Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Ciri Kepribadian Anak dari Jumlah Teman yang Dimiliki Menurut Ilmu Psikologi

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Selasa, 01 Sep 2026 11:05 WIB

Ciri kepribadian anak
Ciri kepribadian anak/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Rat0007
Daftar Isi

Memiliki banyak teman atau hanya beberapa sahabat dekat merupakan hal yang berbeda pada setiap anak. Ada Si Kecil yang mudah bergaul dan senang berada di tengah banyak orang, sementara lainnya lebih nyaman bermain dengan satu atau dua teman dekat.

Jumlah teman yang dimiliki anak ternyata dapat memberikan gambaran mengenai ciri kepribadian anak, seperti sifat ekstrovert, introvert, hingga kebutuhannya terhadap hubungan yang lebih dekat. Namun, banyak atau sedikitnya teman bukan berarti menunjukkan bahwa seorang anak lebih baik daripada yang lain.

Lingkaran pertemanan juga dapat berkaitan dengan cara anak beradaptasi, menghadapi situasi sosial, dan mendapatkan dukungan emosional. Mengutip dari laman Times of India, berikut penjelasan mengenai karakter anak dengan lingkaran pertemanan yang besar maupun kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ciri kepribadian anak dari jumlah teman yang dimiliki

Lingkaran pertemanan anak, baik besar maupun kecil, dapat memberikan gambaran mengenai kepribadian, pilihan, dan kebutuhannya. Berikut beberapa hal yang dapat diketahui dari jumlah serta kualitas pertemanan anak.

1. Punya banyak teman: cenderung ekstrovert dan percaya diri

Anak yang memiliki lingkaran pertemanan lebih luas biasanya lebih nyaman berada dalam kelompok. Mereka dapat menunjukkan rasa percaya diri, kemampuan beradaptasi, dan komunikasi yang baik.

Tinjauan terhadap berbagai penelitian selama beberapa dekade menunjukkan bahwa sifat ekstrovert berkaitan dengan kemampuan memimpin dalam lingkungan sosial dan penerimaan dari teman sebaya di sekolah.

Menurut studi tahun 2006 yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology, anak ekstrovert lebih mungkin memiliki jaringan pertemanan yang luas. Lingkaran tersebut juga memberi mereka lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosial.

Sementara itu, studi tahun 2012 dalam Journal of Personality menemukan bahwa anak ekstrovert cenderung mencari jaringan teman sebaya yang lebih luas. Kondisi ini memberi lebih banyak kesempatan untuk belajar bersosialisasi, meski terkadang juga meningkatkan risiko mendapat pengaruh dari teman sebaya.

Namun, memiliki banyak teman tidak selalu berarti semua hubungan yang dimiliki berkualitas baik. Studi tahun 2011 dalam Journal of Youth and Adolescence menemukan bahwa anak populer dengan kelompok teman yang sangat besar lebih sering terpapar pengaruh negatif dari teman, termasuk perilaku yang berisiko.

Studi tahun 2013 dalam Developmental Psychology juga menemukan bahwa anak dengan jaringan pertemanan yang besar, tetapi kurang dekat cenderung mengalami tingkat stres lebih tinggi dan mendapat dukungan emosional yang lebih sedikit.

Hal serupa terlihat dalam studi tahun 2015 di Developmental Psychology, yang mengamati bahwa jaringan pertemanan yang sangat besar dapat membuat hubungan terasa lebih dangkal sehingga dukungan emosional yang diterima tidak sebanyak dalam persahabatan yang lebih dekat.

2. Punya sedikit teman: lebih mengutamakan kedekatan

Memiliki satu atau dua teman dekat sering kali dikaitkan dengan sifat introvert, penuh pertimbangan, atau kecenderungan membangun hubungan emosional yang lebih dalam.

Mengutip studi tahun 2012 dalam Journal of Applied Developmental Psychology melaporkan bahwa anak yang memiliki satu atau dua persahabatan kuat menunjukkan penyesuaian emosional yang lebih baik dibandingkan anak yang memiliki banyak kenalan.

Kemudian, studi tahun 2014 The Child Development Journal menunjukkan bahwa anak dengan jumlah teman lebih sedikit tetapi memiliki kualitas persahabatan yang baik, melaporkan kepuasan hidup lebih tinggi dan rasa kesepian yang lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki banyak hubungan pertemanan yang dangkal.

Studi tahun 2015, jurnal Merrill-Palmer Quarterly juga menemukan bahwa anak introvert yang berinvestasi dalam beberapa persahabatan dekat, mendapatkan dukungan teman sebaya yang lebih kuat. Dukungan tersebut dapat membantu mereka menghadapi tekanan di sekolah.

Meski begitu, memiliki terlalu sedikit teman juga dapat berkaitan dengan penarikan diri dari lingkungan sosial. Sebagian anak memang merasa nyaman dengan lingkaran pertemanan kecil, tetapi dapat menjadi tanda adanya kecemasan atau kesulitan bersosialisasi.

Melansir dari studi tahun 2005 dalam Journal of Abnormal Child Psychology menemukan bahwa penolakan teman sebaya yang berlangsung terus-menerus atau tidak memiliki persahabatan dekat dapat memprediksi tingkat depresi dan kesepian yang lebih tinggi ketika memasuki masa remaja.

Hal tersebut didukung studi berikutnya pada 2016 dalam jurnal yang sama. Penelitian tersebut melaporkan bahwa penarikan diri dari lingkungan sosial yang terus berlangsung pada anak dapat memprediksi risiko kecemasan dan depresi yang lebih tinggi pada masa remaja jika tidak mendapat dukungan dari keluarga atau mentor.

Selain itu dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry tahun 2019 juga mencatat bahwa anak yang terus-menerus memiliki jaringan pertemanan yang sangat kecil atau tidak memiliki teman sebaya lebih rentan mengalami perundungan. Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko terhadap kesehatan mental.

3. Kualitas pertemanan lebih penting daripada jumlahnya

Kualitas hubungan pertemanan yang ditandai dengan kepercayaan, empati, dan dukungan menjadi kesejahteraan jangka panjang yang lebih kuat dibandingkan jumlah teman.

Penelitian dalam Journal of Early Adolescence tahun 2018 menunjukkan bahwa siswa yang memiliki persahabatan dengan kualitas tinggi, lebih jarang menjadi korban perlakuan buruk atau perundungan dari teman sebaya dan memiliki keterlibatan akademik yang lebih tinggi, terlepas dari jumlah teman yang mereka miliki.

Karena itu, jumlah teman dan kualitas hubungan perlu berjalan seimbang. Memiliki banyak teman dapat memberikan lebih banyak kesempatan bersosialisasi, tetapi juga berisiko membuat hubungan menjadi dangkal atau meningkatkan paparan terhadap tekanan teman sebaya.

Sementara itu, memiliki sedikit teman dapat memberikan hubungan yang lebih dekat, tetapi juga berisiko menimbulkan kesepian jika tidak ada ikatan pertemanan yang kuat.

Karena itu, orang tua tidak perlu memaksa anak untuk memiliki lebih banyak atau lebih sedikit teman. Bunda dapat membantu Si Kecil membangun hubungan pertemanan yang berkualitas dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan. 

Demikian ciri kepribadian anak yang memiliki banyak teman dan bagaimana kualitas persahabatan tersebut memengaruhi hidup Si Kecil.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda