Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Ini Kalimat yang Bisa Diucapkan Orang Tua saat Anak Ketahuan Berbohong

Kinan   |   HaiBunda

Senin, 14 Sep 2026 13:35 WIB

Ilustrasi Anak Ngambek
Ilustrasi/Foto: iStock
Daftar Isi
Jakarta -

Ketika anak ketahuan berbohong, orang tua perlu mengucapkan kalimat yang tepat agar mereka tidak merasa 'dijebak'. Nah, seperti apa contohnya?

Dalam situasi demikian, Bunda memiliki kesempatan untuk kembali menanamkan pemahaman bahwa berkata jujur selalu menjadi pilihan yang terbaik.

Kejujuran bukan hanya tentang berkata benar, tetapi juga tentang tanggung jawab dan kepercayaan diri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Semua ini tidak terbentuk secara instan, melainkan tumbuh melalui contoh langsung dari orang tua dan nilai yang diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak usia berapa anak mulai bisa berbohong?

Kebiasaan berbohong biasanya mulai muncul sekitar usia 3 tahun. Namun, hal ini bisa berbeda-beda tiap anak.

Pada tahap perkembangan ini, anak masih belajar memahami dunia di sekitarnya, termasuk membedakan antara imajinasi dan kenyataan.

Mereka juga sedang belajar mengenal tentang konsep 'benar' dan 'salah', sehingga kebohongan masih dilakukan dengan bercanda. 

Dikutip dari Baby Center, nantinya saat memasuki usia sekitar 5 hingga 6 tahun, anak-anak mulai memahami bahwa berbohong itu perbuatan yang salah.

Berikutnya di usia sekolah, berbohong sudah menjadi hal yang bisa dipertimbangkan lebih lanjut oleh anak. Sehingga pembentukan perilaku jujur penting dimulai sejak dini.

Kalimat apa yang bisa diucapkan saat tahu anak sedang berbohong?

Ada kalanya Bunda tidak yakin apakah anak mengatakan yang sebenarnya, tetapi ada pula situasi ketika sudah sangat jelas bahwa ia sedang berbohong.

Ketika menghadapi situasi yang kedua, psikiater klinis di Amerika Seriakt, Tamir Aldad merekomendasikan orang tua menggunakan kalimat yang tepat, yaitu: "Ayah/Bunda sudah tahu apa yang terjadi. Ayah/Bunda hanya ingin mendengarnya langsung dari kamu."

Dengan kalimat ini, anak tidak lagi harus memilih antara mengaku atau menyangkal. Mereka hanya diberi kesempatan untuk berkata jujur kepada orang tua, yang sudah mengetahui faktanya.

"Kalimat ini menghilangkan kesan bahwa anak sedang dijebak. Orang tua tidak sedang menguji mereka, tetapi mengajak mereka untuk jujur. Perubahan pendekatan ini penting karena mengubah apa yang sebenarnya diminta dari anak," ungkap Aldad, seperti dikutip dari Parade.

Lalu kalimat apa yang sebaiknya dihindari?

Psikolog klinis lainnya dan penulis buku Hello Baby, Goodbye Intrusive Thoughts, Jenny Yip menyebutkan ada sebuah kalimat yang sebaiknya dihindari saat orang tua anak sedang berbohong. Kalimat tersebut adalah: "Apakah kamu melakukan ini?".

"Pertanyaan seperti ini dapat membuat anak merasa sedang dijebak. Mereka dengan cepat menyadari bahwa ini bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan sebuah ujian. Begitu anak merasa sedang diuji, mereka berhenti memikirkan kejujuran dan mulai memikirkan cara untuk menghindar," imbuh Yip.

Seiring perkembangan otak anak, mereka belajar mengendalikan impuls, mengatur emosi, dan memikirkan konsekuensi di masa depan.

Sesuatu yang dianggap anak sebagai 'ancaman bahaya' seperti hukuman, kekecewaan, atau kehilangan kedekatan dengan orangtua, dapat memicu perubahan perilaku mereka.

Yip menjelaskan bahwa dalam kondisi demikian, bagian otak yang berkaitan dengan respons bertahan hidup sering kali mengambil alih sebelum bagian otak yang bertugas menalar memiliki kesempatan untuk bekerja.

"Daripada mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah orang tua ketahui, sampaikan apa yang dilihat. Misalnya, 'Bunda melihat lampunya rusak. Bantu Bunda memahami apa yang terjadi'. Cara ini membuka ruang bagi anak untuk menjelaskan, bukan memaksanya untuk menyangkal," pesan Yip.

Aldad menambahkan bahwa anak secara alami cenderung menghindari hukuman jangka pendek dibandingkan konsekuensi jangka panjang. 

Menurutnya, kebanyakan anak akan memilih berbohong pada saat itu ketika dihadapkan pada pertanyaan yang membuat mereka merasa dijebak.

Jika dibiarkan, seiring waktu anak mulai merasa bahwa mereka sengaja dibuat berada dalam posisi yang salah, bukan diajak untuk berkata jujur. 

Apa saja yang menjadi penyebab anak berbohong? 

Menurut para psikolog, ada beberapa alasan yang menjadi penyebab mengapa anak tidak berkata jujur:

1. Takut dihukum

Ketika anak berbohong, alasan paling sederhana yang paling banyak menjadi pemicu yakni mereka tidak mau kena hukuman. Dengan demikian, menyangkal terasa lebih aman.

Sebagian besar kebohongan pada masa kanak-kanak bukan bertujuan untuk memanipulasi, tapi untuk menghindari konsekuensi.

2. Tidak mau mengecewakan orang tua

Anak juga rentan merasa takut mengecewakan orang-orang yang paling mereka sayangi, terutama orang tua.

Misalnya pada anak yang berperasaan sensitif, mereka mungkin menyembunyikan kesalahan karena tidak mau mengecewakan orang tua. 

3. Kesulitan menghadapi rasa malu

Rasa malu dapat membuat anak memilih untuk menyimpan sesuatu secara diam-diam. "Anak yang merasa malu cenderung menyembunyikan kesalahan. Sementara anak yang merasa diterima akan lebih bersedia memperbaikinya," ujar Yin.

4. Otak anak masih proses berkembang

Melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Kemampuan otak anak untuk mengendalikan impuls, membuat perencanaan, dan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, masih dalam tahap perkembangan.

Tips membangun karakter jujur pada anak

Berikut beberapa langkah penting yang bisa diterapkan untuk membantu membangun  karakter jujur pada anak:

1. Memberi contoh berperilaku jujur

Anak-anak akan mempelajari sesuatu lebih mudah dengan mengamati perilaku orang di sekitarnya. Untuk menumbuhkan sikap jujur, tunjukkan kejujuran dalam interaksi sehari-hari Bunda dengan Si Kecil.

2. Beri kesempatan kedua untuk berkata jujur

Anak balita sangat mungkin berbohong untuk menghindari hukuman. Alih-alih bereaksi secara keras atau berteriak, cobalah untuk menciptakan ruang di mana mereka merasa aman untuk memperbaiki kesalahan tersebut. 

Jika anak mau mengakuinya, apresiasi sambil tetap membahas perilaku yang salah. Ini akan membantu mereka memahami bahwa meskipun tindakan salah memiliki konsekuensi, tapi mengatakan yang sebenarnya merupakan pilihan yang tepat.

3. Beri apresiasi saat anak jujur

Dalam momen tertentu, berikan kesempatan untuk mengapresiasi anak ketika mereka berani berkata jujur, terutama dalam situasi yang sulit.

Mereka perlu tahu bahwa kejujuran merupakan sesuatu yang berharga dan patut diapresiasi.

Itulah penjelasan tentang kalimat yang bisa diucapkan orang tua saat anak berbohong. Jika perubahan sikap anak sulit diarahkan menjadi lebih positif, jangan ragu berkonsultasi ke profesional.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda