Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Anak Sudah Dewasa tapi Masih Sering Diingatkan Orang Tua? Ternyata Ini Alasannya Menurut Psikologi

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Senin, 28 Sep 2026 13:35 WIB

over parenting
Alasan orang tua masih mengingatkan anak meski sudah dewasa/ Foto: Getty Images/iStockphoto/maruco

Bunda, mungkin masih harus mengingat anak-anak meski sudah dewasa. Ternyata, anak-anak yang harus diingatkan meski sudah dewasa ini ada alasannya lho menurut pakar.

Sebagian anak-anak cenderung menunggu melakukan sesuatu, sehingga terkesan harus diingatkan terlebih dahulu oleh ibunya. Seperti misalnya, "Kamu jangan lupa makan, ya!", "Sebelum pergi ke luar rumah, cek dulu kompor sama listriknya!"

Namun, tahukah Bunda bahwa hal tersebut bisa membuat seorang anak merasa dikendalikan, atau menganggapnya sebagai sikap keras kepala semata dari pihak mereka, seolah-olah mereka tidak mengakui sang anak sebagai orang dewasa yang cakap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dikutip dari India Times, penelitian dalam psikologi perilaku dan dinamika keluarga menunjukkan penjelasan yang lebih mendalam. Saat orang tua mengirimkan pengingat praktis seperti itu, mereka mungkin bertindak berdasarkan kebiasaan dan rasa peduli, bukan karena keinginan untuk mengendalikan hidup.

Sebaliknya, mereka sedang menghadapi kenyataan neurologis yang mengakar kuat, yakni kebiasaan mengasuh secara intensif tidak serta-merta berhenti begitu saja saat anak menginjak usia 18 tahun atau pindah rumah. Perilaku protektif tersebut bisa tetap sangat aktif di otak orang tua, jauh setelah anak-anak mereka tidak lagi benar-benar membutuhkannya.

Radar perlindungan orang tua tidak pernah hilang

Untuk memahami mengapa orang tua terus memantau urusan sehari-hari sang anak, perlu dilihat betapa banyaknya waktu yang mereka habiskan untuk melakukan hal tersebut. Selama lebih dari dua dekade, dorongan biologis dan psikologis utama orang tua adalah menjaga anak agar tetap aman, sehat, dan teratur.

Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memantau lingkungan sekitar demi mendeteksi ancaman kecil, memeriksa suhu udara yang dingin, memantau tenggat waktu dalam kalender, serta memastikan tercapainya tahapan perkembangan anak.

Rasa tanggung jawab yang berkelanjutan ini menciptakan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai "skema pengasuhan" (caregiving schema), yaitu sebuah konstruksi mental yang akan terus membentuk cara informasi ditafsirkan sepanjang hidup.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di International Journal of Aging and Human Development, para peneliti mengkaji berbagai kekhawatiran yang dimiliki orang tua dan anak-anak mereka yang sudah dewasa satu sama lain, demi memahami lebih baik proses perlindungan seumur hidup ini.

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang jelas antar-generasi. Sementara anak-anak dewasa terutama mengkhawatirkan masalah kesehatan orang tua akibat penuaan, kekhawatiran orang tua jauh lebih beragam dan mendetail. Mereka mungkin terus-menerus memikirkan kesejahteraan anak-anak mereka.

Ketika orang tua mengirimi anak pesan tentang badai hujan, mereka tidak serta-merta meragukan sang anak. Hal itu mungkin hanyalah sebuah kebiasaan yang muncul secara otomatis. Momentum dari kebiasaan logistik yang terbentuk selama puluhan tahun

Upaya mengatur kehidupan sehari-hari dapat meninggalkan kebiasaan psikologis yang menetap. Tindakan orang tua yang terus memantau hal-hal kecil pada anaknya yang sudah dewasa (microparenting) dapat dipahami sebagai hasil dari kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun, Bunda.

Boleh khawatir, tapi jangan over parenting anak yang dewasa

Perasaan khawatir kerap menyelimuti hati orang tua. Namun, sebagai orang tua kita harus beralih dari sekadar mengendalikan perilaku anak ke arah pengembangan karakter, kemampuan mengambil keputusan, dan kemandirian mereka. Dikutip dari laman Raising Healthy Families, kita harus:

  • Biarkan anak merasakan konsekuensi alami. Bunda tidak harus menyelesaikan setiap masalah bagi anak. Jika situasinya tepat, biarkan mereka merasakan akibat dari pilihan mereka dan belajar darinya.
  • Tetapkan batasan tanpa harus mengendalikan segalanya. Tidak melakukan over-parenting bukan berarti tidak ada aturan sama sekali. Orang tua dapat menetapkan harapan yang jelas sembari tetap memberikan kebebasan kepada anak dalam batasan-batasan tersebut.
  • Percayalah pada kemampuan anak untuk membuat kesalahan. Kesalahan bisa menjadi pengalaman belajar yang berharga. Peran Bunda tidak selalu untuk mencegah kegagalan; terkadang, peran Bunda adalah membantu anak merenungkan apa yang terjadi dan memutuskan tindakan berbeda untuk ke depannya.
  • Hindari mengatur setiap detail kehidupan mereka secara berlebihan (micromanaging). Terus-menerus memantau pekerjaan rumah, pertemanan, kegiatan, penggunaan teknologi, dan keputusan anak dapat menghambat mereka untuk belajar mengelola diri sendiri.
  • Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah saya sedang membantu, atau justru mengambil alih?" Sebelum turun tangan, berhentilah sejenak dan pertimbangkan apakah anak benar-benar membutuhkan intervensi atau apakah ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk melatih kemandirian.

Pesan pengingat dari orang tua bisa terasa mengganggu bagi anak dewasa. Namun, ini adalah bentuk perhatian yang mendalam, bukan kontrol. Temukan cara mendukung kemandirian anak. Namun ingat, jangan melakukan over-parenting yang mengganggu perkembangan anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda