parenting
Umur Berapa Bayi Boleh Makan Garam? Begini Panduannya
HaiBunda
Jumat, 28 Aug 2026 09:20 WIB
Daftar Isi
Saat mulai MPASI, sering kali orang tua bingung ingin menambahkan garam demi menambah rasa makanan. Namun, sebenarnya umur berapa bayi boleh makan garam?
Meskipun garam merupakan senyawa yang dibutuhkan, bayi sebaiknya tidak mengonsumsinya terlalu banyak karena ginjal mereka yang masih berkembang belum mampu memproses garam dalam jumlah besar.
Memberikan terlalu banyak garam kepada bayi dari waktu ke waktu justru dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti tekanan darah tinggi.Â
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlalu banyak konsumsi garam selama masa bayi dan kanak-kanak juga dapat mendorong terbentuknya preferensi terhadap makanan asin yang bertahan seumur hidup.
Alasan untuk membatasi jumlah garam yang dikonsumsi bayi
Bayi yang mengonsumsi terlalu banyak garam dari pola makannya dapat mengalami beberapa masalah, terutama pada ginjal.
Ginjal bayi masih belum berkembang sepenuhnya dan belum mampu menyaring kelebihan garam seefisien ginjal orang dewasa.
Akibatnya, pola makan yang terlalu tinggi garam dapat merusak ginjal bayi. Pola makan tinggi garam juga dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang dan preferensi rasa bayi. Demikian dikutip dari studi dalam jurnal Annals of Nutrition and Metabolism.
Bayi terlahir dengan preferensi alami terhadap makanan yang memiliki rasa manis, asin, dan umami.
Pemberian makanan asin secara berulang dan terlalu banyak dapat memperkuat preferensi rasa alami ini, yang kemungkinan menyebabkan anak lebih menyukai makanan asin dibandingkan makanan yang secara alami mengandung lebih sedikit garam.
Makanan olahan yang cenderung tinggi garam tetapi biasanya tidak kaya nutrisi, dapat lebih disukai daripada makanan utuh dengan kandungan garam alami yang lebih rendah, seperti sayuran.
Bahkan selain itu, pola makan tinggi garam juga berisiko dapat menyebabkan tekanan darah bayi meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa efek garam dalam meningkatkan tekanan darah mungkin lebih kuat pada bayi dibandingkan orang dewasa.
Bagaimana anjuran soal garam dari IDAI?
Dikutip dari laman resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut bahwa di bawah usia 1 tahun, anak boleh saja diberikan gula dan garam dalam MPASI-nya tapi hanya sesedikit mungkin.Â
MPASI untuk anak usia di atas 1 tahun dapat diambil dari makanan keluarga. Namun, dalam penyiapannya, makanan tersebut perlu dipisahkan terlebih dahulu sebelum penambahan bumbu seperti gula, garam, atau penyedap rasa.
Berapa banyak asupan garam yang dianggap aman?
Dikutip dari Healthline, natrium merupakan salah satu komponen zat gizi penting. Namun bayi berusia di bawah 6 bulan memenuhi kebutuhan natrium hariannya hanya dari ASI dan susu formula.
Bayi berusia 7–12 bulan dapat memenuhi kebutuhannya dari ASI atau susu formula, serta sejumlah kecil natrium yang secara alami terdapat dalam makanan pendamping yang tidak melalui proses pengolahan.
Karena itu, para ahli merekomendasikan agar tidak dilakukan penambahan garam maupun gula secara berlebihan ke makanan bayi selama 12 bulan pertama.
Tanda-tanda bayi mengonsumsi terlalu banyak garam
Jika bayi mengonsumsi makanan yang terlalu asin, ia mungkin terlihat lebih haus dari biasanya.
Biasanya, Bunda mungkin tidak akan langsung melihat dampak pola makan tinggi garam, karena efeknya dapat muncul seiring waktu.
Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, bayi yang mengonsumsi terlalu banyak garam dapat mengalami hipernatremia, suatu kondisi ketika kadar natrium yang beredar dalam darah terlalu tinggi.
Jika tidak ditangani, hipernatremia dapat menyebabkan bayi yang awalnya tampak rewek dan gelisah menjadi mengantuk, lesu, dan akhirnya tidak responsif setelah beberapa waktu.
Makanan yang mengandung garam tinggi 'tersembunyi'Â
Dikutip dari Baby Centre, ada beberapa jenis makanan yang sebenarnya mengandung garam tersembunyi dan sebaiknya tidak diberikan kepada bayi terlalu sering.
Termasuk di antaranya makanan siap saji, makanan kemasan, makanan kalengan, serta makanan untuk orang dewasa seperti kerupuk.
Sebaliknya, pilih makanan yang rendah garam untuk asupan sehari-hari bayi. Misalnya seperti buah, sayuran, menu daging tanpa tambahan bumbu, menu daging unggas dan ikan segar, telur dan kacang-kacangan.
Perlu diperhatikan bahwa keju sebenarnya juga mengandung garam, tetapi merupakan sumber kalsium dan protein yang baik dalam pola makan bayi.
Supaya lebih aman, sebaiknya jangan terlalu sering menggunakannya dalam makanan bayi dan jika ingin digunakan, cukup dalam jumlah sedikit saja.
Itulah penjelasan tentang umur berapa bayi boleh makan garam. Intinya, bayi hanya membutuhkan sedikit garam dalam pola makan sehari-hari karena tubuh mereka belum mampu mengolah garam dalam jumlah besar.
Bayi yang terlalu banyak mengonsumsi garam lebih berisiko mengalami kerusakan ginjal, tekanan darah tinggi, dan bahkan kemungkinan peningkatan risiko penyakit jantung di kemudian hari.
Usahakan untuk tidak menambahkan garam ke makanan bayi ketika usianya di bawah 12 bulan. Setelah usia 1 tahun, Bunda dapat memasukkan sedikit garam ke dalam menu makanannya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
7 Menu Makanan Usia 6-12 Bulan dari Buku Resep MPASI Kemenkes, Ada Takaran Kalorinya
Parenting
Resep Gadon Sapi untuk MPASI Anak Usia 1 Tahun, dan Menu Tinggi Kalori Lainnya
Parenting
7 Kondisi Ini Tunjukkan Bayi belum Siap Melahap Makanan Padat
Parenting
Pemberian Keju untuk MPASI: Porsi, Cara Memilih dan Waktu Tepat Memulai
Parenting
5 Kriteria Makanan untuk Perkembangan Bayi 6-12 Bulan
7 Foto
Parenting
Potret 7 Anak Artis saat Menikmati MPASI, Ekpresinya Cute dan Gemas
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Jangan Bilang, "Kalau Enggak Makan, Enggak Dikasih Jajan", Ini Alasannya
Sayuran yang Boleh Dimakan saat Gatal-gatal, Ketahui Pilihan yang Aman untuk Anak
Kenapa Alergi Anak Bisa Berubah Seiring Bertambah Usia? Ini Penjelasannya