parenting
Anak Sering Ngorok saat Tidur? Studi Ungkap Dampaknya pada Kemampuan Kognitif
HaiBunda
Sabtu, 19 Sep 2026 16:20 WIB
Daftar Isi
Sering ngorok saat tidur merupakan pertanda yang kurang baik, Bunda. Ngorok ditimbulkan karena adanya gangguan atau hambatan pada saluran pernapasan bagian atas. Selain mengganggu pernapasannya, sebuah studi mengungkap anak sering ngorok saat tidur bisa berdampak pada kemampuan kognitif mereka.
Ya, menurut sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis baru, anak-anak dengan gangguan pernapasan saat tidur dapat mengalami gangguan kognitif dan neuropsikologis yang signifikan. Studi ini mengukur defisit atau kekurangan anak dalam aspek-aspek seperti perhatian, daya ingat, dan fungsi eksekutif dibandingkan dengan teman sebaya yang sehat.
Dilansir European Medical Journal News, penelitian ini menganalisis 15 studi kasus-kontrol yang melibatkan total 1.137 anak, di mana 659 anak di antaranya telah terdiagnosis mengalami gangguan pernapasan saat tidur. Kemampuan kognitif anak-anak tersebut kemudian dinilai menggunakan sebuah tes standar untuk fungsi kognitif bernama Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak kognitif dari gangguan pernapasan saat tidur pada anak
Meta-analisis tersebut mengungkapkan bahwa anak-anak dengan gangguan pernapasan seperti ngorok saat tidur menunjukkan kinerja yang jauh lebih buruk dibandingkan kelompok kontrol yang sehat di hampir semua aspek kognitif yang diukur. Hanya kosakata yang tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik.
Temuan ini mengindikasikan bahwa ngorok saat tidur dapat memengaruhi perkembangan otak secara langsung, khususnya korteks prefrontal, yang mengatur fungsi eksekutif dan proses belajar.
Para peneliti menduga bahwa kinerja kognitif yang lebih rendah pada anak-anak dengan gangguan pernapasan saat tidur, mungkin disebabkan oleh hipoksia (kurang oksigen) intermiten selama tidur akibat ngorok, serta fragmentasi tidur yang disebabkan oleh seringnya terbangun.
Kedua faktor tersebut dapat mengganggu perhatian, daya ingat, dan kinerja akademis secara keseluruhan. Hipoksemia nokturnal dan kurangnya tidur disorot sebagai faktor pemicu potensial terjadinya gangguan kognitif pada siang hari.
Risiko terhadap Perkembangan Anak
Gangguan kognitif terkait tidur yang tidak ditangani pada masa kanak-kanak dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan intelektual. Identifikasi dan penanganan dini terhadap gangguan pernapasan saat tidur, termasuk intervensi untuk kebiasaan bernapas melalui mulut dan obstructive sleep apnea (henti napas obstruktif saat tidur), dapat membantu meminimalkan risiko tersebut dan mendukung hasil perkembangan kognitif yang lebih sehat.
Meskipun studi ini memberikan bukti kuat mengenai hubungan antara gangguan pernapasan saat tidur dan defisit kognitif, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas jalur patofisiologis yang tepat. Memahami apakah hipoksia atau fragmentasi tidur yang lebih berperan besar akan sangat penting dalam merancang intervensi yang efektif.
Temuan ini menyoroti pentingnya skrining gangguan pernapasan seperti ngorok saat tidur pada anak-anak, terutama pada kasus yang melibatkan kesulitan akademis, tantangan dalam belajar, atau masalah perilaku.
Kemudian, sebuah studi dari Al-Naimi A R, Toma H M, Ibrahim K, dkk., yang dipublikasi pada bulan Mei 2026 lalu di Cureus, juga mengungkap bahwa anak-anak dengan penyakit neuromuskular, kondisi yang dapat menyebabkan kelemahan otot, termasuk otot-otot yang digunakan untuk bernapas, juga lebih berisiko mengalami gangguan pernapasan saat tidur.
Salah satu temuan penting adalah bahwa banyak anak tidak menunjukkan tanda-tanda masalah pernapasan yang jelas. Hanya sebagian kecil anak yang dilaporkan mendengkur atau diketahui orang lain berhenti bernapas saat tidur.
Hal ini berarti seorang anak bisa saja mengalami masalah pernapasan terkait tidur meskipun orang tua tidak menyadari adanya hal yang tidak biasa pada malam hari.
Upaya yang dapat Bunda lakukan jika anak ngorok
Dikutip dari laman Rush University Medical Center, jika anak sesekali ngorok, Bunda dapat membantu meringankan kondisinya dengan cara-cara berikut di rumah:
- Posisikan anak tidur menyamping. Saat tidur telentang, anak tekak (uvula) dapat bergeser ke bagian belakang tenggorokan dan sebagian menghalangi saluran pernapasan.
- Letakkan alat pelembap udara (humidifier) di kamar tidur anak. Meningkatkan kelembapan udara dapat membantu meredakan hidung tersumbat di malam hari, yang pada gilirannya dapat membantu mengatasi dengkuran.
- Singkirkan potensi pemicu alergi dari kamar tidur anak. Ini termasuk boneka serta selimut dan bantal berbahan bulu.
- Gunakan alat pembersih udara (air purifier) jika anak memiliki alergi. Alat pembersih udara dapat membantu menghilangkan alergen, seperti debu dan serbuk sari, dari udara.
- Gunakan cairan saline (larutan garam) untuk membersihkan saluran hidung anak. Alat pembilas hidung dapat membantu mengatasi hidung tersumbat, asalkan anak merasa nyaman menggunakannya. Pastikan Bunda mengikuti petunjuk penggunaan dari produsen secara tepat (misalnya, jangan pernah menggunakan air keran karena air tersebut tidak disaring atau diolah).
- Bantu anak menjaga berat badan yang sehat. Obesitas dapat menjadi faktor penyebab mendengkur. Menyediakan makanan sehat dan mendorong anak untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit setiap hari dapat membantu anak mengelola berat badannya.
Jadi, jika anak sering ngorok saat tidur jangan disepelekan ya, Bunda. Lebih baik segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak terlebih dahulu.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)ARTIKEL TERKAIT
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Bayi Ngorok saat Tidur, Normalkah? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
5 Penyebab Anak Tidur Ngorok Seperti Dialami Putra Sulung Sabai Morscheck
Curhat Ringgo Agus Tentang Anaknya Bjorka yang Alami Adenoid dan Harus Dioperasi