Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Anak Sering Pakai Skincare dan Produk Rambut? Waspadai Paparan Bahan Kimia Ini

Elia Amaliana   |   HaiBunda

Minggu, 01 Nov 2026 20:20 WIB

Skincare anak
Skincare anak/ Foto: Getty Images/ATHVisions
Daftar Isi

Bunda mungkin sudah terbiasa menggunakan produk perawatan untuk Si Kecil, mulai dari tabir surya, sabun, kondisioner, losion hingga minyak rambut. Namun, Baru-baru ini sebuah studi menemukan bahwa sejumlah produk perawatan bayi memiliki kadar kimia yang bisa berdampak buruk pada kondisi kesehatan anak.

Studi ini juga menemukan bahwa ada perbedaan tingkatan paparan yang dipengaruhi oleh jenis kelamin, kelompok ras, dan etnis. Temuan ini menunjukkan paparan bahan kimia pada anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pemilihan produk dan cara penggunaannya. 

Apa itu ftalat?

Ftalat adalah penganggu endoktrin yang sangat beracun. Ftalat dapat mengubah produksi hormon yang sering dikaitkan dengan penyakit reproduksi, sistem kekebalan tubuh, dan metabolisme. Bahan kimia ini juga dianggap sebagai racun perkembangan yang mempengaruhi perilaku dan kemampuan belajar anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ftalat juga sekelompok bahan kimia yang biasanya ditambahkan ke plastik untuk membuatnya lebih fleksibel dan tahan lama. Ftalat digunakan sebagai bahan produk perawatan diri untuk membawa aroma. Bahan kimia ini dapat bermigrasi dari wadah plastik ke produk perawatan pribadi, dan studi terbaru menemukan jika ftalat banyak mencemari makanan dan obat-obatan.

Hasil penelitian

Studi ini memeriksa lebih dari 600 sampel urine anak-anak berusia 4-8 tahun untuk mengetahui keberadaan ftalat. Temuan dari studi tersebut cukup mengkhawatirkan. Michael Bloom, peneliti utama dari Universitas George Mason, menyatakan bahwa,

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan produk perawatan kulit pada anak-anak merupakan sumber paparan bahan kimia ini,” kata Bloom. “Yang juga sangat mengkhawatirkan adalah produk-produk ini cenderung digunakan secara sering dan dalam jangka waktu yang lama.” tutup Bloom.

Jika bahan ini digunakan secara berulang pada anak tentunya akan berdampak buruk bagi kesehatannya. Anak semakin rentan terhadap penyerapan ftalat karena mereka memiliki luas permukaan kulit yang lebih besar dibanding berat badan mereka. Selain itu, sistem metabolisme mereka belum sepenuhnya berkembang untuk membantu proses senyawa tersebut. 

Meskipun tubuh dapat dengan cepat menghilangkan paparan kimia tersebut, namun paparan bisa terjadi berulang kali sehingga akan terus menimbulkan risiko kesehatan. “Kebiasaan yang membuat kita rentan terpapar bahan kimia ini, seperti penggunaan losion, cenderung menjadi rutinitas, sehingga kita sering berakhir dengan skenario di mana pada saat kita menghilangkan satu dosis. kita sudah menggunakan losion lagi keesokan paginya, dan keadaan paparan berulang ini dapat muncul,” ucap Bloom.

Selain itu, penggunaan losion seperti pelembab atau tabir surya, serta minyak rambut, dikaitkan dengan kadar ftalat yang lebih tinggi pada anak-anak. Anak yang menggunakan losion dalam 24 jam terakhir, memiliki kadar ftalat tertentu yang lebih tinggi. Sementara itu, penggunaan minyak rambut berkaitan dengan peningkatan kadar jenis ftalat tertentu yang sengaja ditambahkan ke dalam produk.

Paparan ftalat berdasarkan jenis kelamin dan ras

Studi tersebut menemukan bahwa anak laki-laki berpotensi lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Bloom juga menemukan perbedaan paparan ftalat berdasarkan ras dan etnis.

Perbedaan mungkin berkaitan dengan faktor sosioekonomi, preferensi merek, aksesibilitas, dan metode penggunaan produk. Setiap anak dari kelompok dan ras tertentu memiliki tingkatan paparan bahan kimia yang berbeda. Bloom berspekulasi bahwa beberapa perbedaan tersebut mungkin berasal perbedaan jenis produk yang dipasarkan. Kadar tertinggi terkadang ditemukan pada anak berkulit hitam dan Latino. 

Produk “bebas ftalat” lebih aman?

Produk dengan harga yang lebih murah cenderung memiliki kandungan ftalat yang lebih tinggi karena kemungkinan besar sudah terlalu lama berada di dalam tabung plastik dan lebih tinggi berpotensi terpapar panas. Dua masalah ini dapat menyebabkan bahan kimia tersebut bermigrasi dengan kecepatan lebih tinggi. 

Produk yang dilabeli “bebas ftalat” juga tidak menjamin anak terbebas dari bahan kimia tersebut. Flatat dari wadah bisa berpindah ke dalam produk. Penelitian juga tidak menemukan perbedaan kadar bahan kimia tersebut dalam urine mereka yang menggunakan produk “bebas ftalat” dengan yang tidak menggunakannya.

Regulasi masih minim

Regulasi terkait bahan kimia ini masih sangat minim. The Food and Drug Administration (FDA) mengizinkan sejumlah kecil ftalat ditambahkan ke produk perawatan pribadi. Tetapi, tidak ada pemantauan terkait jumlah atau batasan yang boleh terkandung dalam produk.

Kondisi ini membuat konsumen kesulitan menghindari paparan ftalat karena kandungannya tidak selalu mudah diketahui. Kini, Uni Eropa sudah menetapkan batasan penggunaan ftalat dalam perawatan pribadi.

Dengan adanya temuan ini, Bunda diharapkan lebih cermat dalam memilih dan menggunakan produk untuk Si Kecil. Dengan begitu, paparan bahan kimia ftalat pada produk perawatan anak dapat diminimalkan. Semoga membantu, Bunda.

 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda