Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

7 Kalimat yang Diucapkan Orang Tua Bikin Anak Merasa Didengar

Kinan   |   HaiBunda

Rabu, 23 Sep 2026 13:35 WIB

keluarga
Ilustrasi/Foto: Getty Images/imtmphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Jangan sepelekan pentingnya mendengarkan pendapat dan cerita anak ya, Bunda. Ucapkan kalimat yang tepat agar anak merasa dirinya benar-benar didengar dengan baik.

Dikutip dari Raising Children, mendengarkan secara aktif (active listening) merupakan keterampilan yang perlu dilakukan orang tua untuk meningkatkan komunikasi dengan anak. Hal ini bukan sekadar mendengar apa yang dikatakan anak, tetapi juga benar-benar memahami pikiran dan perasaannya.

Mendengarkan anak juga dapat memperkuat komunikasi dan meningkatkan ikatan batin, sebab tandanya Bunda peduli dan tertarik pada apa yang disampaikan oleh anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dengan selalu memberi waktu bagi anak bercerita, Bunda pun bisa mengetahui dan memahami apa yang sedang terjadi dalam kehidupan mereka.

Sementara itu, bagi anak bentuk komunikasi ini juga baik untuk proses berpikirnya. Mereka belajar mengungkapkan pikiran dan perasaan, tanpa takut dihakimi atau dikoreksi.

Bagaimana cara paling efektif untuk mendengarkan anak?

Saat berbicara dengan anak, terkadang sulit mengetahui apa yang tepat untuk dikatakan dan bagaimana cara menyampaikannya.

"Cara paling efektif untuk berbicara dengan anak adalah menggunakan kata-kata dan kalimat sederhana. Kalimat seperti ini memungkinkan orang tua menerima perasaan mereka, tetapi tetap menerapkan aturan yang telah dibuat," kata Wendy Mogel, PhD, penulis buku The Blessing of a Skinned Knee, dikutip dari Parents.

Kalimat yang diucapkan orang tua agar anak merasa didengar

Lalu apa saja kalimat yang bisa diucapkan orang tua agar anak selalu merasa didengarkan? Berikut penjelasannya, Bunda:

1. "Beri Bunda waktu dulu"

Orang tua yang terbiasa memberikan respons secara spontan sering kali mengucapkan kalimat yang 'kelepasan' emosi, sehingga memicu penyesalan di kemudian hari. 

"Banyak dari kita merasa harus berpikir cepat, segera menemukan jawaban dan membuat kesepakatan. Tapi ini seringnya justru keliru," ungkap Mogel.

Lebih baik minta waktu terlebih dahulu untuk benar-benar memahami cerita anak. Dengan begitu, Bunda menunjukkan kewibawaan, memberi diri sendiri waktu untuk berpikir, sekaligus memperkenalkan gagasan bahwa seseorang perlu berpikir sebelum berbicara.

Jika anak sering mendengar Bunda berkata demikian, mereka kemungkinan akan merasa nyaman meluangkan waktu ketika harus mengambil keputusan.

2. "Bagaimana perasaanmu?"

Banyak orang tua bersalah karena memberikan terlalu banyak pujian kepada anak. Alih-alih menunjukkan antusiasme berlebihan ketika anak melakukan sesuatu yang patut dipuji, lebih baik tanyakan perasaan anak.

3. "Kamu boleh cerita apa saja kepada Bunda/Ayah"

Kalimat sederhana ini mengingatkan anak bahwa ia akan selalu aman secara emosional bersama Bunda. Mereka dapat mempercayai orang tua untuk mendengarkan pikiran serta perasaannya.

Penelitian yang diterbitkan oleh The Center for Male Psychology menjelaskan bahwa pendekatan seperti ini dapat meningkatkan kesejahteraan emosional anak laki-laki secara signifikan, sekaligus mendorong mereka untuk lebih terbuka mengenai perasaan dan pengalaman yang mereka alami.

Saat orang tua memberi ruang dan waktu aman bagi anak untuk berbicara, ini juga dapat membantu meningkatkan kesehatan mental, sekaligus memperkuat hubungan antara anak dan orang tua.

4. "Menurutmu apa yang bisa kita lakukan?"

Saat anak menghadapi kekecewaan, sebaiknya jangan terburu-buru mencarikan solusi dan 'menyelamatkan' mereka dari perasaan sedih. Sebaliknya, Bunda perlu membantu mereka melatih kemampuan menghadapi masalah.

Setelah anak selesai mengungkapkan perasaannya, duduklah di samping mereka dan katakan apa kira-kira menurutnya jalan keluar yang bisa dilakukan. 

Tetap dampingi anak dengan mengajak mereka mempertimbangkan hal-hal positif dan apa yang masih dapat dilakukan meskipun mengalami kegagalan. 

5. "Tidak apa-apa jika mengalami kegagalan"

Kalimat ini mengingatkan anak bahwa setiap orang terkadang melakukan kesalahan. Ajari mereka bahwa tidak apa-apa untuk selalu mencoba dan gagal.

Hal yang paling penting adalah bagaimana anak belajar dari kesalahan tersebut dan berkembang menjadi lebih baik di kesempatan selanjutnya.

Ingatkan bahwa kesalahan dan kegagalan adalah bagian dari proses belajar, semua tak melulu soal kesempurnaan.

6. "Bunda akan selalu ada untukmu"

Anak mungkin belum sepenuhnya memahaminya sekarang, tetapi ia akan mengingat bahwa Bunda pernah mengatakan hal tersebut.

Hal ini merupakan bentuk jaminan keamanan secara psikologis. Pastikan Bunda benar-benar bersungguh-sungguh dan membuktikan kalimat ini melalui tindakan.

Orang tua memang tidak bisa dan tidak seharusnya menyelesaikan semua masalah anak. Namun, Bunda bisa hadir untuk membantu mereka mencari tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut sendiri.

7. "Kamu pasti bisa"

Kalimat ini membantu menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, sehingga ia mau berusaha melakukan sesuatu yang perlu dipelajari, dicapai, dicoba, atau dilakukan kembali. Meski begitu, para ahli menekankan bahwa pesan tersebut perlu disampaikan secara tulus ya, Bunda.

Sering kali terlalu sering mengandalkan kalimat seperti ini tanpa memberikan dukungan emosional yang cukup, justru dapat memberikan dampak negatif.

Cara lain untuk meningkatkan komunikasi dengan anak

Tidak hanya dengan mengucapkan berbagai kalimat tersebut, Bunda juga dapat mencoba menerapkan beberapa cara berikut untuk membantu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka dengan anak:

1. Memberi ruang untuk mendengarkan

Dengan mendengarkan anak, Bunda dapat membantu mereka merasa lebih dipahami. Cobalah menerapkan active listening melalui gerakan yang menunjukkan dukungan, seperti tersenyum dan mengangguk, untuk mengingatkan mereka bahwa Bunda memperhatikan apa yang sedang disampaikan.

2. Gunakan bahasa tubuh

Gunakan bahasa tubuh untuk menunjukkan bahwa Bunda peduli dengan apa yang ingin mereka sampaikan. 

Jika perlu, gunakan posisi membungkuk sampai sejajar dengan tinggi badan mereka dan pertahankan kontak mata saat berbicara.

3. Menghabiskan waktu bersama

Luangkan quality time bersama anak secara rutin. Kenali minat mereka dan cobalah merencanakan aktivitas yang dapat dinikmati bersama. 

Sebisa mungkin usahakan untuk tetap terlibat dalam kegiatan tersebut dan tidak sibuk bermain ponsel.

Itulah penjelasan tentang kalimat-kalimat yang diucapkan orang tua bikin anak merasa didengar. Semoga bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda