Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

30 Peristiwa Sejarah Indonesia Sejak Penjajahan & Reformasi

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Minggu, 04 Oct 2026 15:35 WIB

Sejarah Indonesia
Sejarah Indonesia/ Foto: Getty Images/Ladest Parl
Daftar Isi

Indonesia memiliki serangkaian peristiwa sejarah yang panjang, mulai dari zaman kerajaan hingga reformasi. Setiap peristiwa sejarah Indonesia ini menyimpan cerita perjuangan, konflik, sekaligus perubahan besar yang membentuk Indonesia seperti sekarang.

Berbagai peristiwa sejarah di Indonesia ada yang berskala besar hingga diketahui di berbagai penjuru dunia. Ada pula peristiwa sejarah lokal  yang terjadi di daerah tertentu, namun tetap punya pengaruh besar terhadap perjalanan sejarah bangsa. Semua peristiwa sejarah nasional ini  menjadi tonggak penting perubahan Indonesia.

30 Peristiwa Sejarah Indonesia Sejak Penjajahan & Reformasi

Berikut ini beberapa contoh peristiwa sejarah sejak masa penjajahan sampai reformasi yang penting untuk diketahui. Peristiwa sejarah ini sebagai pengingat sekaligus bahan belajar tentang perjalanan panjang bangsa Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


1. Kedatangan Portugis di Maluku-1512

Peristiwa sejarah penjajahan di Indonesia diawali dengan kedatangan bangsa Portugis di Maluku pada tahun 1512. Dilansir laman detikedu, pada masa ini Bandar Malaka menjadi pelabuhan utama pengumpulan dan distribusi cengkeh serta rempah-rempah Asia Tenggara.

Kedatangan Portugis ke Maluku yang awalnya hanya untuk mencari rempah, kemudian mulai melebar ke ranah politik. Setelah armada Portugis tiba di perairan Banda di bawah kepemimpinan kapten Antonio de Abreu, Sultan Bayanullah dari Kesultanan Ternate mengutus beberapa orang untuk melakukan pembicaraan. Mereka mengajak Fransisco Serrao, salah seorang di ekspedisi Portugis tersebut, sejalan dengan penelitian Rosdiyanto, "Kesultanan Ternate dan Tidore" dalam Jurnal Aqlam, IAIN Manado.

Perbincangan dengan Fransisco itu menghasilkan beberapa kebijakan Sultan. Salah satunya adalah  pendatang Portugis diizinkan membangun benteng di Ternate. Benteng pertamanya adalah benteng Toloko pada 1522. Namun, kebijakan-kebijakan yang diusung kelak melemahkan posisi Kesultanan Ternate. 

2. Kedatangan Belanda di Nusantara-1596

Sama halnya seperti Portugis, kedatangan Belanda ke Nusantara juga diawali dengan tujuan perdagangan rempah. Pada tahun 1596, Cornelis de Houtman menjadi orang Belanda pertama yang menginjakkan kaki di Banten untuk berdagang.

Ini terjadi setelah Belanda mengalami kesulitan akses pada pasar rempah-rempah di Lisabon, usai Portugis jatuh ke tangan Spanyol pada masa Revolusi 80 tahun. Kemudian, bangsa Belanda terdorong untuk mencari rempah ke dunia Timur, termasuk Nusantara.

Namun, de Houtman besikap arogan dan perilaku kasar. Ia berusaha memaksakan monopoli dagang. Sikap tersebut membuat Sultan Banten dan rakyatnya mengusir rombongan Belanda dari Banten.

Barulah pada 1598, ketika Jacob van Heemskerck mencoba berniaga dengan pendekatan yang lebih diplomatis, Belanda kembali diterima di Banten.

Tahun berikutnya, Jacob van Neck berlayar ke Maluku. Saat itu, rakyat Maluku tengah berkonflik dengan Portugis, sehingga Belanda disambut baik dan berhasil berdagang dengan keuntungan besar.

3. Berdirinya VOC-1602

Terjadi kemajuan perdagangan rempah yang  pesat dialami bangsa Belanda. Hal ini memunculkan banyak perusahaan-perusahaan dagang di Nusantara.

Latar belakang berdirinya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) adalah untuk menghindari persaingan dagang antar perusahaan-perusahaan Belanda. VOC didirikan pada 20 Maret 1602.

Namun, tujuan organisasi tersebut tidak hanya untuk mengelola perusahaan dagang. Tetapi juga mengarah pada monopoli pasar rempah di Nusantara.

Dikutip dari buku Sejarah Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia yang diterbitkan Penerbit Naga Pustaka tahun 2026, VOC memiliki tiga tujuan.

Pertama, sebagai bentuk menyaingi East India Company (EIC) dan kekuatan Eropa lainnya dalam perdagangan Asia. Kedua, untuk menguasai pelabuhan dan Kerajaan di Indonesia. Ketiga, membangun monopoli atas perdagangan rempah-rempah di Indonesia.

4. Perlawanan Sultan Hasanuddin terhadap VOC (1666–1669)

Pembentukan VOC untuk menguasai pasar rempah Nusantara menimbulkan kemarahan dari rakyat. Ada banyak pedagang Makassar yang mengalami kemunduran akibat keberadaan VOC. Hal ini menimbulkan peristiwa sejarah perlawanan Sultan Hasanuddin terhadap VOC.

Dikutip dari Buku IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah), penerbit PT Grafindo Media Pratama,  Sultan Hasanuddin tidak berhasil mengusir VOC dari wilayah Makassar.

Hal ini dikarenakan VOC memanfaatkan konflik dan persaingan antara Sultan Hasanuddin dan Raja Bone bernama Aru Palaka. Raja Aru Palaka selalu didekati oleh VOC untuk menghadapi pasukan Sultan Hasanuddin.

Melalui pertempuran bertahun-tahun, akhirnya pasukan Kerajaan Makassar dapat dikalahkan pasukan VOC. Pasukan Belanda yang dipimpin Cornelis Speelman memaksa Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya pada 1667.

Isinya tentang permintaan agar Sultan Hasanuddin memberi hak kepada VOC untuk berdagang di kawasan Maluku dan Makassar, hak untuk memonopoli perdagangan di wilayah Timur, serta pengembalian wilayah dan tahta Aru Palaka sebagai Raja Bone.

5. Perang Padri (1803–1837)

Peristiwa sejarah Indonesia berikutnya adalah Perang Padri. Pada awalnya Perang Padri bukanlah perang antara rakyat Indonesia melawan kolonial Belanda, tetapi merupakan perang adat.

Perang ini terjadi karena adanya perbedaan pendapat antara kaum padri dan kaum adat di Minangkabau. Menurut buku Sejarah Lengkap Kolonial di Nusantara penerbit IrciSOD, kaum padri menentang kebiasaan konsumsi minuman keras, sabung ayam, dan berjudi yang tidak sesuai syariat Islam. Sementara kaum adat menganggap kaum padri merusak kelestarian budaya Minangkabau.

Perang Padri terdiri atas beberapa fase, pada fase pertama kaum Padri mendominasi perlawanan di wilayah Minangkabau. Kemudian, pada fase dua Belanda mulai ikut campur dan mendukung kaum adat, ini melemahkan kekuatan kaum padri.

Fase ketiga kaum padri melawan Belanda secara besar-besaran karena perjanjian yang dibuat dianggap lebih menguntungkan pihak lawan. Peperangan ini dimenangkan oleh Belanda.

6. Perang Diponegoro (1825–1830)

Perang Diponegoro menjadi salah satu peristiwa sejarah perang di Indonesia yang berlangsung lama.  Pihak yang terlibat adalah pasukan pribumi dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Sedangkan Belanda dipimpin oleh Jendral De Kock. 

Perang ini melibatkan banyak pasukan. Pasukan Belanda terdiri atas 50 ribu tentara, sementara pasukan Diponegoro berjumlah 100 ribu tentara.

Selama perang berlangsung, Diponegoro dibantu oleh panglima perangnya, yakni Mangkubumi, Sentot Ali Basyah, dan Kyai Maja. Perang ini memakan banyak korban jiwa. Pada akhir perang, Diponegoro ditangkap di Magelang dan diasingkan ke Manado, lalu dipindahkan ke Makassar sampai wafatnya. pada 8 Januari 1855.

7. Perang Aceh (1873–1904)

Perang Aceh adalah peristiwa sejarah lokal yang merupakan bentuk perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonial Belanda. Peristiwa sejarah ini bermula dari Belanda yang sangat ingin menguasai kekayaan alam Aceh untuk mewujudkan Pax Neerlandica.

Meski Belanda terikat perjanjian Traktat London yang isinya larangan Belanda menyentuh wilayah Aceh, Belanda tetap melakukannya. Bahkan, Belanda juga mengadakan perjanjian dengan Sultan Siak hingga sampai diakui kedaulatan Belanda di Sumatra Timur.

Kemudian, Belanda mengumumkan peperangan terhadap rakyat Aceh. Dalam Perang Aceh, Belanda berhasil menduduki wilayah-wilayah penting Aceh seperti Masjid Baiturrahman dan Istana Kesultanan Aceh.

Sepanjang peperangan ini terdapat beberapa pahlawan terkenal yang memimpin, yaitu Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, dan Pang Nanggroe. Namun, mereka gugur dalam Perang Aceh ini.

8. Pelaksanaan Politik Etis-1901

Politik etis merupakan peristiwa sejarah yang menjadi awal adanya pergerakan nasional di Indonesia. Peristiwa sejarah ini datang dari gagasan Belanda untuk balas Budi setelah menerapkan praktik kolonialisme yang membuat rakyat Indonesia sengsara.

Gagasan tersebut dimulai dari kritik Van Deventer melalui artikelnya di majalah De Gids yang berjudul "Een Eereschlud" yang berarti utang kehormatan. Kebijakan politik etis terdiri atas irigasi untuk mengairi lahan-lahan pertanian, transmigrasi, dan edukasi.

Namun, dalam pelaksanaan kebijakan ini terjadi penyelewengan. Semua kebijakan yang diusung hanya dijalankan untuk menghasilkan keuntungan bagi Belanda.

9. Berdirinya Budi Utomo-20 Mei 1908

Organisasi Budi Utomo didirikan atas inisiatif Mas Ngabehi Wahidin Soedirohoesodo. Ia adalah dokter yang ingin memajukan martabat bangsa melalui pengajaran. Budi Utomo dibentuk pada 20 Mei 1908 dan diketuai Soetomo.

Dikutip dari buku Sejarah Untuk SMP dan MTs penerbit Grasindo, kegiatan dari organisasi ini utamanya adalah mempelajari ilmu pengetahuan barat dan Bahasa Belanda. Kehadiran Budi Utomo mendapat dukungan secara pesat. 

Meski awalnya tidak ditujukan untuk terlibat politik, namun anggota Budi Utomo memiliki wakil yang cukup banyak dalam Dewan Rakyat (Volksraad). Kemunduran Budi Utomo bermula dari tekanan terhadap pergerakan nasional oleh pemerintah Belanda.

10. Berdirinya Sarekat Islam-1912

Selain Budi Utomo, Sarekat Islam menjadi organisasi yang didirikan pada masa penjajahan Belanda. Sarekat Islam merupakan organisasi Islam yang dipelopori Haji Samanhudi. Ini merupakan organisasi perkumpulan kaum pedagang Muslim pada awalnya. 

Mengutip buku Sejarah Pergerakan Nasional penerbit Prenada,  saat H.O.S Tjokroaminoto bergabung, organisasi ini jadi memiliki tujuan yang lebih luas, terutama perubahan dari jalur ekonomi menjadi jalur politik. Namun, organisasi Sarekat Islam mengalami kemunduran akibat konflik anggota-anggota kelompok yang memiliki ideologi berbeda. 

