Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Cara Mengenali Anak Alami Tekanan Sosial dari Teman di Sekolah

Kinan   |   HaiBunda

Selasa, 25 Aug 2026 13:35 WIB

Tanda Penyakit Mental pada Anak yang Tak Boleh Diabaikan
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Jatuporn Tansirimas
Daftar Isi
Jakarta -

Saat anak mengalami tekanan sosial di sekolah, mereka tak selalu akan bercerita di rumah. Lalu bagaimana cara mengenali tanda-tanda anak alami tekanan sosial?

Dikutip dari Parents, tekanan teman sebaya (peer pressure) adalah pengaruh yang diberikan oleh orang-orang yang berada dalam kelompok sosial yang sama.

Jika di sekolah, maka tekanan ini kemungkinan besar dilakukan oleh teman seangkatan. Bisa juga dilakukan oleh kakak kelas atau bahkan adik kelas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan pengaruh tersebut terhadap seseorang agar menyesuaikan diri atau mengikuti kelompok demi mendapatkan penerimaan.

Banyak orang menganggap tekanan teman sebaya sebagai sesuatu yang negatif. Namun, kenyataannya, tekanan dari teman sebaya tidak selalu berdampak buruk.

Dalam situasi tertentu, tekanan teman sebaya justru dapat memberikan pengaruh positif. Misalnya, ketika anak bersama-sama berusaha mendapatkan nilai yang baik di sekolah atau ikut membantu kegiatan di lingkungan sekitar.

Seperti apa tekanan sosial dari teman sebaya?

Saat masih kecil, anak biasanya akan mendapatkan pelajaran tentang nilai positif dan cara mengambil keputusan yang sehat dari orang tua.

Namun seiring bertambahnya usia, pengaruh orang tua perlahan berkurang, sementara itu pendapat teman sebaya menjadi semakin penting bagi anak.

Nah, tekanan sosial dapat memengaruhi berbagai hal dalam kehidupan anak dan remaja, mulai dari prestasi akademik hingga kesehatan mental.

"Anak usia remaja menghadapi begitu banyak hal dalam kehidupannya. Mulai dari tuntutan sekolah, aturan dari orang tua, keinginan untuk diterima dalam lingkungan sosial, dan pengaruh teman sebaya. Mereka pun rentan merasa kewalahan," ujar konselor Stacie Goran, LPC, LCDC, seperti dikutip dari Children's Health.

Oleh sebab itu, penting bagi remaja untuk membangun identitas dirinya sendiri dan belajar mempertahankan nilai-nilai yang diyakininya. Tujuannya agar mereka tidak mudah terpengaruh tekanan sosial.

Tanda-tanda anak mengalami tekanan sosial

Tekanan sosial dari teman sebaya dapat muncul secara halus, maupun terang-terangan. Artinya, beberapa bentuk tekanan mungkin lebih sulit dikenali dibandingkan yang lainnya.

Mengenali tanda-tanda bahwa anak sedang menghadapi tekanan sosial dari teman sebaya dapat membantu orang tua memberikan dukungan yang dibutuhkan.

Beberapa tanda yang mungkin menunjukkan anak saat sedang mengalami tekanan sosial antara lain:

1. Menghindari sekolah atau situasi sosial lainnya

Perhatikan apakah anak mulai enggan pergi ke sekolah, mengikuti kegiatan, bermain bersama teman, atau menghadiri acara sosial karena merasa tidak nyaman, takut ditolak, atau khawatir harus mengikuti keinginan teman.

2. Terlalu memperhatikan penilaian orang lain

Salah satu cara mengenali anak alami tekanan sosial dari teman di sekolah berikutnya yakni saat mereka tampak menjadi terlalu khawatir dengan pakaian, bentuk tubuh, rambut, atau penampilannya. 

3. Mengalami perubahan perilaku

Beri perhatian jika anak yang biasanya selalu ceria atau terbuka untuk bercerita, lalu tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, atau lebih tertutup.

Bisa jadi ini karena anak sedang ingin  menyesuaikan diri agar diterima oleh kelompok teman sebaya di sekolah.

4. Mengungkapkan perasaan bahwa dirinya tidak 'diterima'

Jika anak cukup terbuka, mereka mungkin akan bercerita dan mengatakan dirinya tidak punya teman, merasa berbeda, tidak diajak bermain, atau merasa tidak diterima oleh lingkungan pertemanannya.

5. Selalu cemas dan tampak stres

Tekanan dari teman dapat membuat anak lebih sering terlihat sedih, murung, cemas, mudah menangis, kehilangan semangat, atau tidak lagi menikmati aktivitas yang biasanya disukai.

6. Sering membandingkan dirinya dengan orang lain

Ciri-ciri lainnya yakni anak mulai sering membandingkan penampilan, kemampuan, barang yang dimiliki, nilai sekolah, atau kehidupan sosialnya dengan teman-temannya dan merasa dirinya lebih rendah.

7. Sulit tidur nyenyak

Apakah di rumah anak jadi sulit tidur, sering terbangun, atau tampak kelelahan pada siang hari? Bisa jadi ini terjadi karena mereka terlalu memikirkan masalah atau tekanan yang dialaminya bersama teman.

Jenis-jenis tekanan sosial teman sebaya

Cara Mengajarkan Anak Berteman di Sekolah, Salah Satunya Latih soal EmosiIlustrasi/Foto: Getty Images/Rat0007

Sebagian besar anak memiliki keinginan yang kuat untuk diterima dalam kelompok. Mereka juga cenderung sangat sensitif ketika diejek, ditertawakan, atau dikucilkan.

Akibatnya, anak sering kali bersedia melakukan hal-hal yang diminta atau dilakukan oleh teman-temannya.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa teman sebaya dan tekanan teman sebaya yang positif juga dapat berperan besar dalam mendorong perilaku yang bermanfaat bagi orang lain. Berikut contoh jenis tekanan sosial teman sebaya:

1. Tekanan teman sebaya positif

Tekanan sosial positif terjadi ketika perilaku dalam kelompok tersebut saling mendorong untuk melakukan kegiatan yang baik, atau saling membantu berkembang ke arah yang bermanfaat.

Misalnya seperti:

  • Mendorong teman untuk belajar lebih giat agar mendapatkan nilai yang lebih baik
  • Menabung untuk membeli sesuatu yang diinginkan, seperti laptop untuk belajar, kemudian mengajak teman melakukan hal serupa
  • Menolak lelucon yang mengandung prasangka atau kebiasaan bergosip
  • Mencegah teman melakukan tindakan ilegal atau berisiko, seperti merokok

2. Tekanan teman sebaya negatif

Sebaliknya, tekanan teman sosial negatif saling mengajak untuk melakukan sesuatu yang berbahaya atau dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Berikut beberapa contoh tekanan teman sebaya yang negatif:

  • Membujuk teman untuk bolos sekolah
  • Mendorong teman untuk berkelahi atau melakukan perundungan terhadap orang lain
  • Menekan teman untuk minum minuman beralkohol atau mencoba obat-obatan terlarang
  • Mendorong seseorang untuk mencoba merokok

Dampak tekanan sosial dari teman

Seiring bertambahnya usia anak, teman sebaya akan memainkan peran yang semakin besar dalam kehidupannya. 

Lingkungan sosial dan teman dapat memengaruhi banyak hal, termasuk seperti:

  • Jenis musik yang didengarkan anak
  • Hobi yang disukai
  • Pakaian yang ingin digunakan 
  • Cara anak menghabiskan waktu
  • Cara anak berbicara dan bersikap

Jenis kelamin juga turut berpengaruh dalam tekanan sosial, seperti memengaruhi seberapa mudah seseorang menerima tekanan dari lingkungan.

Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa remaja laki-laki lebih mudah terpengaruh oleh tekanan untuk melakukan perilaku berisiko dibandingkan remaja perempuan.

Di sisi lain, remaja perempuan lebih sering mengalami tekanan terkait dengan penampilan dibandingkan remaja laki-laki.

Tips mendampingi anak saat mengalami tekanan sosial

Penting bagi orang tua untuk mempersiapkan anak dalam menghadapi tekanan dari teman sebaya. Dengan mengenali tanda-tandanya, Bunda untuk mendampingi terutama saat anak mulai berada dalam situasi yang tidak sehat.

Berikut beberapa tips dalam mendampingi anak menghadapi tekanan teman sebaya yang negatif:

1. Mendiskusikan rencana bersama

Ajak anak memikirkan situasi apa saja yang mungkin membuat teman-temannya mengajak melakukan sesuatu, yang sebenarnya tidak ia inginkan. 

Setelah itu, diskusikan bersama cara terbaik untuk menghadapi tekanan tersebut.

Sebagai contoh, anak bisa meninggalkan suatu situasi jika mulai merasa tidak nyaman. Bunda juga bisa mengajak anak mengenali siapa saja orang dewasa di sekolah yang bisa dihubungi jika ia membutuhkan bantuan.

2. Sepakati cara menyiapkan alasan untuk menolak atau pergi

Ajak anak untuk berdiskusi dan menyepakati bersama alasan yang bisa digunakan ketika ia tidak ingin mengikuti ajakan teman.

Misalnya, buat kesepakatan bahwa jika anak mengirim pesan kepada Bunda dengan kata atau kalimat tertentu yang sudah disepakati sebelumnya, Bunda akan menelepon dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi sehingga anak harus segera pulang.

3. Ajarkan anak berteman dengan orang yang tepat

Anak yang berteman dengan orang-orang yang memiliki nilai dan prinsip yang sejalan dengannya cenderung lebih kecil kemungkinannya mendapat tekanan untuk melakukan hal-hal yang tidak mereka inginkan.

4. Bantu anak mengenali orang dewasa yang dapat dipercaya

Bantu anak mengenali orang dewasa dalam kehidupannya yang dapat dipercaya dan mudah dihubungi ketika ia membutuhkan bantuan.

Sosok tersebut bisa berupa guru terpercaya di sekolah, orang tua, atau anggota keluarga lainnya. 

Pada akhirnya, salah satu hal terpenting yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu anak menghadapi tekanan teman sebaya yang negatif adalah membicarakannya secara terbuka dengan anak.

Ajarkan anak untuk berani mengatakan 'tidak', lalu bantu mereka mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara mandiri dan dorong peningkatan rasa percaya dirinya.

Itulah penjelasan tentang cara mengenali anak alami tekanan sosial dari teman di sekolah. Jika Bunda menduga anak mengalami dampak negatif dari tekanan teman sebaya, berikan pendampingan dan pastikan anak memiliki orang yang mereka percaya. Apabila diperlukan, libatkan juga pihak terkait seperti guru atau tenaga profesional lainnya.

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda