Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

7 Kebiasaan yang Dilakukan Anak-anak dengan Kecerdasan Emosi Tinggi

Elia Amaliana   |   HaiBunda

Selasa, 06 Oct 2026 18:45 WIB

Anak dengan kecerdasan tinggi
Anak dengan kecerdasan emosi tinggi/ Foto: Getty Images/PeopleImages
Daftar Isi

Kebanyakan orang tua akan fokus pada kecerdasan akademik anak. Namun, satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah melatih kecerdasan emosional yang tidak kalah penting.

Kecerdasan emosional (EQ) berkaitan dengan cara untuk memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat dan tepat. Kemampuan ini dapat membentuk karakter, hubungan yang stabil, dan memperkuat ketahanan mental secara keseluruhan pada anak, Bunda.

Menumbuhkan kecerdasan emosional pada anak sama dengan mempersiapkan masa depan yang sukses bagi Si Kecil. Anak dengan kecerdasan emosional juga terbentuk melalui tindakan orang tuanya. Bisa dibilang bahwa anak bisa mencerminkan perilaku orang tuanya. Maka dari itu, orang tua sangat berperan penting dalam perkembangan kecerdasan emosional anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Anak yang cerdas secara emosional biasanya sangat terhubung dengan dirinya sendiri. Mereka tahu betul dengan apa yang mereka lakukan dan inginkan. Ada beberapa tanda yang dapat menggambarkan anak yang sedang membangun kecerdasan emosional.

Berikut tujuh kebiasaan yang biasanya dilakukan anak dengan kecerdasan emosional yang tinggi.

7 Kebiasaan yang dilakukan anak dengan kecerdasan emosional yang tinggi

Simak selengkapnya berikut ini:

1. Mereka bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan

Ketika anak dapat mengatakan hal sederhana seperti "aku stres", ini bisa menjadi pertanda jika anak memiliki kecerdasan emosional. Anak dapat mengidentifikasi dan memberi nama perasaan yang mereka rasakan.

Mereka tidak akan tiba-tiba melempar mainan atau menutup diri. Artinya anak sudah mengembangkan kosa kata untuk respons emosional mereka. Peran orang tua di sini, sebaiknya mengakui emosi anak dan hindari kalimat seperti "kamu baik-baik saja" atau "berhenti menangis".

Berikan validasi pada perasan anak agar mereka merasa didengar dan merasa berada di ruang aman.

2. Mereka datang ketika menghadapi kesulitan

Jika anak datang saat perasaan mereka berantakan atau tidak nyaman, artinya anak sudah percaya dan merasa aman dengan Bunda. Si Kecil akan lebih terbuka ketika mereka merasa aman untuk mengungkapkan perasaannya. Rasa aman bisa terbentuk karena anak tahu bahwa perasaannya tidak akan dihakimi, dipermalukan, atau diabaikan.

3. Mereka mampu mengatasi rasa kecewa

Anak yang cerdas secara emosional akan mampu mengatasi kekecewaan yang mereka rasakan. Mereka mungkin akan menangis ketika kalah dalam sebuah permainan, namun pada akhirnya mereka akan pulih dengan sendirinya. Biarkanlah anak merasakan apa yang membuat mereka tidak nyaman.

Hal ini dapat membantu anak belajar memecahkan masalah sekaligus memahami bahwa semua hal dalam hidup berjalan sesuai harapan. Orang tua disarankan untuk tidak terburu-buru menyuruh anak untuk cepat melewatinya.

4. Mereka memperhatikan perasaan orang lain

Ungkapan seperti "Apakah kamu sedih" atau "Anak itu terlihat kesepian" menandakan jika ada perkembangan dalam empatinya. Dan ini adalah bentuk kecerdasan emosional tertinggi. Anak-anak cenderung menyerap dan meniru apa yang orang dewasa lakukan. Maka dari itu, berikan contoh yang baik secara konsisten pada anak.

5. Mampu meminta maaf

Anak yang cerdas secara emosional bisa menyadari jika mereka menyakiti perasaan seseorang. Mereka melakukannya dengan tulus karena ingin memperbaiki keadaan bukan sekedar untuk menghindari masalah agar cepat selesai. Untuk melakukan ini diperlukan kesadaran diri dan empati, yang biasanya terbentuk dari pengalamannya sendiri.

Anak yang bisa menerima perbaikan akan belajar untuk melakukan hal yang sama pada orang lain. Sikap ini juga menunjukkan ras hormat mereka sebagai individu.

6. Mereka meminta apa yang mereka butuhkan

Ungkapan semacam "Aku butuh pelukan." atau "Bisakah saya minta waktu sendirian sebentar?" menandakan jika anak dapat mengungkapkan kebutuhan emosional mereka secara langsung. Anak akan berani mengungkapkan hal ini di tempat yang mereka anggap aman atau kebutuhan mereka bisa dipenuhi.

7. Mereka tidak malu jadi diri sendiri

Anak yang cerdas secara emosional tidak akan menghabiskan waktunya untuk mengikuti keinginan orang lain. Mereka juga tidak akan menekan diri demi menjaga hubungan dengan orang lain. Anak dengan kecerdasan emosional akan mengekspresikan apa yang mereka rasakan tanpa takut diadili atau dihakimi.

Itulah tujuh kebiasaan yang dilakukan anak dengan kecerdasan emosional yang tinggi. Apakah Si Kecil termasuk salah satunya?

 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda