parenting
Ketahui Stimulasi Oromotor pada Bayi, Latih Kemampuan Bicara agar Cegah Speech Delay
HaiBunda
Senin, 05 Oct 2026 08:40 WIB
Daftar Isi
Ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dari stimulasi oromotor pada bayi, termasuk diyakini salah satunya mencegah speech delay. Benarkah demikian?
Sebelumnya stimulasi oromotor lebih banyak disebutkan penting untuk membantu proses bayi belajar mengunyah dan makan.
Namun kini, aktivitas-aktivitas dalam stimulasi tersebut juga diyakini bisa membantu mencegah keterlambatan bicara pada anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai gerakan pada area mulut merupakan bagian dari perkembangan kemampuan motorik oral, yang nantinya mendukung aktivitas seperti menelan dan menghasilkan suara.
Apa itu stimulasi oromotor?
Stimulasi oromotor adalah latihan untuk meningkatkan kekuatan, koordinasi, dan mobilitas lidah, rahang, bibir, dan mulut. Latihan ini dapat membantu anak mengembangkan koordinasi yang diperlukan untuk membentuk kata dan bunyi (artikulasi) dengan benar.
Jenis-jenis stimulasi ini juga dapat membantu meningkatkan keterampilan seperti menggosok gigi dan mengolah makanan.
Latihan motorik oral yang juga dikenal sebagai latihan orofasial, merupakan salah satu bagian dalam bidang terapi wicara, terapi okupasi, dan terapi fisik. Tujuannya menargetkan otot-otot di mulut dan wajah, terutama untuk memperkuat dan meningkatkan fungsinya.
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA) menjelaskan bahwa kemampuan motorik oral berkembang melalui pengalaman dan kesempatan melakukan aktivitas yang memang membutuhkan keterampilan tersebut.Â
Untuk aktivitas makan, misalnya, anak perlu mendapatkan kesempatan berlatih mengunyah makanan dengan tekstur yang sesuai.
Tahap perkembangan oromotor
Dikutip dari Journal of Clinical Chiropractic Pediatrics, antara usia 3-7 bulan bayi akan mengembangkan pola motorik oral yang meliputi mengunyah, gerakan rahang lateral dan diagonal, serta pola gerakan lidah lateral.
Jika pada usia 6 bulan bayi dapat duduk tanpa bantuan dan telah mengembangkan pola mengunyah, gerakan rahang, dan lidah, mereka umumnya mampu diberikan makanan berupa bubur encer dan kental (seperti pisang dan ubi).
Berikutnya di antara usia 7-9 bulan, aktivitas seperti duduk dan merangkak juga dapat mendukung stabilitas rahang dan perkembangan motorik halus untuk keterampilan makan lebih lanjut.
Pada usia 12 bulan, anak sudah mengembangkan dasar-dasar motorik oral untuk mendukung proses makan lebih lanjut. Seiring berjalannya waktu, anak akan melatih keterampilan ini untuk meningkatkan kemampuan makan.Â
Antara usia 16 dan 36 bulan, anak terus mengembangkan kekuatan rahang dan mengunyah makanan bertekstur lebih 'keras', seperti sayuran dan daging.Â
Apa itu speech delay?
Speech delay atau keterlambatan bicara adalah kondisi ketika kemampuan bicara anak belum mencapai tahapan yang diharapkan sesuai usianya.Â
Sebagai contoh, jumlah kosakata masih sangat terbatas, belum munculnya kata bermakna, atau kemampuan mengucapkan kata yang belum sesuai dengan tahap perkembangan.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), penting dilakukan stimulasi sejak dini. Misalnya mengajak anak membaca dengan suara jelas, mengobrol dan bercerita, merespons ocehan bayi dengan kata-kata sederhana, serta bernyanyi.
Namun, perlu diingat juga bahwa anak terlambat bicara bukan hanya terjadi karena kurang latihan otot mulut ya, Bunda. Jika curiga Si Kecil memiliki tanda keterlambatan, segera lakukan pemeriksaan ke profesional seperti dokter anak, psikolog, atau terapis wicara.
Tips stimulasi oromotor untuk cegah speech delay
Latihan oromotor bisa dilakukan dengan melakukan aktivitas yang memperkuat otot-otot mulut dan wajah. Ini sangat penting tahap belajar berbicara.
Stimulasi ini dapat sangat bermanfaat bagi anak-anak yang mengalami kesulitan di area mulut karena keterlambatan perkembangan, gangguan neurologis, atau kondisi kesehatan lainnya.Â
Berikut beberapa tips stimulasi oromotor yang dapat coba diterapkan sebagai upaya mencegah speech delay:
1. Meniup bola kapas
Letakkan bola kapas di atas meja dan minta anak meniupnya dengan menggunakan sedotan. Latihan ini juga dapat membantu anak meningkatkan kendali atas pernapasan dan posisi bibir.
2. Minum menggunakan sedotan
Ajak anak untuk minum cairan dengan tingkat kekentalan berbeda, misalnya minum air, susu, lalu jus buah dengan berbagai ukuran sedotan. Meski tampak sederhana, aktivitas ini juga dapat menstimulasi otot pipi.
3. Beri kesempatan mengeksplorasi makanan sesuai usia
Ketika bayi sudah siap memulai MPASI, berikan makanan dengan tekstur yang sesuai tahap perkembangannya. Bayi secara bertahap akan belajar menggunakan lidah, rahang, dan otot mulut untuk memindahkan serta mengunyah makanan.
Eksplorasi berbagai varian tekstur juga melatih otot-otot tenggorokan dan mengoordinasikan pergerakan makanan ke dalam kerongkongan.
ASHA menekankan bahwa keterampilan motorik lebih baik dipelajari melalui pengalaman melakukan aktivitas yang memang membutuhkan kemampuan tersebut.
4. Ajak bayi menirukan suara dan ekspresi wajah
Stimulasi oromotor tidak harus selalu dilakukan ketika makan, lho. Bunda juga dapat mengajak bayi bermain dengan suara dan ekspresi wajah, misalnya membuat suara 'ba-ba', 'ma-ma', atau suara kendaraan dan binatang.
Ketika bayi mengeluarkan suara, tanggapi dan tirukan kembali. Pola bergantian seperti ini membantu menciptakan interaksi dua arah.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), permainan back-and-forth atau timbal balik seperti ini juga termasuk kegiatan yang bisa diajarkan untuk melatih kemampuan berkomunikasi anak.
5. Bermain tiup gelembung
Ajak Si Kecil untuk bermain tiup gelembung. Kegiatan ini dapat membantu memperkuat otot-otot yang diperlukan untuk mengendalikan napas dan membulatkan bibir.
6. Bernyanyi dan bermain musik
Supaya lebih menyenangkan, ajak anak untuk bernyanyi dengan lagu-lagu yang melibatkan suara panjang. Gunakan juga ekspresi atau gerakan wajah yang menarik, sehingga bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk melatih kontrol napas dan artikulasi.
7. Bermain ekspresi di depan cermin
Di depan cermin, ajak anak untuk sama-sama membuat berbagai ekspresi wajah lucu. Misalnya seperti tersenyum lebar atau mengerucutkan bibir. Latihan ini membantu meningkatkan kontrol dan fleksibilitas otot wajahnya.
8. Membacakan buku bersama
Tak sekadar memperkenalkan kosakata, membaca buku bersama juga memberikan kesempatan bayi mendengar berbagai intonasi, irama, dan pola suara.
Anak tidak perlu dituntut untuk memahami isi cerita. Bunda dapat menunjukkan gambar, menyebutkan namanya, kemudian berikan kesempatan bayi merespons dengan suara, tatapan, atau gestur.
IDAI menjelaskan bahwa membacakan cerita dapat menjadi stimulasi bagi bayi. Intonasi, irama, dan warna suara yang beragam membantu bayi mengenali pola suara dalam percakapan.
Kapan perlu konsultasi ke dokter?
Meski sudah melakukan berbagai stimulasi ini di rumah, Bunda juga perlu mengetahui kapan waktunya untuk membawa Si Kecil konsultasi ke tenaga profesional.
IDAI mencantumkan beberapa tanda yang perlu diperhatikan, seperti:
- Tidak adanya babbling pada usia 12 bulan
- Belum ada kata bermakna pada usia 16 bulan
- Belum mampu membuat frasa bermakna setelah usia 24 bulan
- Kehilangan kemampuan bicara yang sebelumnya sudah dikuasai
Jika kemampuan tersebut belum muncul atau justru terjadi kemunduran kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, konsultasikan dengan dokter anak untuk mengetahui apakah anak membutuhkan pemeriksaan dan evaluasi lebih lanjut.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Selain Terapi, 7 Cara Stimulasi Anak dengan Speech Delay di Rumah
Parenting
Speech Delay pada Anak: Ketahui Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Parenting
7 Kebiasaan Ini Bikin Anak Speech Delay, Termasuk Terlalu Banyak Screentime
Parenting
5 Kesalahan Pola Asuh Orang Tua yang Bikin Anak Berisiko Speech Delay
Parenting
Tanda Speech Delay pada Anak Bisa Ditemukan pada 3 Rentang Usia Ini Bun
7 Foto
Parenting
7 Potret Shafiyyah Anak Ketiga Shireen Sungkar yang Alami Keterlambatan Bicara
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Kebiasaan Sehari-hari Bikin Bayi Cerdas, Penting untuk Tumbuh Kembang Si Kecil
Selain Terapi, 7 Cara Stimulasi Anak dengan Speech Delay di Rumah
7 Kebiasaan Stimulasi Perkembangan Bahasa pada Anak, Bunda Perlu Tahu