parenting
Cara Mengenali Anak yang Tumbuh dari Keluarga Kurang Harmonis lewat Kebiasaannya
HaiBunda
Selasa, 22 Sep 2026 18:45 WIB
Daftar Isi
-
13 Cara mengenali anak tumbuh dari keluarga kurang harmonis lewat kebiasaannya
- 1. Terbiasa berhati-hati agar tdak memicu konflik
- 2. Tidak terbiasa membicarakan perasaan
- 3. Batasan pribadi tidak dihargai
- 4. Terbiasa dengan konflik
- 5. Tanggung jawab terasa berlebihan
- 6. Banyak rahasia dalam keluarga
- 7. Sering menjadi penengah
- 8. Jarang mendengar kata maaf
- 9. Tidak memiliki privasi
- 10. Uang sering menjadi masalah
- 11. Merasa seperti orang asing di keluarga
- 12. Terbiasa dengan perubahan
- 13. Terbiasa menjadi “orang tua”
Masa kecil tidak selalu terasa seperti pengalaman yang kurang menyenangkan saat dijalani. Namun, ketika mengingatnya kembali saat dewasa, beberapa kebiasaan atau situasi yang dulu dianggap biasa mungkin ternyata menunjukkan adanya masalah dalam keluarga.
Anak yang tumbuh dalam keluarga kurang harmonis dapat membawa pengalaman tersebut hingga dewasa melalui berbagai kebiasaan, seperti selalu berhati-hati saat berbicara atau sulit mengungkapkan perasaan.
Lantas, apa saja tandanya? Yuk, Bunda, simak 13 cara mengenali anak yang tumbuh dari keluarga kurang harmonis lewat kebiasaannya berikut ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
13 Cara mengenali anak tumbuh dari keluarga kurang harmonis lewat kebiasaannya
Mengutip dari laman Bolde, berikut 13 cara untuk mengenali anak yang tumbuh dari keluarga kurang harmonis melalui kebiasaannya.
1. Terbiasa berhati-hati agar tdak memicu konflik
Anak yang tumbuh di keluarga yang kerap bertengkar mungkin terbiasa menjaga sikap dan ucapan, agar tidak memicu konflik atau hukuman. Mereka juga bisa menjadi lebih peka terhadap suasana sekitar dan perubahan nada bicara orang lain.
Menurut penelitian Dr. Christine G. Wilson, paparan terus-menerus terhadap lingkungan yang penuh ketegangan dapat meningkatkan kecemasan saat dewasa.
2. Tidak terbiasa membicarakan perasaan
Dalam keluarga yang kurang harmonis, membicarakan perasaan mungkin dianggap tabu. Anak akhirnya terbiasa memendam emosi karena merasa tidak punya ruang untuk mengungkapkannya.
Kondisi ini dapat membuat mereka kesulitan mengenali perasaan sendiri, terbuka kepada orang lain, atau merasa nyaman menunjukkan kerentanan
3. Batasan pribadi tidak dihargai
Ruang pribadi yang sering dilanggar, seperti buku harian dibaca tanpa izin atau dipaksa menceritakan hal yang tidak ingin dibagikan, menunjukkan bahwa batasan diri tidak dihargai.
Menurut terapis Nedra Glover Tawwab, menghargai batasan penting untuk hubungan yang sehat dan kesejahteraan diri.
4. Terbiasa dengan konflik
Jika masa kecil dipenuhi pertengkaran, tangisan, dan konflik, seseorang mungkin terbiasa dengan situasi yang penuh drama. Ketika suasana kurang harmonis menjadi hal yang biasa, ketenangan justru bisa terasa asing atau tidak nyaman.
Tumbuh dalam keluarga seperti ini juga dapat membuat seseorang sulit membedakan hubungan yang sehat dan tidak sehat.
5. Tanggung jawab terasa berlebihan
Jika sejak kecil harus menjalankan peran seperti menjadi penengah konflik keluarga, mengurus anggota keluarga, atau menjaga adik, hal ini bisa terasa berat bagi anak.
Menurut konselor keluarga Dr. Kim John Payne, tanggung jawab seperti orang dewasa dapat membuat anak kehilangan masa kecilnya.
Anak mungkin merasa harus cepat dewasa dan kehilangan kesempatan untuk bermain dengan bebas. Saat dewasa, pengalaman tersebut dapat membuat seseorang terbiasa mengambil terlalu banyak tanggung jawab hingga mengabaikan dirinya sendiri.
6. Banyak rahasia dalam keluarga
Tumbuh dalam keluarga yang penuh rahasia dapat membuat anak merasa bingung dan tidak yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ketika menyimpan rahasia menjadi hal yang biasa, anak bisa kesulitan mempercayai orang lain dan terbuka kepada mereka.
7. Sering menjadi penengah
Jika sejak kecil sering menjadi penengah saat keluarga bertengkar, bisa jadi anak terbiasa berada di lingkungan yang penuh konflik. Menurut psikolog Dr. Susan Heitler, terus-menerus menjadi penengah dapat memicu stres dan kelelahan.
Anak juga bisa merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain, yang menjadi beban berat. Kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa, seperti sulit menjauh dari konflik yang sebenarnya bukan tanggung jawabnya.
8. Jarang mendengar kata maaf
Jika kata “maaf” jarang terdengar saat tumbuh besar, anak mungkin tidak terbiasa mengakui kesalahan dan memperbaiki keadaan. Saat dewasa, mereka bisa kesulitan meminta atau menerima permintaan maaf dari orang lain.
9. Tidak memiliki privasi
Jika sejak kecil anak terbiasa tidak memiliki privasi, misalnya orang di rumah masuk tanpa mengetuk pintu, ia bisa kesulitan memahami pentingnya batasan pribadi. Saat dewasa, kondisi ini dapat membuat seseorang kesulitan menetapkan batasan atau merasa bersalah ketika ingin menyendiri.
10. Uang sering menjadi masalah
Tumbuh dengan masalah keuangan yang terus-menerus dapat membuat seseorang cemas terhadap uang hingga dewasa. Melihat orang tua stres memikirkan tagihan bisa menimbulkan rasa takut mengalami kesulitan finansial.
Akibatnya, seseorang mungkin terbiasa menabung berlebihan atau merasa bersalah saat menggunakan uang untuk diri sendiri.
11. Merasa seperti orang asing di keluarga
Jika saat kecil sering merasa seperti orang asing di rumah sendiri, hal ini bisa berkaitan dengan kurangnya kedekatan emosional dalam keluarga.
Perbedaan nilai, minat, atau kurangnya pemahaman dapat membuat anak merasa kesepian dan tidak dianggap sebagai bagian dari keluarga. Perasaan tersebut bisa terbawa hingga dewasa, seperti sulit merasa nyaman atau benar-benar menjadi bagian dari suatu lingkungan.
12. Terbiasa dengan perubahan
Keluarga yang sering berpindah rumah atau mengalami banyak perubahan dapat membuat anak merasa kurang stabil. Saat dewasa, ia mungkin memengaruhi kestabilan, tetapi juga takut dengan komitmen dan sulit merasa benar-benar memiliki tempat untuk pulang.
13. Terbiasa menjadi “orang tua”
Jika sejak kecil lebih sering mengurus atau menenangkan orang tua daripada menerima perhatian dari mereka, kamu mungkin terbiasa mengambil peran sebagai orang tua dalam keluarga. Kondisi ini dapat membuat masa kanak-kanak terasa lebih singkat karena harus tumbuh dewasa terlalu cepat.
Demikian beberapa ciri-ciri anak anak tumbuh dari keluarga yang kurang harmonis. Dilihat dari kebiasaanya anak akan menjadi lebih hati-hati hingga tidak terbiasa membicarakan perasaannya. Semoga membantu mengasuh Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Jenis Olahraga yang Sesuai dengan Kepribadian Anak
Parenting
Ucapan Positif Orang Tua untuk Ajak Anak Selalu Berbuat Baik
Parenting
Ini 4 Faktor Penting yang Mempengaruhi Perkembangan Karakter Anak
Parenting
Cara Mengetahui Kepribadian dan Masa Depan Anak Sesuai Jam Lahirnya, Mau Coba?
Parenting
Kiat Mengajarkan Rukun Islam pada Anak
5 Foto
Parenting
5 Potret Artis Rayakan Hari Guru Nasional 2023, Quinn Salman Beri Hadiah Spesial
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
11 Kebiasaan Ayah yang Menandakan Anak Dibesarkan oleh Laki-laki yang Baik Menurut Studi
Niatnya Mendidik, 7 Kebiasaan Orang Tua Ini Justru Bisa Jadi Bumerang ke Anak
11 Ciri Orang Tua Baik yang Berhasil Mendidik Anak Menurut Ilmu Psikologi