Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Anak Suka Meniru Orang Tua? Ternyata Bukan Sekadar Iseng, Ini Alasannya

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 26 Sep 2026 19:00 WIB

Ilustrasi Ibu dan anak
Anak Suka Meniru Orang Tua? Ternyata Bukan Sekadar Iseng, Ini Alasannya/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Tirachard
Daftar Isi
Jakarta -

Anak-anak suka meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Terkadang, kita hanya menganggapnya sebagai bentuk atau cara mereka menarik perhatian orang tuanya.

Dilansir laman The Economic Times, psikolog mengungkap bahwa kebiasaan sehari-hari biasa yang orang tua dapat berdampak besar pada perkembangan anak. Anak-anak tak sekadar meniru perilaku untuk hiburan, tapi mereka secara aktif membentuk jati diri melalui kebiasaan tersebut.

Anak-anak meniru untuk mengumpulkan informasi tentang bagaimana menjadi manusia. Jauh sebelum mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis, anak-anak belajar dengan mengamati orang-orang terdekat. Nah, orang tua menjadi guru pertama, pembimbing emosional, dan cetak biru perilaku anak di kemudian hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Psikologi mengatakan bahwa anak-anak secara alami adalah pengamat sebelum mereka menjadi pembelajar aktif. Anak-anak mulai belajar jauh sebelum pendidikan formal dimulai.

Otak mereka dirancang untuk menyerap informasi dari lingkungan sekitar. Para psikolog menyebut ini sebagai pembelajaran observasional.

Teori tersebut pertama kali dikembangkan oleh psikolog Albert Bandura. Dalam teorinya, ia menjelaskan bahwa anak-anak mempelajari banyak perilaku hanya dengan mengamati orang lain.

Orang tua menjadi panutan yang paling berpengaruh bagi anak-anak mereka. Ini bisa dalam bentuk kebiasaan, seperti berolahraga, memasak, dan membaca.

Tak hanya itu, bagaimana orang tua bereaksi terhadap stres juga dapat ditiru oleh anak. Bagaimana orang tua berbicara kepada orang asing, bagaimana mereka meminta maaf, bagaimana mereka memperlakukan diri mereka sendiri. Anak-anak menyerap semua itu.

Anak-anak dapat meniru emosi orang tuanya

Penularan emosi juga dapat diserap anak dari orang tuanya. Tapi, orang tua sering kali hanya fokus pada apa yang mereka katakan.

Psikologi menunjukkan bahwa anak-anak juga memperhatikan emosi. Para peneliti menyebut ini sebagai penularan emosi, di mana manusia secara alami menyerap dan meniru keadaan emosi orang-orang di sekitar mereka.

Anak-anak sangat sensitif karena kemampuan pengaturan emosi mereka karena masih berkembang. Jika orang tua menunjukkan sikap tenang selama momen-momen menegangkan, anak-anak perlahan belajar bahwa ketenangan itu bisa ditiru.

Tetapi, jika orang tua terus-menerus tampak kewalahan, maka anak-anak mungkin menginternalisasi stres sebagai respons normal terhadap kehidupan. Ini tidak berarti orang tua harus sempurna. Tapi, orang tua perlu memahami perubahan emosinya yang bisa memengaruhi anak.

Para peneliti dari American Psychological Association sering menekankan pentingnya lingkungan emosional selama perkembangan anak. Pasalnya, anak-anak sering belajar bagaimana belajar mengelola perasaan dengan mengamati orang dewasa dalam mengelola perasaan mereka sendiri.

Kemampuan meniru membantu anak-anak berlatih menjalani kehidupan dewasa

Para ilmuwan telah lama mempelajari sesuatu yang disebut neuron cermin. Ini merupakan sel-sel otak yang diyakini aktif baik ketika seseorang melakukan suatu tindakan maupun ketika mereka mengamati orang lain melakukan tindakan tersebut.

Meskipun para ilmuwan terus meneliti peran neuron cermin, hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa imitasi terasa begitu alami. Ketika anak-anak melihat orang tua mereka tertawa, memasak, atau melambaikan tangan sebagai ucapan selamat tinggal, otak mereka pada dasarnya sedang melatih tindakan-tindakan tersebut. Perilaku tersebut perlahan menjadi familiar.

Inilah salah satu alasan mengapa anak-anak sering meniru aktivitas sehari-hari tanpa diminta. Otak sedang melatih perilaku di masa depan.

Penjelasan lain berasal dari Teori Keterikatan, yang dikembangkan oleh psikolog John Bowlby. Teori ini menjelaskan bahwa anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa aman secara emosional. Orang tua bertindak sebagai apa yang disebut psikolog sebagai 'basis aman'.

Basis aman memberi anak-anak kepercayaan diri untuk menjelajahi dunia sambil mengetahui bahwa dukungan emosional tersedia. Ketika kepercayaan ada, pembelajaran akan meningkat. Inilah mengapa rutinitas sederhana sangat baik dilakukan.

Pengalaman berulang, seperti jalan-jalan bersama dan membaca dongeng sebelum tidur, dapat menciptakan stabilitas emosional sekaligus mengajarkan pola perilaku. Pelajarannya sering kali tidak terlihat tetapi sangat ampuh.

Orang tua tidak butuh kesempurnaan, tapi konsistensi

Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah bahwa orang tua tidak boleh membuat kesalahan. Psikologi menunjukkan hal yang berbeda.

Anak-anak tidak membutuhkan panutan yang sempurna. Mereka membutuhkan panutan yang autentik. Bahkan, kesalahan yang sehat dapat menjadi pelajaran berharga.

Ketika orang tua meminta maaf setelah kehilangan kesabaran, anak-anak belajar bertanggung jawab. Ketika orang tua mengakui bahwa mereka tidak tahu sesuatu, anak-anak belajar kerendahan hati.

Ketika orang tua meminta bantuan, anak-anak belajar bahwa kerentanan dapat diterima. Tujuannya bukanlah kesempurnaan, tapi konsistensi. Anak-anak tidak mencari orang dewasa yang tanpa cela. Mereka mencari pola emosional yang dapat diprediksi.

Demikian penjelasan tentang dampak dan penyebab anak yang suka meniru orang tuanya. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda