuhan orang lain. Keyakinan itu dapat mempersulit penetapan batasan dan meningkatkan risiko memilih hubungan di masa dewasa di mana mereka sekali lagi merasa seperti pengasuh tetap.

Penelitian yang diterbitkan di International Journal of Environmental Research and Public Health tahun 2023 menunjukkan bahwa anak-anak yang berperan sebagai orang tua lebih rentan membentuk keterikatan yang tidak sehat dengan orang lain.

Sebenarnya, anak-anak memang memiliki kecenderungan suka membantu. Namun, hal tersebut tetap membutuhkan batasan yang jelas.

Perbedaan utama batasan terletak pada beban yang diberikan. Hal tersebut dianggap salah bila anak berperan sebagai orang tua dan memikul tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tua.

10 ciri anak yang memikul peran orang tua

Ada tanda khas ketika anak terlihat memikul beban menjadi orang tua di keluarganya. Berikut 10 ciri anak yang tanpa sadar dipaksa memikul peran orang tua:

  1. Anak tampaknya terdorong untuk menyenangkan orang dewasa, bahkan ketika kelelahan.
  2. Si Kecil menunjukkan stres atau kecemasan berkelanjutan yang terkait dengan merawat orang lain.
  3. Anak terus-menerus mengkhawatirkan suasana hati atau keselamatan orang lain.
  4. Anak bergegas menghibur siapa pun yang sedang sedih, dan mengabaikan perasaan mereka sendiri.
  5. Si Kecil kehilangan kesempatan untuk bermain, melakukan hobi, atau menghabiskan waktu bersama teman-teman.
  6. Anak merasa bertanggung jawab atas masalah keluarga atau menjaga agar semua orang baik-baik saja.
  7. Anak merasa kewalahan dengan banyaknya pekerjaan rumah tangga atau perawatan yang mereka lakukan.
  8. Si Kecil kesulitan mengungkapkan apa yang mereka butuhkan atau inginkan.
  9. Si Kecil sering merasa bersalah atau malu ketika mereka tidak bisa memperbaiki sesuatu.
  10. Anak kesulitan menetapkan batasan yang sehat dengan orang lain.

Cara mengatasi parentifikasi di rumah

Setiap orang tua perlu melihat perubahan pola perilaku anak untuk mengetahui apakah ia tengah berada di zona parentifikasi atau tidak. Joseph menekankan pentingnya untuk mengakui apa yang sedang terjadi dan menerima bahwa semua ini bukanlah kesalahan anak.

Sebisa mungkin, orang tua perlu mengambil alih kembali tugas-tugas penting orang dewasa, kurangi untuk berbagi rahasia dengan anak, dan dorong anak untuk kembali bermain sesuai usianya. Bicaralah secara terbuka tentang batasan, jelaskan bahwa orang dewasa menangani masalah orang dewasa, dan carilah dukungan dari orang dewasa lain, bukan dari anak.

Joseph juga menyarankan untuk menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan, melakukan perawatan diri secara teratur, dan bersikap baik kepada diri sendiri. Jika dirasa sulit, Bunda bisa meminta bantuan dari profesional.

"Berhentilah menekan diri sendiri untuk menjadi sempurna. Terkadang bukan soal menjadi sempurna, tetapi lebih tentang menjadi cukup baik," ungkap Joseph.

"(Bila terasa sulit) Orang tua mungkin ingin mencari dukungan dari seorang profesional, seperti profesional kesehatan mental, profesional medis, atau penyedia layanan kesehatan lainnya."

Demikian 10 ciri anak yang tanpa sadar dipaksa memikul peran orang tua. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda