Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Jangan Ucapkan 5 Kalimat Toxic Ini pada Anak, Bunda Perlu Tahu

Kinan   |   HaiBunda

Kamis, 24 Sep 2026 09:20 WIB

Perlukah Orang Tua Minta Maaf setelah Memarahi Anak? Ini Kata Psikolog
Ilustrasi/Foto: Getty Images/pixs4u
Daftar Isi
Jakarta -

Saat bicara dengan anak, upayakan untuk lebih berhati-hati dalam berucap. Jangan ucapkan kalimat-kalimat toksik yang rentan membuatnya jadi tak percaya diri.

Seperti diketahui, bahasa dan kalimat yang diucapkan orang tua punya efek yang besar karena rentan direkam oleh anak. 

Misalnya saat anak berperilaku tidak baik atau mengamuk, Bunda mungkin tanpa sadar mengatakan apa pun yang dapat membuat anak tenang dan berperilaku baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Beberapa kalimat yang umum diucapkan orang tua bisa secara tidak sengaja membuat anak merasa malu dan berdampak buruk pada harga dirinya dalam jangka panjang," ungkap psikolog anak dan penulis buku How Toddlers Thrive, Tovah Klein.

Dikutip dari CNBC Make It, Klein menuturkan bahwa masalah rentan muncul ketika suatu kalimat terkesan menyalahkan anak atas perilaku atau emosi yang sedang mereka alami.

"Rasa malu bisa menjadi sesuatu yang sangat beracun bagi anak, terutama yang masih kecil. Ini karena mereka kemudian akan merekamnya. Hal ini dapat menumbuhkan keraguan terhadap diri mereka sendiri," ujar Klein. 

Bagi anak, orang tua adalah sosok yang pendapatnya paling berarti bagi mereka. Penelitian menunjukkan bahwa ketika anak merasa dipermalukan oleh orang tua, rasa percaya diri dan motivasi mereka dapat memudar.

Dampaknya anak menjadi kurang berani mencoba hal-hal baru dan menghadapi tantangan, padahal kedua hal tersebut penting untuk pembentukan karakter mereka di kemudian hari.

Faktor penyebab orang tua berkata toxic pada anak

Psikolog Robyn Koslowitz, Ph.D menuliskan dalam bukunya yang berjudul Post-Traumatic Parenting, bahwa orang tua rentan berkata toksik salah satunya karena trauma yang dimiliki.

Menurutnya trauma tidak hanya memengaruhi perasaan diri sendiri, tetapi juga kemampuan memercayai intuisi dalam mengasuh anak.

Kalimat toxic yang sebaiknya tidak diucapkan di depan anak

Klein mengatakan, sebagian besar orang tua sebenarnya mungkin sama sekali tidak bermaksud mempermalukan anak. Namun ada beberapa kalimat toksik yang sebaiknya tak diucapkan, seperti:

1. "Kamu sedang kesal lagi? Kamu selalu saja kesal"

Kalimat ini dapat membuat anak merasa bahwa dirinya memiliki sifat yang buruk atau selalu berada dalam suasana hati yang negatif.

Alih-alih memahami bahwa anak sedang mengalami emosi tertentu, orang tua justru memberikan label negatif terhadap kepribadiannya. 

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dan membuatnya merasa malu ketika menunjukkan emosi.

2. "Kenapa kamu selalu marah kalau hal ini terjadi?"

Pertanyaan ini terdengar seperti upaya mencari penjelasan, tetapi dapat membuat anak merasa bahwa emosinya tidak penting.

Akibatnya, ia malah belajar menekan emosinya, alih-alih memahami dan mengelolanya dengan positif.

3. "Tidak perlu dibesar-besarkan seperti itu"

Ketika mereka mendengar kalimat seperti ini, anak belajar bahwa tidak semua orang memiliki empati atau perasaan yang mendalam.

"Anak yang sensitif akhirnya memahami bahwa kepedulian terhadap orang lain dan dunia sekitar tidak selalu dipandang positif oleh sebagian orang," ujar psikolog Victoria Latifses, PhD, dikutip dari Parade.

4. "Harus begitu lagi, ya?" (sambil merujuk pada perilaku negatif anak)

Kalimat ini dapat membuat anak merasa bahwa orang tua menganggap perilakunya sebagai masalah yang terus berulang.

Anak mungkin merasa hanya dilihat dari kesalahannya, bukan sebagai individu yang sedang belajar mengendalikan diri. 

Perasaan tersebut dapat memunculkan rasa bersalah, malu, dan keraguan terhadap kemampuan dirinya untuk berubah.

5. "Kamu berlebihan"

Ketika anak rewel atau mengekspresikan emosinya, orang tua mungkin merespons dengan kalimat yang menyakitkan seperti 'jangan drama' atau 'jangan berlebihan' tanpa menyadari dampaknya.

"Hal ini mengirimkan pesan kepada anak bahwa mengekspresikan emosi adalah sesuatu yang berbahaya, kebutuhan mereka tidak penting, dan hal itu bisa membuat orang yang mereka sayangi menjauh. Kondisi ini berpotensi membentuk hubungan yang tidak sehat di masa depan," imbuh Latifses.

Menurut Klein, orang tua perlu memahami terlebih dahulu penyebab perubahan sikap anak. Mungkin mereka menolak melakukan sesuatu atau rewel karena sedang lapar, lelah atau alasan lainnya. 

Mengatakan sesuatu yang melukai anak saat anak sedang lelah bisa membuat mereka bertanya-tanya, apakah ada sesuatu yang salah secara permanen dalam diri mereka.

"Pertanyaan seperti 'kenapa kamu selalu kesal kalau hal ini terjadi?' juga dapat terasa mempermalukan, sekaligus mengabaikan perasaan yang mendasari perubahan perilaku anak," ungkapnya.

Lalu kalimat apa yang bisa dikatakan sebagai gantinya?

7 Kesalahan Parenting dari Orang Tua yang Bercerai pada AnaknyaIlustrasi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Kiwis

Pertama, upayakan untuk mengambil jeda terlebih dahulu sebelum mengatakan apa pun. Tanyakan kepada diri sendiri, apa kira-kira yang sedang terjadi sampai muncul rasa marah dan kecewa terhadap anak?

Ingatlah bahwa anak-anak, sama seperti orang dewasa, memiliki beragam perasaan. Sebagian positif dan banyak di antaranya tidak menyenangkan, atau bahkan mudah berubah-ubah. 

Kemudian, pilih respons yang menunjukkan empati kepada anak sampai mood buruk mereka akhirnya berlalu.

Berikut beberapa contoh kalimat yang bisa diucapkan saat anak sedang kesal:

  • "Kamu sedang tidak ingin melakukan ini sekarang, Bunda mengerti. Tapi, kita tetap harus pergi."
  • "Kalau ini terasa sulit, Bunda akan membantumu."
  • "Bunda berharap kita bisa melakukan itu."
  • "Kamu ingin pergi ke luar? Bunda mengerti. Sayangnya, sekarang kita belum bisa."

Akui dan validasi kekecewaan anak sebelum melanjutkan, tapi tetap tegas mengenai apa yang perlu dilakukan. 

Dengan begitu, anak tahu bahwa orang tua tidak membatalkan rencana hanya karena mereka sedang mengalami suasana hati yang buruk untuk sementara.

"Orang tua tidak perlu terlalu banyak bicara. Sedikit empati sudah bisa memberikan dampak yang besar bagi anak," imbuh Klein.

Bagaimana jika terlanjur berkata buruk pada anak?

Dalam situasi tertentu, alih-alih menolak atau mengabaikan anak, tunggulah dengan tenang sampai perilaku tersebut berlalu.

Misalnya, Bunda bisa mengatakan sesuatu seperti, "Bunda mau menyiapkan barang-barang kita dulu. Nanti Bunda kembali lagi ke kamarmu, ya".

Namun, jika Bunda sudah kehilangan kesabaran dan terlanjur mengatakan sesuatu yang kurang baik, akui kesalahan tersebut untuk membangun kembali kepercayaan anak.

"Katakan hal seperti, "Maaf Bunda tadi berteriak dan kamu jadi kesal. Tapi sekarang Bunda harap semua baik-baik saja". Dengan begitu, ini dapat membantu mengurangi keraguan anak terhadap dirinya sendiri," pesan Klein.

Itulah penjelasan tentang kalimat kalimat toksik yang sebaiknya tak diucapkan pada anak. Ingatlah bahwa saat sedang lelah, sebaiknya tunda dulu obrolan dengan Si Kecil dan tenangkan diri ya, Bunda. Semoga bermanfaat!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda