Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

9 Ciri Anak Diam-Diam Menyimpan Luka dari Pola Asuh Orang Tua

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Selasa, 22 Sep 2026 16:00 WIB

Tanda anak kurang kasih sayang
Ciri Anak Diam-Diam Menyimpan Luka dari Pola Asuh Orang Tua/ Foto: Getty Images/GOLFX
Daftar Isi

Hubungan orang tua dan anak tidak selalu berjalan mulus. Tanpa disadari, pengalaman masa kecil dan pola asuh orang tua dapat meninggalkan kesan yang terbawa hingga anak dewasa. Luka tersebut juga tidak selalu terlihat secara langsung.

Beberapa anak mungkin tetap berkomunikasi dan berhubungan dengan orang tua, tetapi menunjukkan perubahan kecil seperti membatasi pembicaraan, menjaga jarak, atau tidak lagi meminta saran.

Lantas, apa saja tanda anak diam-diam menyimpan luka dari pola asuh orang tua? Yuk, Bunda, simak 9 cirinya berikut ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


9 Ciri anak diam-Diam menyimpan luka dari pola asuh orang tua

Mengutip dari laman Bolde, berikut 9 ciri anak yang diam-diam menyimpan luka dari pola asuh orang tua.

1. Hanya membicarakan tiga topik

Anak mungkin masih rutin menelepon orang tua, tetapi pembicaraannya hanya berkisar pada hal-hal sederhana seperti pekerjaan, anak, atau cuaca. Menurut peneliti komunikasi Kristina Scharp, menjauh dari orang tua biasanya tidak langsung dimulai dengan memutus komunikasi.

Dalam wawancara terhadap 52 anak dewasa yang sedang menjauh dari orang tua, ia menemukan bahwa langkah awal yang sering terjadi adalah membatasi topik pembicaraan.

2. Selalu punya alasan untuk menghindari hari libur

Anak mungkin terus mencari alasan untuk tidak berkumpul saat hari libur. Meski alasannya terdengar masuk akal, pola yang berulang bisa menunjukkan bahwa ia sebenarnya ingin menjaga jarak dari keluarga.

Penelitian terhadap lebih dari 800 orang dewasa yang renggang dengan keluarga menemukan bahwa sembilan dari sepuluh responden menganggap Natal sebagai masa tersulit dalam setahun. 

3. Tidak pernah meminta saran kepada orang tua

Anak yang sedang kesulitan tetapi tidak pernah meminta saran kepada orang tua mungkin merasa tidak bisa mengandalkan mereka. Misalnya, ia mengalami masalah tetapi baru memberi tahu setelah semuanya berlalu, atau orang tua justru mengetahui kondisinya dari media sosial.

Menurut Scharp, hal ini berkaitan dengan role reciprocity, yaitu ketika anak berhenti meminta bantuan atau arahan karena merasa orang tua tidak menjalankan perannya secara penuh. 

4. Respons datar saat membahas masa kecil

Anak mungkin memberikan respons datar atau mengoreksi cerita orang tua tentang masa kecilnya. Misalnya, ketika orang tua menganggap masa kecilnya bahagia, ia menjawab, “Menurutmu begitu.”

Psikolog Joshua Coleman menjelaskan, orang tua dan anak bisa memiliki pandangan berbeda terhadap masa lalu. Anak yang masih mengoreksi biasanya masih ingin dipahami. Sebaliknya, respons datar dapat menunjukkan bahwa ia merasa tidak ada gunanya lagi menjelaskan.

5. Mereka mengasuh anak dengan cara yang berbeda dari orang tuanya

Pola asuh setiap generasi memang bisa berbeda. Namun, jika aturan yang mereka terapkan justru sangat berlawanan dengan cara dulu mengasuh mereka, hal itu bisa berkaitan dengan pengalaman masa kecil yang membekas.

Penelitian Pillemer menemukan bahwa pola asuh keras dan pilih kasih orang tua termasuk penyebab yang sering dikaitkan dengan keretakan hubungan keluarga.

6. Mereka diam saat membahas saudara kandungnya

Perbandingan dengan saudara kandung bisa terasa menyakitkan. Jika mereka terus menghindari pembicaraan tentang saudara tertentu, hal itu mungkin berkaitan dengan pengalaman dibanding-bandingkan saat kecil.

Penelitian Pillemer juga menyebut perlakuan pilih kasih, sebagai salah satu penyebab umum keretakan hubungan keluarga. Anak yang merasa selalu menjadi pilihan kedua bisa memilih berhenti bersaing dengan saudaranya.

7. Nasihat orang tua hanya dijawab “Oke” tanpa ada perubahan

Anak yang sudah dewasa bisa saja tidak mengikuti nasihat orang tua. Namun, jika setiap nasihat hanya dijawab “oke, terima kasih” tanpa ada perdebatan atau perubahan, hal ini bisa menunjukkan sesuatu yang lebih dalam.

Menurut penelitian University of Michigan terhadap orang tua dan anak dewasa, nasihat yang tidak diminta menjadi salah satu sumber ketegangan terbesar dalam hubungan orang tua dan anak. 

Penelitian yang melibatkan 474 orang ini juga menemukan bahwa orang tua merasakan ketegangan tersebut lebih kuat dibandingkan anak, dan perbedaannya semakin besar seiring bertambahnya usia anak.

8. Sudah meminta maaf secara umum, tetapi tidak ada yang berubah

Ucapan seperti “Aku tahu aku tidak sempurna” atau “Kalau aku menyakitimu, maaf” mungkin tulus, tetapi tidak selalu membuat anak merasa dipahami. Permintaan maaf tanpa menyebut kesalahan secara spesifik dapat membuat anak merasa luka yang dialaminya belum benar-benar dilihat.

Survei Coleman terhadap lebih dari 1.600 orang tua yang mengalami kerenggangan hubungan, menunjukkan bahwa kembali menjalin hubungan lebih sering terjadi ketika orang tua mengakui kesalahan tertentu, berempati pada pengalaman anak, dan menghargai batasan yang diminta.

9. Jarak anak datang dan pergi tanpa bisa diprediksi

Hubungan yang sempat hangat bisa kembali terasa jauh tanpa alasan yang jelas. Anak mungkin kembali menghubungi atau berkunjung, lalu tiba-tiba menjaga jarak lagi, seperti membalas pesan lebih lama, memberi jawaban singkat, atau mempersingkat waktu kunjungan.

Menurut penelitian Scharp, menjauh dalam hubungan orang tua dan anak cenderung terjadi secara bertahap dan berulang dalam jangka waktu tertentu, bukan mengikuti pola yang pasti.

Nah, itu dia Bunda  9 ciri anak diam-diam menyimpan luka dari pola asuh orang tua.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda