parenting
Hindari Jadi Orang Tua Protektif, Ini 5 Cara Besarkan Anak Tangguh dari Psikolog Harvard
HaiBunda
Selasa, 25 Aug 2026 18:45 WIB
Membesarkan Si Kecil agar tumbuh menjadi anak tangguh bukan berarti harus melindunginya setiap waktu. Sebaliknya, membiarkan anak menghadapi tantangan, ternyata bisa membuat mereka beradaptasi menghadapi kesulitan dan mencari solusi untuk mengatasi masalah.
Dilansir dari laman CNBC, saat orang tua memberi perlindungan secara terus-menerus, akan memberi sinyal pada anak bahwa dunia tidak aman dan mereka tidak bisa mengatasi tantangan tanpa dukungan orang dewasa. Hal tersebut dapat menghilangkan rasa percaya diri, memperdalam ketergantungan, dan memperkuat kecemasan anak.
Membangun ketahanan mental pada anak usia bisa mengurangi dampak jika ia mengalami kesulitan atau stres berat di fase perkembangan awal kehidupannya. Lantas, bagaimana cara membesarkan anak agar menjadi tangguh? Berikut lima cara membesarkan anak tangguh dari psikolog Harvard.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
5 Cara membesarkan anak tangguh dari Psikolog Harvard
Simak ulasannya berikut ini:
1. Hindari menyelesaikan masalah anak sebelum mereka mencobanya
Saat anak mengalami kesulitan, secara naluriah orang tua akan membantu mereka. Misal, orang tua membantu anak mengerjakan PR, mengatur jadwal harian, atau membantu menyelesaikan masalah dengan teman yang berselisih. Hal ini dapat membuat anak terus bergantung karena nyaman dibantu orang tua.Â
Dampaknya, anak jadi kesulitan untuk memecahkan masalah karena mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk mencoba, jatuh, dan berhasil sendiri. Orang tua harus berhenti sejenak sebelum menawarkan bantuan.
Tanyakan pada anak apa yang bisa dia lakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut. Ini bisa menstimulasi pemikiran mandiri anak beserta ide-ide yang kreatif dan berharga.
2. Bunda berusaha melindungi anak dari perasaan negatif
Banyak orang tua yang khawatir ketika anak mengalami kecemasan, sedih, atau stres. Ini dapat mendorong anak untuk mencari solusi dengan cepat, seperti mencari pengalihan yang menyenangkan agar tidak terus memikirkan hal tersebut.
Namun, perlu diingat jika perasaan menyakitkan adalah bagian alami dalam kehidupan dan menjadi pelajaran untuk mengelola perasaan tersebut sangat penting untuk dilakukan. Orang tua harus memberitahu anak, jika emosi tersebut sangat wajar. Beri keyakinan bahwa mereka mampu mengatasi perasaan yang menyakitkan tersebut, Bunda.
3. Menyelesaikan masalah anak akan membuatnya jadi rapuh
Salah satu bentuk pola asuh yang terlalu protektif adalah menurunkan ekspektasi, karena takut anak tidak mampu menghadapinya. Secara tidak langsung orang tua tidak percaya dengan kemampuan anak untuk belajar mengatasi masalah.Â
Orang tua membebaskan anak dari latihan, pelajaran, atau rutinitas lainnya agar tidak merasa kelelahan atau stres. Hal ini bisa membuat anak berada di kondisi selalu nyaman dan orang tua secara tidak sengaja membuat anak mereka menjadi rapuh.
Orang tua harus memberikan dukungan yang membantu mereka berkembang daripada melindungi mereka dari setiap kesulitan.
4. Orang tua lebih peduli hasil daripada prosesnya
Pola asuh yang terlalu protektif juga membuat orang tua lebih fokus pada hasil daripada proses yang dilalui anak. Orang tua menekan atau memaksa anak untuk tidak berbuat kesalahan. Secara tidak sadar, orang tua menginginkan jaminan kesuksesan daripada mengajarkan anak cara bertahan menghadapi kesulitan dan kemunduran. Â
Orang tua sebaiknya memberi kesempatan pada anak untuk memperbaikinya jika melakukan kesalahan. Hindari untuk memperdebatkan sesuatu jika tidak berjalan dengan baik. Dukung anak di saat mereka berhasil memecahkan masalah, beradaptasi, dan belajar dari proses tersebut.
5. Kecemasan orang tua pengaruhi pola asuh di rumah
Sebagian orang tua menerapkan pola asuh bersumber dari ketakutannya mengalami kegagalan. Sebagai orang dewasa, mereka sering merasa tidak nyaman akan asumsi orang lain mengenai kegagalan, penilaian, dan konsekuensi jangka panjang.
Salah satu contohnya seperti menghubungi orang tua lainnya, setelah adanya perselisihan kecil karena takut anaknya dijauhi di lingkungan sosial atau mengawasi anak ketika mengerjakan pekerjaan rumah karena cemas dengan prestasinya. Ini bisa membuat anak merasa tidak dipercaya.
Itulah lima cara membesarkan anak tangguh menurut psikolog Harvard. Semoga membantu pola asuh di rumah, Bunda.Â
Â
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Hati-hati Bun, Ini 5 Pola Asuh yang Tanpa Disadari Bisa Sebabkan Anak Trauma
Parenting
Kini Jadi Psikolog, Caca Tengker Tak Ingin Andalkan Teori dalam Mengasuh Anak
Parenting
4 Strategi Penting Mengasuh Anak Bungsu agar Tidak Manja
Parenting
Hati-hati, Pola Asuh Helikopter Bisa Bikin Psikologis Anak Tertekan
Parenting
3 Teknik Mengendalikan Emosi Bunda saat Memarahi Anak
8 Foto
Parenting
Kocak! Ini Perbedaan antara Bunda dan Ayah Saat Mengasuh Anak
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Kesalahan Orang Tua yang Bisa 'Melemahkan' Mental Anak Tanpa Disadari, Jangan Anggap Remeh!
Ciri Kepribadian Orang Tua yang Menerapkan Gentle Parenting ke Anak
Kesalahan Pola Asuh Orang Tua yang Jadi Penyebab Utama Anak Depresi