Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

3 Cerita Dongeng Kelinci yang Baik Hati, Penuh Pesan Moral untuk Anak

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Sabtu, 12 Sep 2026 16:20 WIB

Dongeng fabel
Dongeng fabel tentang kelinci baik hati/ Foto: Getty Images/Popmarleo
Daftar Isi

Kelinci seringkali kita temukan pada beberapa fabel dan cerita dongeng anak. Dosen sastra anak di University of Cambridge, Dr. Zoe Jaques  mengatakan bahwa tokoh kelinci cukup populer di cerita anak-anak karena ada sesuatu yang memikat dari sosok kelinci.

Namun hal ini bukanlah fenomena yang hanya ada di dunia Barat saja, cerita rakyat Tiongkok, Jepang, dan Korea memuat kisah tentang Kelinci Bulan, begitu pula dengan tradisi Buddha.

Secara moral dan simbolik, kelinci dapat melambangkan kenakalan, kebaikan, keberuntungan, atau kecerdikan, Bunda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Hal yang membuatnya sangat menarik adalah adanya kontradiksi: dalam cerita seperti The Tale of Peter Rabbit, pembaca diajak untuk bersimpati kepada Peter seolah-olah ia adalah seorang anak manusia, padahal dalam cerita yang sama, ia juga merupakan hewan yang mungkin diburu atau disantap oleh manusia," ungkap Jaques, dikutip dari laman University of Cambridge.

Ia juga berpendapat bahwa kelinci merupakan karakter yang sangat efektif bagi anak-anak karena anak-anak dianggap memiliki kedekatan istimewa dengan hewan.

Jika Si Kecil menyukai karakter kelinci, ada tiga cerita dongeng pilihan tentang kelinci yang penuh pesan moral. Apa saja ceritanya?

3 Cerita dongeng kelinci yang baik hati, penuh pesan moral untuk anak

Simak yuk, cerita dongeng kelinci yang penuh pesan moral berikut ini! Cerita-cerita ini dipilih dari buku Dongeng Pembangun Literasi Tema Buah, Bunga, Binatang, dan Sayur Oleh 9 Mahasiswa Berkarya, kemudian dari cerita anak-anak klasik karya Beatrix Potter, dan laman Bedtime dari karya Francis Allgood.

Wajah Indah Kelinci Putih

Pada pagi hari itu, terdapat seekor kelinci putih sedang duduk di depan rumah. Ia senang sekali melihat pemandangan di luar yang indah dan sejuk. Sambil meminum secangkir teh hangat dengan biskuit. Sambil meminum secangkir teh hangat dengan biskuit yang ada
di tangan.

"Hmmm ... indah sekali pemandangan hari ini, cuacanya pun sejuk," Ujar kelinci putih.

Beberapa menit kemudian, seekor tikus mendatangi rumah kelinci putih. Ia telah mendengar bahwa terdapat seekor kelinci putih yang cantik jelita dambaan semua hewan. Berita ini sudah menyebar kemana-mana. Tikus pun merasa penasaran seperti apa wajah kelinci putih, ia pun memberanikan diri untuk bertemu dan menyapanya.

"Halo kelinci putih," Sapa tikus dengan ramah.

"Halo tikus, ada apa?" Tanya kelinci putih.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berkenalan denganmu. Aku mendengar kabar ada kelinci putih yang sangat cantik di kaki bukit ini. Aku merasa penasaran dan langsung datang ke sini untuk menemuimu. Dan ternyata benar apa kata mereka, wajahmu emang sangat cantik dan baik hati," puji tikus kepada kelinci.

"Baiklah. Aku berterima kasih karena kamu sudah memujiku, tetapi aku hanya kelinci biasa, sama seperti hewan-hewan yang lain, mereka juga cantik dan sangat baik hati terhadapku. Kamu pun tikus yang sangat cantik, lucu, dan menggemaskan," Kelinci juga memuji tikus.

"Terima kasih kelinci putih. Meskipun wajahmu sangat cantik dan anggun, namun kamu tetap rendah hati dan tidak menyombongkan diri dengan kelebihanmu. Aku harap kita dapat berteman baik selamanya," ujar tikus.

"Ya, karena apa yang kita punya hanya titipan dari Tuhan, jadi kita tidak boleh merasa sombong," ujar kelinci putih.

Mereka pun terus saling mengenal satu sama lain hingga akhirnya menjadi teman baik. Sikap kelinci putih memberi pelajaran bahwa kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak boleh merasa sombong dengan segala kelebihan yang kita punya, karena kelebihan itu bisa saja diambil kembali oleh Yang Maha Kuasa. Tetaplah kita sebagai makhluk-Nya menjadi sosok yang rendah hati dan selalu bersikap baik terhadap sesama.

Kisah Benjamin Si Kelinci

Pagi itu cerah dan indah, dan Benjamin Si Kelinci sedang duduk di tepian berumput. Telinganya tegak saat mendengar suara kuda yang menarik kereta mendekat. Kereta itu dikemudikan oleh seorang pria bertopi, dan di sampingnya duduk seorang wanita yang berpakaian rapi.

Begitu mereka berlalu, Benjamin pun beranjak pergi dengan gerakan melompat-lompat riang. Ia hendak mengunjungi kerabatnya yang tinggal di hutan tak jauh dari situ...

Hutan itu penuh dengan lubang kelinci, dan di lubang yang paling rapi serta berpasir tinggallah bibi Benjamin beserta sepupu-sepupunya, yakni Flopsy, Mopsy, Cotton-Tail, dan Peter Rabbit.

Benjamin merasa sangat bersemangat saat ia bergegas masuk, ia tak sabar ingin bertemu Peter... namun saat ia merangkak masuk ke dapur hangat yang langit-langitnya dipenuhi ikatan tanaman herbal, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya... di sana, tepat di tengah ruangan, berdirilah Peter, tanpa mengenakan sehelai pakaian pun!

"Peter!" seru Benjamin. "Apa yang terjadi dengan jaket dan sepatumu?"

Wajah Peter memerah padam. "Aku menyelinap ke kebun Tuan dan Nyonya McGregor untuk makan kubis, tapi aku ketahuan oleh Tuan McGregor, dan pakaianku terlepas saat aku berusaha kabur. Tuan McGregor memasangkannya pada orang-orangan sawah miliknya!"

"Jangan khawatir," kata Benjamin. "Aku baru saja melihat keluarga McGregor pergi keluar. Ayo kita cari orang-orangan sawah itu!"

Kedua kelinci itu berlari melintasi hutan dan melompat ke atas tembok bata yang tinggi. Di balik tembok itu terbentang kebun Tuan McGregor.

"Kita bisa menyelinap masuk lewat bawah gerbang," bisik Peter. "Tapi itu akan merusak pakaianku," protes Benjamin. "Lebih baik kita turun lewat pohon pir itu saja."

"Wooooahhh!" Namun, baru saja Benjamin selesai bicara, Peter kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Untunglah ada hamparan selada yang empuk untuk menahan jatuhnya. "Ayo, lompatlah!" seru Peter. "Jatuhnya akan terasa empuk!"

Kedua kelinci kecil itu menghampiri orang-orangan sawah dan mengambil kembali pakaian Peter. "Ih, semuanya basah kuyup karena hujan," kata Peter.

Benjamin meraba saku mantel itu. "Di mana sapu tanganmu?" tanyanya. "Mumpung kita di sini, aku ingin mengisinya dengan bawang untuk dibawa pulang sebagai hadiah bagi Bibi."

Saat Benjamin sedang mencabut bawang, Peter melihat sekeliling dengan gelisah. "Suara apa itu?!" bisiknya.

"Tenang saja!" kata Benjamin. "Aku hafal betul kebun ini! Aku sering ke sini bersama Papa untuk mengambil selada. Coba deh, rasanya enak!"

Tapi Peter tidak merasa lapar. "Aku ingin pulang," rengeknya.

"Yah, kalau kau memaksa," desah Benjamin. "Tapi kita tidak bisa memanjat kembali ke pohon pir sambil membawa semua bawang ini. Ikuti aku!"

Benjamin memandu Peter berjalan menyusuri papan kayu di bawah dinding bata merah yang bermandikan sinar matahari.

Tiba-tiba Peter berhenti. "Suara apa itu tadi!" bisiknya, matanya terbelalak lebar. "Suaranya datang dari balik tikungan itu."

Benjamin menjulurkan hidungnya untuk mengintip. "Cepat sembunyi!" bisiknya sambil menyambar sebuah keranjang dan menariknya menutupi kepala mereka...

Apa yang dilihat Peter adalah seekor kucing besar berbulu lebat. Kucing itu berjalan mengendap-endap mendekati keranjang, meregangkan tubuh di atasnya, lalu tertidur pulas.

Peter dan Benjamin mengerjap-ngerjap di dalam kegelapan, bau bawang membuat mata mereka berair. Mereka terus menunggu kucing itu bangun dan pergi, tapi sepertinya kucing itu sama sekali tidak berniat bangun...

Tiba-tiba, mereka mendengar suara keributan yang hebat. Kelinci-kelinci itu menahan napas. Apa yang sedang terjadi?

Lalu mereka mengerjap-ngerjap terkena cahaya saat keranjang itu ditarik menjauh dari atas kepala mereka...

"Halo, kalian berdua!" sapa sebuah suara yang ramah.

"Papa!" seru Benjamin.

"Kucing itu tidak akan mengganggu kalian lagi," ujar Papa sambil tersenyum. "Aku sudah mengurungnya di dalam rumah kaca. Ayo, kita pulang."

Ketika Tuan McGregor kembali tak lama kemudian, ia kebingungan melihat kebunnya dipenuhi jejak kaki kelinci kecil.

"Dan ini satu misteri lagi," katanya kepada istrinya. "Bagaimana caranya kucing itu mengurung diri di dalam rumah kaca, lalu mengunci pintunya dari luar?"