11. Berdirinya Indische Partij-1912

Indische Partij atau dikenal sebagai Partai Hindia merupakan organisasi politik pertama di Hindia Belanda. Organisasi berbasis nasionalisme ini memiliki jangkauan yang lebih luas. 

Indische Partij bertujuan membangkitkan kesadaran bahwa Hindia adalah rumah nasional bagi Indiers, yaitu segala yang mengakui Hindia sebagai tanah airnya, baik itu bumiputra asli, keturunan Arab, Cina, dan Eropa.

Dikutip dari buku Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara penerbit Diva Press, latar belakang Indische Partij adalah kekecewaan atas organisasi-organisasi sebelumnya yang dianggap eksklusif. Namun, Indische Partij dibubarkan pada tahun 1913 karena tidak mendapat perizinan dari pemerintah kolonial. 

12. Berdirinya Perhimpunan Indonesia-1920-an

Perhimpunan Indonesia adalah organisasi pergerakan nasional yang berdiri di Belanda. Organisasi in awalnya merupakan ajang bertemunya antar mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda. Kemudian, Perhimpunan Indonesia berkembang dan berfokus pada bidang politik. 

Dilansir dari buku Sejarah yang dirilis penerbit PT Grafindo Media, tokoh-tokoh  Perhimpunan Indonesia di antaranya adalah Gunawan Mangunkusumo, Moh. Hatta, Sastro Mulyono, Iwa Kusumasumantri, dan Sartono. 

13. Kongres Pemuda I-1926

Kongres Pemuda I diselenggarakan 30 April-2 Mei 1926 dan dipimpin oleh Mohammad Tabrani. Tujuan  Kongres Pemuda I adalah menanamkan semangat kerja sama para pemuda untuk menjadi dasar persatuan Indonesia.

Dikutip dari buku Explore Sejarah Indonesia Jilid 2 untuk SMA/MA Kelas XI penerbit Duta, kongres ini dihadiri oleh berbagai organisasi kepemudaan seperti Jong Minahasa, Jong Sumatranen, dan Sekar Rukun.

Dalam kongres ini, Mohammad Tabrani mengajukan usulan dari PPPI tentang penggabungan semua organisasi kepemudaan dalam sebuah badan perhimpunan pemuda. Namun, usulan tersebut tidak dapat dilaksanakan karena sifat kedaerahan tiap organisasi masih kuat.

Selain  Mohammad Tabrani, ada tokoh terkemuka lain yang berpidato, yakni Soemarto dan Muhammad Yamin. Kongres ini melahirkan kesadaran cita-cita persatuan bangsa sekaligus perlunya bahasa persatuan.

14. Kongres Pemuda II dan Sumpah Pemuda-28 Oktober 1928

Kongres Pemuda II menjadi peristiwa sejarah Indonesia yang penting karena menjadi momen lahirnya Sumpah Pemuda. Kongres kedua ini dihadiri oleh berbagai organisasi dan perhimpunan kepemudaan, selain itu dihadiri juga oleh perwakilan Volksraad dan Pemerintah Kolonial Belanda. Kongres Pemuda II dilaksanakan dalam tiga kali rapat.

Pada akhir rapat ketiga inilah yang menjadi momen pelaksanaan Sumpah Pemuda. Naskah Sumpah Pemuda dirumuskan oleh Muhammad Yamin. Sumpah Pemuda menjadi simbol semangat nasionalisme dan persatuan bangsa.

15. Lahirnya lagu “Indonesia Raya”-1928

Lahirnya lagu Indonesia Raya menjadi peristiwa sejarah Indonesia yang juga penuh perjuangan. Penciptaan lagu ini oleh Wage Rudolf Soepratman diawali ketika Wage membaca artikel Manakah Komponis Indonesia yang Bisa Menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia yang Dapat Membangkitkan Semangat Rakyat? dalam majalah Timboel terbitan Solo.

Hatinya tergerak untuk menuliskan not-not lagu Indonesia Raya pada suatu malam tahun 1926. Kemudian, ia mencari perusahaan rekaman yang ada di Batavia.

Beberapa perusahaan rekaman sempat menolak permintaan Wage karena takut ditangkap Belanda. Hanya perusahaan rekaman Yo Kim Tjan yang menyetujui. Yo Kim Tjan juga merupakan sahabat Wage sekaligus pemain biola yang menyarankan Indonesia Raya dibuat dua versi, keroncong dan biola.

Pada 28 Oktober 1928, Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan. Ini membuat Belanda panik dan menyita semua piringan hitam versi keroncong.

Dilansir laman detikjatim, ketika Jepang menderita kekalahan pada tahun 1944. Jepang membentuk Panitia Lagu Kebangsaan yang diketuai Ir Soekarno.

Panitia itu melakukan perubahan naskah asli WR Soepratman sebanyak tiga kali. Lagu Indonesia Raya baru dikumandangkan kembali secara resmi pada saat Indonesia merdeka.

16. Pendudukan Jepang di Indonesia-1942

Pendudukan Jepang di Indonesia diawali dengan pengeboman mendadak Pearl Harbour oleh Jepang. Peristiwa sejarah ini membuat Amerika menyatakan perang dengan Jepang.

Kemudian, Jepang menyerbu Indonesia yang saat itu tengah dijajah Belanda. Jepang dengan cepat menduduki berbagai wilayah Indonesia. Ini membuat  pihak Belanda yaitu Gubernur Jenderal A.W.L.Tjarda van Starkenborgh Stachouwer  menyerah tanpa syarat kepada Jepang lewat perjanjian Kalijati pada 8 Maret 1942. Sejak itu Indonesia dikuasai oleh Jepang dan penjajahan Belanda berakhir.

Kedatangan Jepang sempat mengundang simpati rakyat Indonesia karena propagandanya. Jepang menggunakan ramalan Jayabaya tentang datangnya bangsa kulit kuning yang akan mengusir bangsa kulit putih.

Selain itu, Jepang menyebut diri mereka sebagai saudara tua bagi Indonesia. Lahir pula gerakan 3A, yaitu Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Asia.

Namun, semua itu hanyalah strategi Jepang demi  memperoleh tenaga bantuan untuk menghadapi Amerika dan sekutunya pada Perang Pasifik. Sumber daya manusia dan sumber daya alam pribumi dieksploitasi untuk kepentingan perang.

17. Pembentukan BPUPKI-1945

Peristiwa sejarah selanjutnya yaitu Pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk pada 28 Mei 1945.

Organisasi ini dibentuk atas dasar pemerintah Jepang yang memberi sinyal tentang pemberian kemerdekaan untuk Indonesia di kemudian hari.

BPUPKI diketuai oleh K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat dan dilaksanakan sebanyak dua kali sidang. Pada sidang pertama yang dilaksanakan 29 Mei 1945, dibahas tentang dasar negara yang diusung oleh Moh Yamin dan  Ir. Soekarno, kemudian dirumuskan kembali oleh Panitia Sembilan sehingga lahirlah Pancasila.

Sementara sidang kedua BPUPKI dilakukan pada tanggal 10-16 Juli 1945. Dalam rapat ini, dibahas mengenai rancangan Undang-Undang Dasar.

18. Peristiwa Rengasdengklok-16 Agustus 1945

Peristiwa sejarah Rengasdengklok menjadi titik penting untuk percepatan kemerdekaan Indonesia. Kejadian Rengasdengklok  bermula setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu.

Hal ini membuat para pemuda mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun, Soekarno dan Hatta ingin mendapat kepastian terkait kekalahan Jepang.

Perbedaan pendapat antara golongan muda dan  Soekarno-Hatta membuat para pemuda akhirnya menculik Soekarno dan Hatta. Hal ini ditujukan agar keduanya setuju untuk segera mempersiapkan proklamasi kemerdekaan sesegera mungkin.

19. Perumusan Naskah Proklamasi-16 Agustus 1945

Setelah peristiwa penculikan Soekarno-Hatta di Rengasdengklok, rombongan dari Rengasdengklok langsung menuju ke rumah Laksamana Tadashi Maeda untuk melakukan perumusan naskah proklamasi.

Kegiatan ini dilaksanakan di ruang makan rumah Maeda dan disaksikan oleh Sudiro, Sukarni, dan Mr. Ahmad Subardjo. Setelah perumusan selesai, hasilnya dibacakan Soekarno di depan para tokoh pemuda dan anggota PPKI. Kemudian, Sayuti Melik mengetik naskah tersebut.

20. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia-17 Agustus 1945

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia menjadi peristiwa sejarah yang mengubah arah hidup bangsa Indonesia. Adanya proklamasi kemerdekaan menunjukkan hakikat sebagai bangsa yang bebas menentukan masa depannya tanpa campur tangan orang lain.

Berita proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dengan cepat menyebar dan banyak tokoh yang bersiap-siap untuk datang.

Sementara itu, banyak tokoh yang menyiapkan keperluan upacara proklamasi, misalnya Wilopo yang menyiapkan mikrofon dan pengeras suara serta Soediro yang menyiapkan tali dan tiang bendera.

Pelaksanaan upacara dilakukan pada pukul 10.00 dengan agenda pembacaan proklamasi oleh Soekarno, didampingi Moh Hatta. Pembacaan proklamasi dilakukan di Jalan Pegangsaan Timur no 56.

21. Pertempuran Surabaya-10 November 1945

Merdekanya bangsa Indonesia dari penjajahan Jepang tidak selesai begitu saja setelah pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945. Pasca kemerdekaan, ada berbagai pertempuran yang terjadi, salah satunya adalah peristiwa sejarah Pertempuran Surabaya.

Pertempuran ini terjadi setelah adanya perebutan senjata oleh para  pemuda pada 2 September 1945.  Sementara itu, Brigade 49 yang dipimpin Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby ditugaskan oleh AFNEI untuk melucuti tentara Jepang sekaligus menyelamatkan tawanan perang.

Kedatangan tentara Inggris ini menghasilkan perjanjian yang intinya kedatangan Inggris tidak akan mengancam ketentraman Indonesia. Namun, kesepakatan tersebut tidak ditepati oleh tentara Inggris.

Mereka mengirim satu peleton Field Security Section untuk membebaskan tahanan sekaligus menduduki beberapa wilayah di Surabaya. Hal ini memicu kemarahan rakyat Indonesia dan terjadilah pertempuran.

22. Perjanjian Linggarjati-1946

Ada berbagai perjanjian yang diadakan Indonesia dengan belanda untuk menyelesaikan konflik. Salah satunya adalah perjanjian Linggarjati yang diselenggarakan pada 10 November 1946 di Cirebon.

Dikutip dari buku Ilmu Pengetahuan Sosial 3 yang diterbitkan Grasindo, isi Perjanjian Linggarjati adalah:

  1. Belanda mengakui wilayah Indonesia yang mencakup Jawa, Sumatra, dan Madura. Belanda harus meninggalkan Indonesia sebelum tanggal 1 Januari 1949.
  2. Indonesia dan Belanda setuju membentuk negara serikat dengan nama RIS. Negara Indonesia Serikat terdiri dari RI, Kalimantan, dan Timur Besar. Pembentukan RIS ini dilangsungkan sebelum 1 Januari 1949.
  3. RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda yang dipimpin oleh Ratu Belanda.

23. Agresi Militer Belanda I-1947

Peristiwa sejarah Agresi Militer Belanda I pada tahun 1947 terjadi pada awal kemerdekaan Indonesia. Pada masa ini, masih banyak pihak yang ingin menguasai wilayah Indonesia.

Setelah Perang Dunia II usai, sekutu berusaha mengambil bekas wilayah jajahan Jepang, termasuk Indonesia. Operasi ini dilakukan oleh tentara Inggris di bawah komando Panglima Komando Asia Tenggara, Lord Louis Mountbatten.

Kedatangan Inggris disambut dengan perlawanan dari rakyat Indonesia. Apalagi, setelah tahu bahwa Inggris dibantu oleh NICA (Nederlandsch Indië Civiele Administratie) sebutan untuk Pemerintahan Sipil Hindia Belanda.

Banyaknya pertempuran yang terjadi antara sekutu dan rakyat Indonesia membuat Inggris mengutus Lord Killearn untuk berunding. Perundingan tersebut dikenal dengan perjanjian Linggarjati.

Namun, perjanjian ini tidak menghasilkan perdamaian. Justru Belanda menyatakan diri keluar dari perjanjian Linggarjati dan menyatakan agresi militer.

Agresi militer I baru berhenti setelah Pemerintah Republik Indonesia melaporkan agresi militer ini ke Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). 

24. Perjanjian Renville-1948

Sengketa wilayah antara Indonesia tidak terselesaikan melalui Perjanjian Linggarjati. Kemudian, Komisi Tiga Negara (KTN) berusaha membuat perundingan sehingga lahirlah Perjanjian Renville.

Beberapa putusan Perjanjian Renville di anyaranya penghentian tembak-menembak, daerah-daerah di belakang garis van Mook harus dikosongkan dari pasukan RI, dan pembentukkan Uni Indonesia-Belanda.

Namun, perjanjian ini mempersulit posisi Indonesia karena wilayah RI semakin sempit. Apalagi Belanda melakukan blokade ekonomi terhadap Indonesia.

25. Agresi Militer Belanda II dan PDRI-1948

Agresi Militer Belanda II dilakukan Belanda dengan bantuan Inggris dan sekutunya dengan tujuan mengambil alih kekuasaan wilayah Indonesia. Hal ini dikarenakan Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia.

Pada 19 Desember 1948, Belanda dan pasukan Sekutu mengambil alih Yogyakarta. Pada masa itu Yogyakarta merupakan ibu kota negara sekaligus pusat pemerintahan Indonesia.

Dalam peristiwa penyerangan tersebut, presiden beserta orang-orang penting dalam pemerintahan ditangkap oleh Belanda. Namun, Soekarno telah memutuskan dua hal penting sebelum Belanda menyerang.

Dilansir dari laman detikcom, putusan pertama yaitu Soekarno dan Hatta akan tetap berada di Yogyakarta meskipun berisiko tertangkap oleh Belanda. Putusan kedua yaitu  Soekarno memberikan mandat kepada Menteri Kemakmuran Sjarifuddin Prawiranegara di Sumatra untuk dapat membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Setelah Soekarno-Hatta ditangkap, Sjarifuddin mengumpulkan sisa tokoh dan jajaran kabinet untuk mendirikan PDRI di Bukittinggi. Rakyat dari berbagai daerah juga turut melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.

26. Konferensi Meja Bundar dan pengakuan kedaulatan-1949

Konferensi Meja Bundar dilaksanakan pada 23 Agustus-2 November 1949 di Den Haag Belanda. Konferensi ini diwakili Drs. Moh. Hatta sebagai perwakilan Indonesia dan Sultan Hamid II sebagai perwakilan Belanda yang mewakili negara boneka Borneo Barat.

Dikutip dari buku Pengetahuan Sosial Sejarah penerbit Grasindo, isi perjanjian ini adalah : 

  1. Belanda akan menyerahkan kedaulatan atas Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat selambat-lambatnya pada 30 Desember 1949. 
  2. Pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) dengan TNI sebagai intinya. Pembubaran KNIL dan penarikan pasukan KNIL ke dalam APRIS.
  3. Beberapa persetujuan pokok mengenai masalah keuangan, ekonomi, budaya, dan lain-lain.
  4. Mengenai Irian Barat penyelesaiannya ditunda selama satu tahun setelah penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. Republik Indonesia Serikat adalah negara yang terdiri dari 16 negara bagian yang berasal dari negara boneka dan Republik Indonesia.

27. Dekrit Presiden 5 Juli 1959-1959

Peristiwa sejarah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 merupakan bentuk respons atas kegagalan Dewan Konstituante dalam merumuskan UUD yang baru. Pada tahun 1959, Konstituante ditetapkan dan 544 anggota Konstituante mengadakan berbagai sidang untuk menyusun UUD baru bagi Indonesia guna menggantikan UUDS 1950.

Namun sampai 1958, perumusan UUD belum juga berhasil seperti yang diharapkan karena terjadi perbedaan pendapat. Momen Dekrit Presiden 5 Juli 1959 menandai berakhirnya era Demokrasi Parlementer dan bermulanya era Demokrasi Terpimpin.

28. Gerakan 30 September (G30S)-1965

Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) merupakan gerakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), dipimpin oleh Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit. G30S PKI terjadi pada malam hingga dini hari pada tanggal 30 September,

Dikutip dari detikcom, gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh PKI mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia. Tiga dari enam orang yang menjadi target langsung dibunuh di kediamannya.

Sementara lainnya diculik dan dibawa menuju Lubang Buaya. Tujuan utama dari G30S PKI adalah menggulingkan pemerintahan era Soekarno dan mengganti negara Indonesia menjadi negara komunis.

29. Gerakan Reformasi-Mei 1998

Peristiwa sejarah Gerakan Reformasi bermula dari krisis ekonomi yang melanda beberapa wilayah Asia Tenggara, terutama Indonesia. Krisis moneter ini kemudian mengungkap krisis lain, salah satunya kolusi, korupsi, dan nepotisme. Hal ini semakin menggoyahkan rezim Presiden Soeharto yang telah melemah.

Sebelum puncak demonstrasi, terjadi serangkaian peristiwa misalnya Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998, yang memakan enam korban dari kalangan mahasiswa. Peristiwa itu memicu demonstrasi yang lebih besar di berbagai daerah.

Pada 18 Mei 1998, mahasiswa berhasil menduduki atap gedung DPR/MPR RI di Senayan. Mahasiswa pun menuntut dilakukannya Sidang Istimewa.

Pada masa ini ketua MPR/DPR RI, Harmoko, menyarankan presiden untuk mengundurkan diri. Namun, Presiden Soeharto saat itu masih belum mau mundur dari jabatannya.

Kemudian, tanggal 21 Mei 1998 pukul 10.00 WIB pagi Soeharto lengser dari jabatannya dan menunjuk  B.J. Habibie untuk menggantikan posisinya sebagai Presiden Republik Indonesia.

30. Awal Era Reformasi-1998

Peristiwa sejarah pelengseran Soeharto menandai berakhirnya Orde Baru dan berawalnya era Reformasi. Reformasi 1998 membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. 

Dikutip dari detikcom, beberapa perubahan yang terjadi setelah Habibie menggantikan Soeharto. Situasi Indonesia tidak langsung membaik. Sebaliknya, masa pemerintahannya justru menjadi masa-masa yang penuh gejolak. 

Meskipun demikian, Habibie berhasil menjalankan roda pemerintahan dengan baik. Ia membuat kebijakan-kebijakan ekonomi yang mendongkrak perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah menguatnya nilai tukar rupiah dari Rp17.000 menjadi Rp6.000 per dolar.

Pada masa awal era reformasi ini juga masyarakat memperoleh keleluasaan dalam menyampaikan pendapat dan berekspresi, serta perhatian yang lebih besar terhadap perlindungan hak asasi manusia (HAM) dan penyelesaian kasus pelanggaran HAM.

Itulah berbagai peristiwa sejarah Indonesia yang terjadi mulai dari penjajahan hingga reformasi. Serangkaian peristiwa sejarah Indonesia di atas menunjukkan bahwa sejarah sebagai peristiwa bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga fondasi penting yang membentuk perjalanan bangsa hingga hari ini. Setiap peristiwa sejarah punya perannya masing-masing dalam membentuk Indonesia seperti sekarang.

Kumpulan contoh peristiwa sejarah ini bisa jadi referensi belajar sekaligus pengingat, bahwa kemerdekaan dan kondisi yang kita nikmati saat ini adalah hasil perjuangan panjang banyak pihak sepanjang sejarah bangsa.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda