parenting
Studi Terbaru Mengungkap Ternyata Anak Punya Peran Penting dalam Membentuk Budaya Lho
HaiBunda
Senin, 24 Aug 2026 18:45 WIB
Anak-anak sering dianggap tidak memiliki peran dalam perubahan budaya. Mereka disebut sebagai penerima budaya, yaitu pihak yang hanya belajar, meniru, dan mengikuti nilai dan kebiasaan dari budaya yang sudah dibentuk oleh orang dewasa.
Namun, pandangan tersebut mulai berubah seiring dengan berkembangnya zaman, Bunda. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa anak ternyata memiliki peran yang jauh lebih besar dalam membentuk budaya baru manusia.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Behavioural and Brain Sciences ini menunjukkan bahwa anak-anak tidak hanya belajar dari orang dewasa, tetapi mereka juga menciptakan, berbagi, dan memelihara budaya sebaya atau pergaulan mereka sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir laman Durham University, budaya sebaya ini mencakup permainan, cerita, lagu, bahasa gaul, aturan, dan bahkan pengetahuan unik tentang alam dan lingkungan setempat. Menurut para peneliti, anak-anak berusia sekitar 3 hingga 17 tahun secara teratur mengembangkan praktik budaya yang mungkin tidak pernah dilihat oleh orang dewasa.
Tak hanya itu, Bunda. Mereka juga mewariskan pengetahuan ini satu sama lain dan membentuk tradisi yang dapat bertahan selama beberapa generasi.
Anak-anak membantu komunitas beradaptasi
Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Psychology Department di Durham University ini juga menunjukkan bahwa budaya pergaulan sebaya lebih dari sekadar anak-anak yang bertingkah layaknya kanak-kanak. Para penulis menemukan bahwa anak-anak tanpa disadari sering menciptakan praktik budaya yang membantu komunitas merespons perubahan.
Nah, perubahan tersebut dapat mencakup hal yang sangat luas dan memengaruhi orang banyak. Beberapa perubahan ini seperti berkaitan dengan lingkungan, kehidupan sosial, atau bahkan iklim.
Menurut para penulis studi, anak-anak menghabiskan begitu banyak waktu untuk menjelajah dan bereksperimen. Hal itu sering kali dilakukan mereka tanpa pengawasan langsung dari orang dewasa.
Tanpa disadari, ide-ide baru muncul saat bereksperimen dan menghadirkan keragaman yang berharga ke dalam pengetahuan suatu komunitas. Di masa perubahan yang cepat, keragaman tersebut dapat mendukung ketahanan dan memicu cara-cara baru dalam memecahkan masalah.
Sisi positif dari studi tentang anak sebagai pembentuk budaya
Para peneliti berpendapat bahwa temuan dari studi ini seharusnya dapat mengubah cara para ilmuwan berpikir tentang anak-anak. Alih-alih memandang mereka 'anak-anak saja' atau 'calon orang dewasa', studi menyerukan pengakuan bahwa anak-anak adalah kontributor aktif bagi evolusi atau perubahan budaya.
Tim penulis dan peneliti berharap temuan ini juga dapat menginspirasi studi lebih lanjut tentang bagaimana anak-anak membentuk budaya, terutama di komunitas di mana kelompok sebaya memainkan peran utama dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian hasil studi terbaru yang mengungkap bahwa anak ternyata memiliki peran penting dalam membentuk budaya melalui 'budaya sebaya'. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
7 Cara Mengajarkan Anak Mencintai dan Melestarikan Budaya di Indonesia
Parenting
Tontonan Baru! Serial Puppet Show DOMIKADO, Hiburan Edukatif & Fun untuk Anak
Parenting
Cara Sederhana Mengajari Si Kecil Menghitung Skala Peta
Parenting
Mengenal Honai, Rumah Adat Papua dengan Keunikannya
Parenting
Kurikulum 2022 Bakal Diganti, Lebih Fleksibel Bun
7 Foto
Parenting
7 Potret Anak Artis Jago Olahraga Sejak Kecil, Salah Satunya Putra Sandra Dewi
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Cegah Rasisme, Begini Cara Ajarkan Toleransi Agama & Budaya pada Anak
3 Tips Ajarkan Anak Mencintai Kebudayaan Indonesia, Salah Satunya dengan Berikan Contoh Bun
5 Cara Membentuk Kecerdasan Budaya pada Anak agar Bisa Toleransi dengan Sesama