Saat Peter dan Benjamin tiba kembali di rumah, semua orang senang melihat mereka selamat tanpa kurang suatu apa pun. "Bukankah bawang-bawang ini tampak bagus?" kata bibi Benjamin seraya menggantungnya di langit-langit bersama tanaman herbal. "Tapi melihatmu sudah berpakaian kembali, Peter, rasanya jauh lebih melegakan!"

Pesan moral dari cerita ini adalah berani itu baik, tetapi keberanian harus disertai kehati-hatian dan tanggung jawab. Selain itu, kita harus menyayangi teman dan keluarga serta saling membantu ketika menghadapi kesulitan.

Puffer Bunny dan Pelarian ke Padang Rumput

Dahulu kala, ada seekor kelinci kecil bernama Puffer Bunny. Bulunya sangat lebat dan lembut hingga semua orang ingin memeluknya. Dia tinggal bersama beberapa anak di sebuah rumah kecil yang nyaman. Anak-anak itu bernama BoBo, Bobby, dan Kit. Bobby sangat menyayangi Puffer kecil karena dia telah merawatnya sejak masih bayi.

Suatu hari, saat mereka sedang bermain di halaman belakang, Puffer Bunny tiba-tiba melompat dan berlarian dengan riang. Dia menyelinap di bawah pagar dan pergi melintasi padang rumput di belakang rumah. Begitu anak-anak itu berhasil melewati pagar, Puffer sudah jauh menghilang.

Sementara itu, Puffer telah berlari masuk ke dalam sebuah lubang dan merangkak menyusuri terowongan yang panjang. Dia merasakan sesuatu yang basah dan dingin. Dia menahan napas karena takut, namun saat matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, dia menyadari bahwa hidungnya sedang berhadapan dengan hidung kelinci kecil lainnya! Dia menghela napas lega!

Kelinci kecil yang baru ditemuinya itu berbisik, "Namaku Doodlebug."

Doodlebug memegang kaki depan Puffer dan menuntunnya melewati lebih banyak lorong hingga sampai ke sebuah liang kecil yang nyaman. Saudara-saudara Doodlebug sedang berpelukan bersama, merasa hangat dan aman. Ada Dipsy, Dapper, dan Dolly, serta si kembar bayi, Digger dan Dodger. Puffer sangat senang melihat satu keluarga kelinci yang utuh!

Namun, di luar liang kecil itu, anak-anak tersebut sangat mencemaskan kelinci kecil mereka. Mereka melihat seekor rubah kecil berlari menuju hutan lebat. Mereka yakin bahwa rubah itulah yang telah membawa pergi Puffer kecil mereka. Bobby menangis pelan sementara BoBo dan Kit berusaha memikirkan apa yang harus dilakukan.

BoBo berkata, "Teman-teman, saatnya kita pulang."

Semua anak itu memanjat kembali pagar dan berjalan lesu menuju rumah. Malam itu terasa panjang karena rasa cemas.

Kembali di liang kelinci, Puffer sangat menikmati waktunya. Dia dan Doodlebug menyelinap keluar untuk sedikit bersenang-senang. Puffer memang selalu suka menjelajah, dan Doodlebug tidak pernah menolak ajakan berpetualang.

Kedua kelinci yang lincah itu bermain-main menuju hutan. Tepat saat mereka mendekati batang kayu lapuk, seekor ular derik muncul dengan gerakan meliuk. Kedua kelinci itu mematung. Ular itu telah memojokkan mereka. Jantung mereka berdegup begitu kencang hingga bumi terasa bergetar.

Ular itu berkata, "Hmm, makan malam!" lalu tubuhnya melesat menerjang ke arah Doodlebug.

Dengan sigap, Puffer Bunny melompati ular itu, menyambar alat kerincingan, dan mengguncangnya sekuat tenaga! Bunyinya sungguh nyaring! Ular itu melonjak kaget, memberi kesempatan bagi kedua sahabat itu untuk segera melarikan diri dari sana.

Ibu Doodlebug membunyikan lonceng tanda makan malam tepat saat mereka kembali ke lubang kelinci. Ia melihat raut wajah mereka dan memeluk keduanya dengan hangat.

Ia telah menyiapkan makan malam berupa kubis dan wortel, dan mereka pun makan dengan lahap sampai kenyang. Setelah kelinci-kelinci kecil yang berbulu lembut itu selesai makan, mereka mengajak Puffer untuk menginap. Ia pun sangat senang!

Keesokan paginya, Puffer melompat-lompat riang kembali ke rumah mungilnya. Anak-anak sangat gembira karena ia selamat!

Pesan moral dari cerita ini adalah bahwa rasa ingin tahu dan berani merupakan hal yang baik, tetapi jangan sampai membahayakan diri sendiri. Cerita dongeng ini juga mengajarkan pentingnya menyayangi keluarga, menghargai orang yang peduli kepada kita, serta selalu kembali kepada orang-orang yang menyayangi dan menjaga kita.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda