Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

6 Kebiasaan Berbahaya Anak yang Harus Segera Dihentikan Menurut Psikolog

Elia Amaliana   |   HaiBunda

Sabtu, 29 Aug 2026 07:00 WIB

Bahaya membandingkan anak
Kebiasaan anak yang harus dihentikan/ Foto: Getty Images/iStockphoto/davidf
Daftar Isi

Setiap anak pastinya memiliki kebiasaan yang berbeda dalam menjalani aktivitas di kehidupan sehari-hari. Beberapa kebiasaan bisa terlihat sepele, tapi jika dilakukan secara berulang bisa berdampak pada kesehatan, perkembangan, dan perilaku anak di masa mendatang. 

Oleh karena itu, orang tua berperan penting dalam membantu proses perkembangan anak. Orang tua tentunya akan melakukan upaya terbaik untuk merencanakan pengasuhan anak mereka, mulai dari sekolah, mengajarkan nilai dan moral, komunikasi, hingga pilihan gaya hidup yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Namun, ada beberapa kebiasaan yang tidak bermanfaat dan perlu dihindari oleh anak-anak. Pasalnya, beberapa kebiasaan tersebut bisa menghambat kemampuan anak dalam mengelola emosi dan membangun kemandirian. Sehingga dapat berpengaruh terhadap cara anak berinteraksi di lingkungan sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dikutip dari Upworthy, Dr. Roseann Capnna-Hodge, seorang psikolog anak, mengungkapkan enam kebiasaan umum yang sebaiknya dihindari di kehidupan anak dan mencari alternatif yang lebih bermanfaat dan efisien. Berikut penjelasannya. 

6 Kebiasaan berbahaya anak yang harus segera dihentikan menurut psikolog


1. Menggunakan waktu menonton layar ponsel untuk membuat anak tetap sibuk.

Seperti yang kita ketahui bahwa bermain ponsel sangat membantu untuk mendistraksi anak di saat orang tua kelelahan atau ketika mengatur pekerjaan. Namun, bergantung pada layar ponsel bisa berdampak negatif pada anak.

Dikutip dari laman Hopkinsmedicine, penelitian lain menyebutkan jika anak yang menggunakan media sosial lebih berpotensi mengalami dampak buruk bagi kesehatan mental anak. Anak mungkin akan kecanduan dan menjadikan ponsel sebagai salah satu cara untuk menghibur diri, mengisi waktu luang, atau bahkan melarikan diri dari rasa bosan dan emosi yang tidak nyaman.

Penelitian ini diperkuat oleh laporan dari Common Sense Media tahun 2023, yang mencatat jika anak-anak rentang usia 0-8 tahun menghabiskan lebih dari 2,5 jam per hari di depan layar elektronik. Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas ini sangat berpengaruh pada suasana hati, pola tidur, hingga perkembangan sosial anak.

2. Melupakan bahwa anak-anak belajar mengamati orang dewasa

Anak lebih mudah meniru apa yang dilakukan orang dewasa daripada apa yang dikatakan. Ketika orang dewasa berdebat kasar, menutup diri, atau memperlakukan orang dengan tidak hormat, anak akan menerapkan ke kehidupan sehari-hari.

Studi perkembangan anak tahun 2023, menemukan bahwa kemampuan mengelola emosi anak sangat mencerminkan kondisi yang mereka lihat ketika di rumah.

3. Membiarkan hal negatif menjadi sebuah pola

Sebagai orang tua, tekanan keuangan, kurang tidur, dan tuntutan untuk melakukan banyak hal sekaligus tentunya bisa mengikis kesabaran. Namun, terlalu sering berteriak dan mengkritik anak dapat memengaruhi rasa aman dan kepercayaan dirinya. Menurut Capanna-Hodge, kebiasaan meninggikan suara dapat membuat anak merasa takut dan kesulitan mengelola stres.

4. Menggunakan rasa bersalah untuk memengaruhi perilaku

Pola asuh yang membuat anak merasa bersalah dapat melekat di benak anak seumur hidup. Beberapa studi menunjukkan bahwa rasa bersalah berkaitan dengan kecemasan, ambisi untuk membahagiakan orang lain, dan kesulitan menentukan apa yang sebenarnya ia inginkan untuk dirinya sendiri. 

5. Ketidakonsistenan dalam mematuhi aturan dan disiplin

Banyak orang tua yang khawatir bila anak tidak mau mendengarkan. Padahal, sumber masalahnya bukan karena anak yang berontak, melainkan karena aturan yang diberikan tidak konsisten. Anak lebih mudah belajar dan memahami aturan jika batasan yang diberikan jelas dan konsisten. 

“Aturan yang tidak konsisten menciptakan kebingungan dan rasa tidak aman,” ujar Capanna-Hodge.

6. Membandingkan anak-anak satu sama lain

Kebiasaan membandingkan anak seringkali muncul karena orang tua merasa cemas perkembangan anaknya tertinggal dari anak lainnya. Namun,  terlalu sering membandingkan dapat merusak kepercayaan diri anak dan membuat anak tertekan untuk selalu memberikan yang terbaik untuk orang tua.

Itulah enam kebiasaan berbahaya anak yang harus dihentikan menurut psikolog, Semoga membantu, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!



(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda