Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

7 Sikap Orang Tua yang Terlihat Baik tapi Ternyata Bikin Anak Cemas Menurut Psikolog

Kinan   |   HaiBunda

Selasa, 25 Aug 2026 09:25 WIB

anak cemas
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Panadda Phiakhamen
Daftar Isi
Jakarta -

Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak, termasuk perhatian agar anak merasa aman dan tumbuh bahagia. Namun, ada beberapa sikap orang tua yang justru rentan membuat anak cemas, lho.

Para psikolog menyebutkan contohnya termasuk seperti terlalu sering membantu, menyelesaikan masalah anak, atau juga terlalu berusaha mencegah anak merasa kecewa. Akibatnya, anak tumbuh dengan kurang terbiasa menghadapi tantangan secara mandiri. 

Mengapa sikap 'baik' orang tua rentan membuat anak cemas?

Wajar jika orang tua ingin mencurahkan kasih sayang untuk anak, dengan keyakinan ini akan membantu anak tumbuh dengan baik. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Tapi beberapa hal yang terlihat 'baik' terkadang justru dapat meningkatkan kecemasan pada anak, karena ketidaknyamanan yang dirasakan orang dewasa sering kali menjadi lebih menonjol daripada tekanan yang dirasakan anak," ungkap psikolog di Amerika Serikat, Dale Atkins, seperti dikutip dari Parade. 

Ketika anak merasa cemas, sistem saraf mereka perlu ditenangkan. Respons orang tua memainkan peran penting dalam membantu mewujudkan hal tersebut.

Para psikolog juga mencatat bahwa respons dapat diberikan melalui tindakan, yang terkadang lebih kuat daripada kata-kata.

Sikap 'baik' orang tua yang rentan membuat anak cemas

Berikut beberapa contoh sikap orang tua yang terlihat baik tapi diam-diam bisa membuat anak jadi cemas:

1. Melakukan hal-hal yang bisa dilakukan sendiri oleh anak

Jika orang tua selalu turun tangan membantu anak melakukan sesuatu, seperti mengerjakan tugas rumah atau mengikat tali sepatunya, ini justru berdampak buruk bagi mereka. 

"Menyelesaikan tugas yang sebenarnya mampu dilakukan anak dapat melemahkan rasa mampu dalam diri mereka," jelas psikolog Amy Kincaid Todey.

Ketika anak tidak diberi kesempatan untuk berusaha dan berhasil secara mandiri, mereka kehilangan kesempatan untuk membangun kepercayaan diri yang muncul ketika berhasil mengatasi tantangan sendiri.

2. Selalu menyelesaikan masalah anak

Para psikolog mengakui bahwa memang sulit melihat anak mengalami kesulitan, sehingga muncul naluri ingin melindungi mereka dari kekecewaan.

Menurut Atkins, kebiasaan ini dapat memberi sinyal kepada anak bahwa situasi atau perasaan yang mereka alami terlalu berat untuk dihadapi. 

"Seiring waktu, hal ini dapat melemahkan kepercayaan diri dan memperkuat keyakinan bahwa kecemasan itu berbahaya dan harus dihindari," sambungnya.

3. Tidak melatih emosi anak

Memvalidasi emosi anak memang penting, tetapi jika berlebihan atau dibarengi dengan penghindaran justru dapat memperburuk kecemasan.

Hal ini terutama rentan terjadi pada anak yang cenderung terus-menerus memikirkan sesuatu atau memiliki pola pikir obsesif.

Anak sebenarnya membutuhkan kesempatan untuk mengelola emosi agar mereka dapat memperbaiki keadaan dan melanjutkan hidup, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

"Mengajarkan anak, 'aku takut, tetapi aku tetap bisa melakukannya' dan memberikan contoh keberanian yang sesuai dengan nilai-nilai keluarga sering kali lebih efektif daripada sekadar menenangkan saja," pesan Todey.

4. Terlalu banyak mempersiapkan kebutuhan anak

Mengantar anak mengikuti kegiatan orientasi di sekolah memang baik, tapi jika orang tua terlalu memikirkan berbagai kemungkinan buruk bahkan sebelum sekolah dimulai justru berbahaya. Hal ini kemungkinan justru akan menciptakan kecemasan yang jauh lebih besar daripada yang diperlukan.

"Bagi anak yang merasa cemas, persiapan yang berlebihan dapat memperbesar ketidakpastian. Alih-alih merasa siap, mereka justru dapat merasa kewalahan dan lebih berfokus pada apa saja yang mungkin salah," tutur Atkins.

5. Melindungi anak dari emosi negatif

Memang terlihat 'baik' untuk mencoba mengalihkan perhatian anak, terutama anak yang masih sangat kecil, dari sesuatu yang berat. Contohnya saat hewan peliharaan mereka mati. 

Tapi melindungi anak dari emosi yang menyakitkan membuat mereka kehilangan kesempatan untuk memproses perasaan seperti kesedihan, juga untuk mempelajari cara mengatasinya.

Selain itu, anak biasanya sudah mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi, meskipun mereka belum memiliki kata-kata untuk mengungkapkannya.

Psikolog Emily Guarnotta menyebutkan bahwa faktanya anak-anak sangat peka, namun mereka masih sulit menyampaikannya.

"Ketika mereka merasakan ada kesedihan atau ketegangan di rumah tetapi diberi tahu bahwa semua 'baik-baik saja', anak justru jadi bingung. Akhirnya mereka belajar bahwa emosi negatif terlalu menakutkan untuk dihadapi, sehingga mereka menjadi kurang siap untuk menghadapinya di kemudian hari," ujar Guarnotta. 

6. Memberikan terlalu banyak pilihan

Jika diterapkan secara berlebihan, memberi terlalu banyak pilihan justru dapat menumbuhkan kekhawatiran pada anak. Otak mereka bisa kewalahan.

Akibatnya, muncul kecemasan dan kelelahan dalam mengambil keputusan karena anak merasa terbebani untuk membuat pilihan yang tepat.

7. Memuji kecerdasan, bukan usaha

Mengatakan kepada anak bahwa mereka pintar mungkin terasa seperti cara untuk meningkatkan kepercayaan diri, tetapi jika terlalu sering dilakukan, anak dapat mulai mengaitkan harga diri mereka dengan kecerdasan.

Hal ini dapat menimbulkan kecemasan yang signifikan ketika melakukan kesalahan atau mencoba hal-hal baru, karena mereka takut kegagalan berarti bahwa mereka tidak pintar.

Lalu bagaimana cara mengurangi kecemasan pada anak?

Atkins berpesan bahwa salah satu tindakan orang tua yang paling ampuh untuk mengurangi kecemasan adalah hadir dengan tenang, tanpa terburu-buru dan tanpa agenda tertentu.

Misalnya dengan duduk bersama anak ketika mereka sedang merasakan emosinya, tanpa berusaha memperbaiki, mengarahkan, atau menyemangati mereka agar segera keluar dari perasaan tersebut.

Jadi, alih-alih langsung berusaha memperbaikinya, Bunda dapat membiarkan anak memproses masalah tersebut dan membicarakannya bersama-sama. 

Tindakan ini membantu membangun kecerdasan emosional dan ketangguhan anak. Mereka belajar bahwa gejolak emosi hanyalah gelombang sementara yang dapat mereka lewati.

Itulah penjelasan tentang sikap-sikap yang rentan membuat anak mudah cemas dan cara yang dapat membantu mengatasinya. Semoga bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda