Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Cara Mengenali Anak yang Terlalu Sensitif, Ada 2 Tanda yang Perlu Diketahui Orang Tua

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Minggu, 27 Sep 2026 07:00 WIB

Anak sensitif
Cara mengenali anak sensitif/ Foto: Getty Images/Sunan Wongsa-nga
Daftar Isi

Setiap anak memiliki karakter dan cara yang berbeda dalam merespons lingkungan di sekitarnya. Ada anak yang mudah beradaptasi dengan suasana ramai, sementara anak lainnya bisa merasa kewalahan oleh suara keras, perubahan kecil, atau situasi yang menurut orang lain sebenarnya biasa saja. 

Anak yang sensitif juga mungkin menunjukkan reaksi emosional yang lebih kuat dibandingkan teman seusianya. Misalnya, mereka dapat merasa sangat sedih setelah mengalami kekecewaan kecil atau membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tenang.

Lantas, bagaimana cara membedakan anak dengan temperamen kuat dan anak yang memiliki sensitivitas tinggi? Yuk, Bunda, simak cara mengenali anak yang terlalu sensitif berikut ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Cara mengenali anak yang terlalu sensitif

Mengutip dari laman Psychology Today, anak yang sangat sensitif dapat memproses informasi emosional dan sensorik dengan lebih mendalam. Sensitivitas ini bukan berarti anak memiliki gangguan atau sengaja bersikap berlebihan, melainkan dapat menjadi bagian dari temperamen mereka.

Ada dua tanda utama yang dapat diperhatikan orang tua untuk memahami, apakah Si Kecil memiliki sensitivitas emosional dan sensorik yang tinggi.

1. Respons emosional anak lebih intens

Salah satu tanda yang dapat terlihat adalah respons emosional yang terasa lebih besar dibandingkan situasi yang dihadapi. Contohnya, anak bisa mengalami kesedihan yang mendalam setelah mengalami masalah kecil dengan teman, atau merasa sangat terpukul ketika mendapat teguran.

Kondisi ini berkaitan dengan sensory processing sensitivity (SPS), yaitu karakteristik temperamen yang membuat seseorang memproses informasi emosional dan sensorik secara lebih mendalam. Anak dengan sensitivitas tinggi dapat memberikan respons yang lebih kuat terhadap pengalaman menyenangkan maupun tidak menyenangkan.

Beberapa perilaku yang mungkin terlihat antara lain:

  • Merasa sangat sedih dan membutuhkan waktu lama untuk pulih setelah mengalami kekecewaan kecil.
  • Merasa cemas ketika melihat atau mengalami konflik.
  • Menganggap kritik atau teguran sebagai bentuk penolakan terhadap dirinya.
  • Terlalu memikirkan hubungan pertemanan atau situasi sosial.
  • Menganggap kesalahan sebagai kegagalan pribadi.

Anak dengan sensitivitas emosional tinggi bukan berarti sedang mencari perhatian atau sengaja bersikap dramatis. Mereka mungkin memang merasakan dan memproses suatu pengalaman dengan intensitas yang lebih besar.

Penelitian yang dibahas dalam sumber tersebut juga menunjukkan bahwa sensitivitas emosional yang tinggi, dapat berkaitan dengan masalah internal seperti kecemasan dan depresi, terutama ketika anak kurang mendapatkan dukungan dan respons yang peka dari lingkungan terdekatnya.

2. Hal yang dianggap biasa bisa membuat anak kewalahan

Selain respons emosional, sensitivitas tinggi juga dapat terlihat dari cara anak merespons rangsangan sensorik. Suara keras, cahaya terang, keramaian, sentuhan tertentu, atau bahkan tekstur pakaian bisa terasa jauh lebih mengganggu bagi mereka.

Anak mungkin terlihat tidak nyaman berada di pesta ulang tahun yang ramai, menutup telinga ketika mendengar suara keras, atau memilih bermain sendiri di tempat yang lebih tenang.

Hal tersebut dapat terjadi karena sistem saraf mereka memberikan respons yang lebih kuat terhadap rangsangan dari lingkungan.

Beberapa contohnya meliputi:

  • Menghindari atau merasa sangat terganggu oleh suara keras.
  • Menunjukkan reaksi emosional kuat terhadap aroma tertentu.
  • Tidak nyaman dengan label atau bahan pakaian tertentu.
  • Lebih memilih aktivitas yang tenang dibandingkan bermain di tempat yang ramai.
  • Menutup telinga, menjauh, atau menolak mengikuti aktivitas ketika lingkungan terasa terlalu ramai.

Sensitivitas dalam pemrosesan sensorik dan emosional bukanlah suatu gangguan atau diagnosis klinis. Karakteristik tersebut lebih berkaitan dengan temperamen anak dan pada sebagian anak dapat bertahan hingga mereka tumbuh dewasa.

Apa yang bisa dilakukan orang tua?

Mengenali sensitivitas anak bukan berarti Bunda harus melindungi Si Kecil dari setiap situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Sebaliknya, orang tua dapat membantu anak belajar menghadapi berbagai pengalaman secara bertahap dengan memberikan rasa aman dan dukungan yang sesuai. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan:

1. Berikan rutinitas dan dukungan

Anak yang sensitif umumnya dapat terbantu dengan lingkungan yang terstruktur, aturan yang jelas, serta pola pengasuhan yang hangat. Persiapkan anak ketika akan menghadapi perubahan atau situasi baru agar ia tidak merasa terlalu kaget.

2. Perhatikan batas kenyamanan sensoriknya

Coba amati kondisi apa yang membuat anak lebih cepat lelah atau kewalahan, seperti suara keras, tempat ramai, maupun tekstur tertentu. Dengan memahami pemicunya, Bunda dapat membantu anak menemukan cara yang lebih nyaman untuk menghadapinya.

3. Tunjukkan empati, bukan menghakimi.

Hindari ucapan seperti "jangan terlalu sensitif" atau "kamu terlalu emosional". Sebaliknya, bantu anak mengenali dan menyampaikan perasaannya. Dengan begitu, anak dapat belajar memahami emosinya.

Demikian penjelasan lengkap mengenai tanda-tanda anak sensitif yang perlu diperhatikan orang tua. Semoga bisa menjadi gambaran dalam mengasuh Si Kecil.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda