Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

5 Cara Mengenalkan Anak tentang Pertemanan Toxic di Sekolah

Kinan   |   HaiBunda

Rabu, 16 Sep 2026 13:35 WIB

Ilustrasi Anak Sedih
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Alan Mazzocco
Daftar Isi
Jakarta -

Pertemanan toxic bisa merusak karakter anak dan bahkan membuatnya jadi tidak percaya diri. Bagaimana cara mengenalkan pertemanan toxic pada anak?

Bagi anak-anak, pertemanan merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupannya. Dari hubungan pertemanan, anak belajar berbagi, bekerja sama, memahami perasaan orang lain, sekaligus mengenal batasan.

Namun kenyataannya, tidak semua pertemanan memberikan pengalaman yang positif. Ada kalanya anak terjebak dalam pertemanan toxic yang membuatnya merasa tertekan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Apa itu pertemanan toxic?

Seiring bertambahnya usia, anak terus tumbuh dan berubah. Oleh karena itu, hubungan pertemanan pun tidak selalu berjalan mulus. Bahkan dalam pertemanan yang dekat, bisa saja ada masa ketika anak merasa kecewa, sedih, atau tidak nyaman.

Tidak jarang pula anak merasa dekat dengan seseorang yang sekaligus menjadi teman dan saingan, atau biasa disebut frenemy.

"Sebuah pertemanan bisa dikatakan toksik jika hubungan tersebut memberikan dampak buruk bagi kedua pihak," ungkap psikolog klinis, Laura Kastner, Ph.D, dikutip dari Parent Map.

Menurutnya, dalam pertemanan toksik, orang tua mungkin melihat adanya manipulasi, perilaku mengontrol, serta dampak negatif terhadap kesejahteraan emosional anak. 
Tak hanya bisa dialami oleh salah satu pihak, tetapi sering kali juga dapat berdampak pada keduanya.

Dalam pertemanan seperti ini, setidaknya salah satu anak mungkin merasa direndahkan, tidak mendapat dukungan, atau terus-menerus dikritik. 

Ciri-ciri tersebut sebenarnya dapat muncul pada berbagai usia, tetapi bentuknya biasanya menjadi semakin kompleks ketika anak bertambah besar.

Perbedaan pertemanan toxic dan bullying

Pertemanan toksik juga berbeda dengan bullying atau perundungan, Bunda. Kastner menjelaskan bahwa bullying umumnya merupakan hubungan yang diwarnai tindakan menyakiti atau menyiksa secara berulang dalam jangka waktu tertentu, dengan adanya ketimpangan kekuatan antara kedua pihak.

Sementara itu, teman yang toksik tidak selalu bersikap buruk sepanjang waktu. Ia bahkan bisa membuat anak merasa didukung, mengajaknya bermain, dan membuat anak tetap ingin berada di dekatnya. 

Akan tetapi di tengah hubungan tersebut juga dapat muncul perilaku yang merendahkan. Bisa juga anak jadi berasa ditekan atau dibuat merasa tidak berharga.

Ciri-ciri pertemanan toxic

Terapis pernikahan dan keluarga, Emily Zeller, LMFT, menjelaskan bahwa teman toksik adalah seseorang yang secara konsisten menunjukkan perilaku yang memanipulasi, atau menyakiti anak, baik secara emosional, sosial, maupun fisik.

Menurut Zeller, pertemanan toksik juga biasanya ditandai dengan pola perilaku yang tidak sehat. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Selalu bersikap negatif (contohnya sering merendahkan anak, mengejek, atau membuatnya merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri).
  • Suka mengontrol atau bersikap posesif (contohnya seperti menentukan dengan siapa anak boleh berteman atau marah berlebihan ketika anak bermain dengan teman lain).
  • Menciptakan drama dan melakukan manipulasi (misalnya membuat anak merasa bersalah, menyebarkan rumor, atau menguji untuk membuktikan kesetiaan).
  • Hubungan yang hanya berjalan satu arah (contohnya selalu ingin mendapatkan perhatian atau bantuan tetapi jarang memberikan dukungan kepada anak).
  • Memberikan tekanan negatif (seperti mengajak anak melakukan perilaku berisiko, bolos sekolah, atau melakukan bullying).

Bagaimana tanda anak mengalami pertemanan toxic?

Seiring bertambah usia, anak masih terus belajar memahami berbagai hal dalam kehidupan, termasuk bagaimana menjalin pertemanan yang baik. Karena itu, sangat wajar jika sesekali anak melakukan kesalahan atau tanpa sengaja menyakiti perasaan temannya.

Kastner menjelaskan bahwa sejak usia dini, anak sebenarnya sudah mulai belajar memahami dinamika kekuasaan dalam hubungan sosial. Beberapa perilaku yang kurang baik dalam pertemanan juga bisa menjadi bagian dari proses belajar tersebut.

Meski begitu, Bunda perlu lebih waspada ketika perilaku negatif tersebut muncul berulang kali. Salah satu hal penting untuk diperhatikan adalah seberapa sering, seberapa intens, dan seperti apa pola perilaku tersebut terjadi dalam pertemanan anak.

Perubahan perilaku anak juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Amati apakah anak mulai mengalami perubahan dalam kebiasaan sehari-hari.

Misalnya, anak yang sebelumnya tidur dan makan dengan baik tiba-tiba mengalami perubahan. Anak yang biasanya senang bermain di taman sepulang sekolah juga mendadak ingin segera pulang.

Begitu pula jika anak tiba-tiba tidak mau mengikuti kegiatan olahraga yang sebelumnya sangat disukainya.

Mengenali pertemanan toxic pada anak

Anak Ketahuan Bolos Sekolah? Ini 7 Cara Tepat Orang Tua MenghadapinyaIlustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/takasuu

Mengenali bahwa sebuah pertemanan tidak sehat bukan hal yang mudah bagi anak. Bahkan ketika mengalami sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, anak belum tentu bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tua.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua sebaiknya tidak langsung menunjukkan reaksi yang terlalu keras.

"Meski rasanya sulit, tapi sebaiknya orang tua jangan langsung menjelek-jelekkan teman anak. Hal itu justru bisa membuat anak semakin dekat dengan temannya," ungkap terapis trauma dan kecemasan, Cheryl Groskopf, LMFT, LPCC.

Alih-alih langsung menyalahkan teman, Groskopf menyarankan orang tua untuk menunjukkan rasa ingin tahu. Cobalah mengajukan pertanyaan yang membantu anak memahami pengalamannya sendiri.

Misalnya, 'Apakah kamu merasa aman dan bisa menjadi dirimu sendiri saat bersama teman itu?' atau 'Kalau kalian punya pendapat berbeda, apakah kamu bisa menyampaikan pendapatmu?'

Bunda juga dapat bertanya mengenai apa yang dirasakan anak ketika berada di dekat teman tersebut. Apakah ia merasa tegang, takut, sedih, atau justru nyaman dan biasa saja?

Cara mengenalkan anak tentang pertemanan toxic di sekolah

Menurut Groskopf, tujuan pembicaraan bukan untuk buru-buru memberi label bahwa seseorang adalah teman toksik. Hal yang lebih penting adalah membantu anak mengenali dan mendengarkan 'alarm' dari dalam dirinya ketika menghadapi pertemanan yang tidak sehat.

Berikut beberapa cara mengenalkan anak tentang pertemanan toksik di sekolahnya:

1. Jelaskan tentang pertemanan sehat 

Sebelum mengajak anak mengenali pertemanan toksik, orang tua sebaiknya terlebih dahulu menjelaskan seperti apa hubungan pertemanan yang sehat.

Misalnya hubungan pertemanan yang saling menghargai, mau bergantian, tidak memaksa, bersedia meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan membuat satu sama lain merasa aman.

Dengan memahami ciri-ciri tersebut, anak akan memiliki gambaran mengenai bagaimana seharusnya seorang teman memperlakukannya.

2. Ajarkan anak mengenali perilaku yang tidak baik

Jelaskan kepada anak bahwa setiap teman tentu bisa melakukan kesalahan. Namun, ada perilaku yang tidak seharusnya dianggap wajar jika dilakukan berulang kali.

Contohnya seperti sering mengejek atau mempermalukan, mengancam, mengucilkan, memaksa anak melakukan sesuatu, mengatur siapa yang boleh menjadi temannya, atau membuat anak merasa harus selalu mengikuti keinginan orang lain.

Gunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar anak lebih mudah memahami perbedaan antara konflik pertemanan biasa dan perilaku yang sudah tidak sehat.

3. Ajak anak mendengarkan perasaannya sendiri

Anak juga perlu memahami bahwa perasaan yang mereka alami juga sesuatu yang penting. 

Jika anak berulang kali merasa takut, tertekan, sedih, atau kehilangan rasa percaya diri setelah berinteraksi dengan seseorang, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian orang tua.

4. Latih anak berani menolak dan membuat batasan

Anak perlu memahami bahwa ia memiliki hak untuk menolak perlakuan yang membuatnya tidak nyaman. Ajarkan beberapa kalimat sederhana yang bisa digunakan, seperti, "Aku tidak suka kalau kamu mengejekku" atau "Aku tidak mau melakukan itu".

Orang tua dapat melatihnya melalui roleplay di rumah. Dengan begitu, anak bisa lebih terbiasa dan percaya diri ketika harus menghadapi situasi serupa di sekolah.

5. Pastikan anak tahu kapan harus meminta bantuan

Terakhir, pastikan anak memahami bahwa ia tidak harus menghadapi masalah pertemanan sendirian.

Jika ada teman yang terus mengganggu, mengancam, melakukan kekerasan, mengucilkan, atau membuatnya merasa tidak aman, ajarkan bahwa ia boleh dan perlu bercerita kepada orang dewasa yang dipercaya.

Dikutip dari Psychology Today, ketika anak sedang bercerita tentang masalah pertemanannya, cobalah terlebih dahulu memahami dan memvalidasi perasaan anak.

Respons yang menunjukkan empati dapat membuat anak merasa dipahami dan lebih dekat dengan orang tua. Anak pun bisa merasa bahwa dirinya tidak sendirian dalam menghadapi masalah tersebut.

Itulah penjelasan mengenai cara-cara mengenalkan anak tentang pertemanan toxic di sekolah. Dalam kasus yang lebih serius, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan pihak sekolah atau guru.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda