Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

5 Mitos tentang Tidur Bayi yang Bisa Memicu Kelelahan dan Stres Orang Tua

Elia Amaliana   |   HaiBunda

Sabtu, 17 Oct 2026 21:00 WIB

Jam tidur bayi 0-3 bulan
Mitos bayi tidur/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Anchiy
Daftar Isi

Pola tidur menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang bayi. Ketika bayi mengalami kesulitan tidur atau terbangun di malam hari, kondisi ini kerap membuat orang tua khawatir dan bertanya-tanya apakah pola tidurnya normal atau tidak. Rasa khawatir ini sering membuat orang tua mencari berbagai informasi mengenai pola tidur bayi.

Sayangnya, tidak semua informasi bisa dijadikan patokan atau pedoman. Bagi orang tua baru, mungkin mengandalkan nasihat dari teman dan keluarga adalah jalan yang tepat. Namun, ternyata beberapa pengalaman atau anjuran yang terkenal di lingkungan masyarakat tidak sepenuhnya benar. 

Saran atau nasihat yang salah tentunya bisa berbahaya bagi kondisi Si Kecil. Kini, Bunda perlu memahami dan membongkar mitos tentang kebiasaan tidur bayi yang ternyata bisa memicu kelelahan dan stres orang tua yang dikutip dari BBC. Simak penjelasan lengkapnya sebagai berikut. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


5 Mitos tentang tidur bayi yang memicu kelelahan dan stres orang tua

 Simak ulasan selengkapnya!

1. Bayi tidak selalu tidur sepanjang malam

Banyak orang tua yang berharap anaknya bisa tidur nyenyak tanpa terbangun di sepanjang malam. Faktanya, bayi masih sering terbangun pada malam hari. Kondisi ini ternyata normal dan menjadi salah satu proses perkembangan mereka.

Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 55.000 bayi di Norwegia menemukan bahwa hampir 7 dan 10 bayi berusia enam bulan masih terbangun setidaknya sekali setiap malam. Sementara lebih dari satu dari empat bayi berusia 18 bulan mengalami hal yang sama.

Studi lainnya di tahun 2020 yang melibatkan 5.700 bayi di Finlandia menemukan bahwa bayi berusia 3-8 bulan terbangun lebih dari sekali setiap malam.

Seiring bertambahnya usia, frekuensi terbangun biasanya mulai berkurang. Pada usia 12 bulan, bayi rata-rata terbangun lebih dari dua kali setiap malam, sedangkan pada usia 18-24 bulan sekitar satu kali. Studi ini diambil berdasarkan laporan orang tua, yang artinya bayi mungkin lebih sering terbangun di malam hari.

2. Namun, terbangun di malam hari tidak selalu normal

Pola tidur bayi pada umumnya akan terus berkembang secara alami seiring bertambahnya usia. Sehingga, orang tua tidak perlu memaksakan bayi agar berhenti terbangun pada malam hari. Bayi yang sering terbangun juga kemungkinan mengalami kondisi tertentu yang mengganggu tidurnya. Salah satunya contohnya adalah karena kurangnya zat besi. Kondisi ini dapat membuat bayi gelisah dan sering terbangun pada malam hari karena mengalami kesulitan tidur. 

Beberapa faktor lain seperti alergi makanan, penyakit refluks gastroesofageal (GERD), hingga infeksi telinga. Rasa tidak nyaman ini membuat bayi lebih mudah terbangun. Selain itu, gangguan tidur seperti sleep apnea juga menyebabkan bayi lebih mudah terbangun. Oleh karena itu, jika bayi mengalami masalah tidur dalam jangka waktu yang lama, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan dokter jika diperlukan.

3. Bagi sebagian bayi, tidur 12 jam per malam sudah cukup banyak

Tidak semua bayi membutuhkan 12 jam untuk tidur setiap malamnya. Sebagian bayi yang dipaksa tidur cepat justru akan jadi rewel, lebih sering terbangun, atau bahkan bangun terlalu pagi. Sebuah studi di Australia yang melibatkan 5.000 bayi, menemukan bahwa dari usia bayi hingga hampir lima tahun, rata-rata tidur 11 jam setiap malamnya. Bahkan, bayi berusia 4-6 bulan rata-rata tidur dengan durasi yang sama.

