Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Umur Berapa Anak Mulai Bisa Naksir Lawan Jenis?

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Minggu, 23 Aug 2026 15:35 WIB

Ilustrasi Anak Berteman
Umur Berapa Anak Mulai Bisa Naksir Lawan Jenis?/ Foto: Getty Images/iStockphoto/wombatzaa
Daftar Isi
Jakarta -

Rasa suka terhadap lawan jenis merupakan bagian yang wajar terjadi dalam proses tumbuh kembang anak. Sebagian anak mungkin mulai menunjukkan ketertarikan dengan lawan jenis sejak usia sekolah dasar.

Tak sedikit orang tua merasa bingung menghadapi perubahan pada anak-anaknya. Banyak di antaranya bahkan enggan membicarakan perubahan ini ke pasangan atau si anak.

Lantas, sebenarnya di usia berapa anak mulai bisa naksir dengan lawan jenis? Bagaimana orang tua sebaiknya menyikapi hal tersebut?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Usia anak mulai naksir lawan jenis

Para ahli mengatakan bahwa anak biasanya mulai mengalami perasaan suka saat berusia sekitar di usia 5 atau 6 tahun. Sebelum menginjak usia tersebut, anak belajar tentang rasa sayang ke anggota keluarga.

"Anak-anak yang lebih muda memfokuskan kasih sayang mereka pada keluarga," kata asisten profesor di The Chicago School of Professional Psychology, Cynthia Langtiw, PsyD, dilansir Parents.

"Tetapi ketika anak-anak memasuki taman kanak-kanak atau kelas 1 Sekolah Dasar (SD), mereka juga merasakan kasih sayang kepada teman sekelas mereka. Hal ini karena mereka menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah," sambungnya.

Psikolog Anneline van der Westhuizen lebih lanjut menjelaskan tentang usia anak biasanya mulai 'berpasangan'. Menurutnya, anak-anak usia sekitar 10 tahun atau lebih muda mungkin sudah mulai mengenal arti berpacaran, Bunda. Apa penyebabnya?

"Anak-anak kini lebih dipengaruhi oleh citra media daripada sebelumnya, dan sekarang lebih canggih daripada zaman dulu. Jangan heran bila anak yang berusia 8 tahun sudah mulai menyukai lawan jenis," ungkapnya.

Westhuizen menekankan bahwa 'perasaan suka' terhadap lawan jenis yang dirasakan anak tidak boleh diremehkan oleh orang tua. Pasalnya, apa yang dialami anak mungkin akan berkaitan dengan kehidupan di masa dewasa.

"Mungkin agak berlebihan untuk sepenuhnya memvalidasi pemikiran ini. Tetapi, ketertarikan dan cinta pertama di masa kanak-kanak bisa menjadi pengalaman yang manis dan lembut, dan kita tidak boleh meremehkan pentingnya peran tersebut dalam kehidupan anak," ujar Westhuizen.

Pentingnya pendidikan seksual saat anak sudah mengenal lawan jenis

Ketika anak sudah mengerti arti 'naksir' atau 'pacaran', orang tua sebaiknya tidak menjauh. Sebaliknya, Bunda dan Ayah perlu memberikan pendidikan seksual, terutama bila anak sudah masuk usia 7 hingga 9 tahun.

Pada usia tersebut, perkembangan anak mencakup rasa ingin tahu tentang dunia mereka. Anak banyak bertanya dan mencoba mencari tahu bagaimana sesuatu bekerja.

Mereka tertarik pada apa yang dilakukan anak-anak lain dan mungkin ingin berteman. Hal yang umum terjadi pada anak usia ini adalah mereka menjadi lebih ingin tahu tentang tubuh, hubungan, dan konsep seksual.

Seperti semua perilaku, perilaku seksual juga dibentuk oleh hubungan sosial, latar belakang budaya, dan pengalaman pribadi anak-anak.

Dilansir dari Raising Children Network, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua saat anak mulai naksir, termasuk mengajarkan pentingnya pendidikan seksual:

1. Bicaralah sejak dini, bicaralah sesering mungkin

Salah satu cara terbaik untuk mendukung perilaku seksual yang sehat adalah dengan berbicara dan mendengarkan. Berbicara dan mendengarkan anak memiliki banyak manfaat.

Misalnya, Bunda dapat mendengar apa yang dipikirkan dan diketahui anak tentang seks, tubuh, dan hubungan. Bila Si Kecil dapat mengajukan pertanyaan, jawab dengan jujur dengan menggunakan komunikasi yang sesuai usia anak.

Percakapan terbuka dan jujur juga membantu meletakkan dasar bagi anak untuk memiliki pengalaman seksual yang sehat, penuh hormat, aman, dan menyenangkan ketika mereka siap.

Percakapan ini dapat mengirimkan pesan bahwa anak selalu dapat datang kepada orang tuanya untuk mendapatkan informasi yang dapat diandalkan dan tanpa penghakiman tentang topik-topik sensitif seperti perilaku seksual.

2. Menangani perilaku yang tidak pantas dengan tenang

Anak-anak terkadang berperilaku dengan cara yang tidak pantas. Jika hal itu terjadi pada Si Kecil, sebaiknya tetap tenang dan sarankan aktivitas lain.

Setelah itu, Bunda dapat berbicara dengan anak tentang perilaku apa yang boleh dilakukan di rumah dan perilaku apa yang boleh dilakukan di depan anak-anak lain, orang tua, atau guru. Misalnya, Bunda bisa menjelaskan bahwa meskipun boleh bagi anak untuk bermain tanpa pakaian di rumah, hal itu tidak boleh dilakukan di tempat umum atau ruang publik.

Itulah penjelasan pakar tentang perilaku naksir pada anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda