parenting
Anak Mulai Sering Gunakan Chatbot AI, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?
HaiBunda
Minggu, 13 Sep 2026 13:35 WIB
Daftar Isi
Saat anak sudah mulai terlalu sering menggunakan chatbot AI, apa tindakan yang sebaiknya segera Bunda lakukan agar tak jadi kebablasan?
Seperti sudah diketahui, saat ini perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sudah semakin gencar. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya mulai membuka obrolan soal AI dengan anak agar tetap terkendali.Â
Alasannya, fitur AI sudah banyak terintegrasi dalam mesin pencari, media sosial, bahkan ada di aplikasi yang sering digunakan anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak awal, anak perlu memahami manfaat, risiko, serta alasan mengapa ada batasan dalam penggunaan AI.Â
Jangan sampai penggunaan AI jadi berlebihan
Menurut studi terbaru yang dipublikasikan oleh Pew Research Center, 64 persen remaja di Amerika Serikat sudah menggunakan chatbot AI.
Bahkan sekitar 30 persen dari mereka yang menggunakannya mengatakan ini dilakukan setidaknya setiap hari. Di balik manfaatnya, chatbot tersebut juga memiliki risiko yang cukup besar bagi anak-anak. Demikian dikutip dari Futurism.
Pada usia berapa sebaiknya anak diajak bicara soal AI?
Dikutip dari laman United Nations Children's Fund (UNICEF), asisten profesor di Harvard University, Ying Xu, menyebut bahwa orang tua dapat mulai membicarakan AI sejak dini
"Karena banyak anak sudah berinteraksi dengan AI dalam kehidupan sehari-hari saat masih kecil. Meskipun anak mungkin belum menggunakan alat AI secara langsung, mereka bisa menemukannya di rumah, dari teman, atau bahkan sekolah," ujar Ying Xu.
Saat anak mengajukan pertanyaan atau memperhatikan sesuatu yang berkaitan dengan AI, momen tersebut dapat menjadi awal percakapan yang alami dan sesuai dengan usianya.
Menurut Ying Xu, memperkenalkan dasar-dasar teknologi dan AI sejak dini dapat membantu anak merasa lebih nyaman dan percaya diri ketika mereka mulai menemukan berbagai alat AI dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana cara menjelaskan tentang AI kepada anak?
Anak-anak yang masih kecil sering kali lebih mudah memahami AI ketika mereka dapat mengaitkannya dengan contoh yang sudah familiar dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, Bunda bisa menjelaskan tentang alat rumah tangga yang didukung teknologi AI, seperti robot penyedot debu, smart speaker, atau mainan robot sederhana.
Jelaskan bahwa perangkat tersebut mengikuti instruksi, mengenali pola, atau merespons suara, tetapi perangkat tersebut tidak bisa 'berpikir' atau 'merasakan' emosi seperti manusia.
Selanjutnya, Bunda bisa mengajak anak mengeksplorasi AI bersama-sama. Misalnya, ketika anak memiliki pertanyaan, ketik ke chatbot bersama-sama dan diskusikan jawabannya.
Risiko bahaya penggunaan AI bagi anak
Risiko lain termasuk saat anak kesulitan berkomunikasi dan membangun hubungan nyata dengan orang lain. Misalnya, anak mulai bergantung pada AI daripada mencari bantuan dari orang lain.
"Beberapa alat AI mengumpulkan informasi pribadi anak, membuat mereka terpapar materi yang menyesatkan atau berbahaya, atau mendorong mereka untuk berbagi informasi dengan cara yang belum sesuai dengan tahap perkembangannya," ujar Ying Xu.
Kekhawatiran lainnya berkaitan dengan ekspektasi anak terhadap hubungan dengan orang lain. Hubungan yang 'nyata' melibatkan perbedaan pendapat, kompromi, dan proses menyelesaikan konflik.
"Sementara itu kebanyakan sistem AI selalu bersikap setuju dan memberikan dorongan. Jika anak menghabiskan banyak waktu dengan sistem seperti ini, mereka dapat memiliki pemahaman yang tidak realistis tentang hubungan sosial seharusnya berjalan," pesan Ying Xu.
Kapan orang tua perlu khawatir?
Beberapa tanda yang mungkin bisa menjadi peringatan bagi orang tua di antaranya:Â
1. Penggunaan berlebihan
Perhatikan apakah anak menghabiskan waktu yang sangat lama untuk mengobrol dengan AI atau merasa marah ketika diminta berhenti.
2. Ada perubahan perilaku
Jika sudah berlebihan, anak rentan mengalami perubahan perilaku seperti menjadi lebih tertutup dan mudah cemas.
Waspadai juga jika anak selalu mengandalkan AI untuk mendapatkan dukungan emosional, daripada mencari bantuan dari orang yang dipercaya.
3. Menggeser aktivitas lain
Bunda juga bisa mulai khawatir jika penggunaan AI mulai mengurangi waktu tidur anak.
Perhatikan juga jika anak mulai bergantung sepenuhnya pada AI untuk mengerjakan tugas sekolah, serta menggantikan waktu sosial seperti berkumpul dengan teman atau melakukan hobi.
Jika Bunda melihat pola-pola tersebut, sebaiknya mulai ajak anak berdiskusi dengan pertanyaan terbuka secara tenang. Hindari langsung mengkritik anak.
Tanyakan apa yang disukai anak dari alat AI tersebut, serta apakah ada hal yang menurut mereka kurang membantu dapat membuka percakapan dengan tenang.
Tips melindungi anak dari risiko AI
Dikutip dari Child Rescue Coalition, ada beberapa tips yang dapat diterapkan sebagai upaya melindungi anak dari risiko penggunaan AI berlebihan:
1. Ajak anak bicara dengan tenang
Jangan menunggu sampai terjadi masalah untuk membicarakan aktivitas anak di dunia maya. Ajak anak bicara secara terbuka tentang apa saja yang mereka lakukan dan temui saat menggunakan internet.
Berikan kesempatan kepada anak untuk bercerita tentang pengalaman mereka, termasuk jika ada sesuatu yang membuat mereka bingung, takut, atau tidak nyaman.
Bunda bisa menjelaskan berbagai risiko yang mungkin mereka temui secara online, termasuk paparan konten eksplisit yang belum sesuai dengan usia anak.
2. Kenalkan anak pada tanggung jawab menggunakan teknologi
Seiring bertambahnya usia, anak perlu memahami bahwa menggunakan internet juga membutuhkan tanggung jawab.
Ajarkan pentingnya menjaga informasi pribadi, menghormati orang lain saat berinteraksi di dunia maya, serta memahami dampak dari setiap hal yang mereka unggah.
3. Buat aturan yang jelas dan konsisten
Orang tua perlu menetapkan batasan yang jelas mengenai informasi pribadi dan jenis konten yang boleh dibagikan anak di internet.
Berikan juga aturan waktu yang konsisten. Pastikan anak tahu kapan waktunya berhenti menggunakan AI agar tidak kebablasan.Â
4. Pantau aktivitas anak di dunia maya
Pastikan Bunda memanfaatkan fitur parental control untuk membantu memantau penggunaan internet. Batasi akses anak terhadap konten yang berpotensi membahayakan.
Sesekali tanyakan juga kepada anak tentang apa yang mereka lakukan dan temui di internet.Â
Obrolan ringan yang rutin dapat membantu orang tua mengetahui pengalaman anak, sekaligus membuat mereka merasa aman untuk bercerita.
5. Ajarkan anak segera melapor jika ada masalah
Pastikan anak paham untuk segera bercerita kepada orang tua jika menerima pesan tak biasa atau permintaan informasi pribadi.
Bangun rasa percaya agar anak tidak takut dimarahi atau disalahkan ketika perlu bertanya kepada orang tua.
Itulah penjelasan tentang kapan orang tua perlu khawatir saat anak mulai sering gunakan chatbot AI. Semoga bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
5 Hak Anak yang Wajib Dipenuhi Orang Tua Menurut Islam
Parenting
4 Tips Menjadi Orang Tua Baru, Begini Persiapannya Bunda
Parenting
Bunda Perlu Tahu, Pentingnya Mengajarkan Kejujuran pada Anak Sejak Dini
Parenting
Anak Tak Mau Ditinggalkan dan Cemas Berpisah, Harus Bagaimana?
Parenting
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
5 Foto
Parenting
5 Potret Cute Baby Regina Anak Ahok & Puput Nastiti Bareng Dua Kakaknya
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Keamanan Mainan Berbasis AI untuk Anak Usia Dini, Pakar Soroti Masalah Emosi
Ini yang Bisa Terjadi pada Perkembangan Otak Anak jika Sering Gunakan AI Chatbot
5 Cara Membicarakan AI dengan Anak, Bunda Perlu Tahu