Jumlah waktu tidur setiap bayi di setiap negara pasti berbeda. Sebuah studi menunjukkan bahwa bayi berusia tiga tahun ke bawah, rata-rata tidur 10 jam per jam di Australia, 9,96 jam di Kanada, 10,17 jam di AS, tetapi 8,73 jam di Taiwan, 9,02 jam di Hong Kong, dan 9,15 jam di India dan Indonesia. Dari studi tersebut bisa disimpulkan jika bayi di negara Asia memiliki durasi tidur lebih sedikit.

Meski begitu, American Academy of Sleep Medicine (AASM), merekomendasikan bayi usia 4-12 bulan mendapatkan 12-16 jam tidur dalam sehari, termasuk tidur siang. Sementara, anak usia 1-2 tahun membutuhkan sekitar 11-14 jam tidur dalam sehari.

Artinya, orang tua tidak perlu memaksakan bayi harus tidur dengan durasi 12 jam setiap malam. Hal yang terpenting adalah memastikan kebutuhan tidur bayi terpenuhi dan perhatikan pola tidurnya. 

4. Ya, Tidur siang saat bepergian tetap bermanfaat

Banyak informasi yang beredar jika tidur siang sambil bergerak seperti digendong, dalam kereta bayi, atau berkendara di mobil dapat membuat bayi terganggu. Namun, data ilmiah menemukan hal sebaliknya.

Sebuah studi yang melibatkan 64 bayi berusia dua bula,n menemukan bahwa bayi lebih mudah tidur dan lebih jarang menangis ketika diayunkan dengan lembut. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa gerakan mengayun dapat membantu pernapasan bayi saat tidur.

Jadi, cara ini cocok untuk bayi dengan diagnosis apnea obstruktif. Penggunaan kasur yang bisa bergerak dapat membantu mengurangi jumlah gangguan pernapasan saat tidur.

Manfaat gerakan saat tidur juga terdapat dalam penelitian orang dewasa. Penelitian ini menggunakan perangkat eletroensefalogram (EEG) untuk memantau aktivitas otak selama tidur.

Hasil studi menemukan bahwa tidur sambil diayunkan perlahan dapat membantu seseorang lebih cepat tidur nyenyak. Gerakan tersebut juga dapat meningkatkan kualitas tidur dan mendukung aktivitas otak yang berkaitan dengan pembentukan memori. Penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa gerakan mengayun dapat mendorong mereka untuk tidur.

Hal ini cukup masuk akal karena bayi terbiasa dengan gerakan sejak dalam kandungan. Jadi, tidur siang sambil bergerak seperti digendong atau berada stroller yang bergerak lembut, tidak mempengaruhi kualitas tidur secara signifikan.

5. Tidur lebih lama tidak selalu membuat bayi tidur lebih nyenyak 

Memang benar, beberapa bayi yang terlalu lelah bisa menjadi lebih rewel dan gelisah. Kondisi ini tentunya akan membuat mereka menjadi kesulitan tidur. Namun, bukan berati semakin lama bayi tidur siang, semakin lama juga mereka akan tidur pada malam hari.

Pada anak yang sudah lebih besar, khususnya usia dua tahun, penelitian justru menemukan hal yang berbeda. Anak yang tidur siang cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur pada malam hari dan lebih sering terbangun di tengah malam.

Namun, pola ini tidak selalu berlaku bagi pada bayi. Sebuah penelitian yang membandingkan pola tidur bayi yang lebih banyak tidur siang dengan yang kurang tidur siang. Penelitian ini menemukan bahwa bayi berusia 6 dan 15 minggu yang banyak tidur siang tidak mempengaruhi waktu tidur di malam hari. Sedangkan pada bayi berusia 24 minggu atau enam bulan, tidur siang yang lama dapat membuat waktu tidur malam sedikit lebih panjang.

Meskipun begitu, perbedaanya tidak terlalu signifikan. Bayi berusia enam bulan perlu tidur siang sekitar satu jam lebih lama untuk mendapatkan tambahan durasi tidur malam. Jadi, orang tua tidak perlu dengan sengaja memperpanjang tidur siang bayi dengan harapan mereka akan tidur lebih lama pada malam hari.

Itulah informasi mengenai mitos tentang tidur bayi yang bisa bikin kelelahan dan stres pada orang tua. Semoga membantu, Bunda.

 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda