parenting
4 Cara Mengajarkan Anak Kenali Emosi & Berani Menghadapinya
HaiBunda
Minggu, 23 Aug 2026 09:20 WIB
Daftar Isi
Memahami dan mengelola emosi merupakan hal penting bagi perkembangan anak-anak. Dengan mengenali emosi, mereka mampu mengekspresikannya dengan berbicara secara tenang atau cara lain yang tepat. Dengan mengenali emosi, anak bisa bangkit kembali setelah merasakannya.
Anak yang mengenal emosi, mereka cenderung berperilaku positif, perilaku yang bisa membantu mereka bergaul dengan orang lain, menjaga keselamatan diri, dan berkembang dengan baik. Dilansir Raising Children, hal ini bermanfaat bagi anak karena membantu mereka dalam belajar, menjalin pertemanan, menjadi mandiri, dan banyak lagi.
Memang, kemampuan anak untuk memahami dan mengelola emosi akan berkembang seiring berjalannya waktu. Namun, saat masih kecil, anak membutuhkan bantuan untuk memahami emosi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu terutama mencakup mengenali dan menyebutkan nama emosi tersebut, yang menjadi dasar bagi kemampuan mengelola emosi saat anak beranjak lebih besar.
Cara mengajarkan anak kenali emosi
Ada beberapa cara untuk mengajarkan anak mengenali emosinya dan berani menghadapinya seperti dilansir dari laman Parents:
1. Cara ajarkan anak tangani amarah dan meredakannya
Di usia balita, mereka masih belum belajar mengatur emosinya, menyerang dengan memukul, hingga membentak Bunda. Menurut psikolog klinis berlisensi di Long Island, New York, Jaclyn Shlisky, PsyD, kemarahan Si Kecil mungkin tampak tidak masuk akal, tetapi bagi anak yang belum belajar bagaimana mengatur emosi, itu adalah reaksi alami terhadap kesalahan yang dirasakan anak.
Daripada bereaksi hanya dengan hukuman, bicarakan dengan anak ini sehingga mereka dapat belajar menyebutkan emosinya. Terapis perilaku di Harstein Psychological Services Center, Jaime Gleicher, LMSW, menekankan bahwa sangat penting bagi Bunda untuk tidak mengungkapkan pengalaman secara tepat dan mengabaikan perasaan anak jika anak tersebut tidak benar-benar marah, melainkan merasa sedih atau cemas.
Mintalah anak berlatih mengatakan sesuatu seperti, "Aku benar-benar tidak suka kalau kamu mengambil mainan dari tanganku". Gleicher menjelaskan bahwa perilaku negatif seperti memukul, membentak atau menangis saat merasa marah merupakan emosi mendasar yang belum diatur atau dipulihkan.
Mengamuk adalah ekspresi lahiriah dari emosi yang disalahpahami. Anak memerlukan bantuan untuk mengidentifikasi perasaannya karena mereka tidak dapat mengomunikasikannya sendiri. Hal itu disebut membangun kosa kata emosional anak.
2. Cara ajarkan anak kenali perasaan sedih dan mengatasinya
Perasaan kehilangan, kesedihan, atau dikecewakan adalah perasaan yang besar bagi anak-anak. Kesedihan bisa terjadi ketika seorang anak merasa takut, merindukan seseorang, merasa tersisih, atau sedang mengalami sesuatu yang membuat stres.
Kesedihan seringkali berkembang melalui kekecewaan. Anak-anak kesulitan mengatur emosinya saat merasa kecewa sehingga menyebabkan mereka mengalami kesedihan.
Air mata sering kali merupakan tanda yang paling jelas, tetapi kesedihan juga bisa muncul dalam bentuk kemarahan, keterasingan, atau keterikatan. Bahaya kesedihan dan tidak memahami sumber mendasarnya adalah kesedihan bisa berubah menjadi kemarahan dan kemudian berujung pada amukan.
Jika setiap kali anak menangis Bunda bisa mencoba menenangkannya, Bunda hanya membalut situasi alih-alih membantu mereka memecahkan masalah.
Bunda juga dapat menormalisasi perasaan mereka dengan berbagi cerita tentang bagaimana Bunda mengalami kehilangan serupa ketika seusia mereka. Bicarakan tentang apa yang membantu Bunda mengatasi perasaan sedih.
3. Cara ajarkan anak kenali rasa takut dan menghadapinya
Meskipun anak-anak tidak dilahirkan dengan rasa takut, perasaan takut berasal dari kecemasan dan kekhawatiran.
"Ketika anak kecil merasa takut, hal ini melibatkan persepsi tertentu tentang bahaya,” kata Gleicher.
Beberapa ketakutan memang sudah diperkirakan sejak masa pertumbuhan, seperti ketakutan terhadap orang asing, kegelapan, dan ketakutan akan keterpisahan dari orang tua.
Namun, ada beberapa ketakutan yang tidak selalu bisa kita lindungi dari anak-anak kita seperti peristiwa global atau berita utama yang menakutkan. Pada saat-saat seperti ini, penting untuk mengakui kekhawatiran anak terhadap situasi tersebut daripada mengecilkan perasaannya dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bunda juga dapat memberi contoh empati dengan mengatakan, "Kadang-kadang aku juga merasa seperti itu" dan dorong anak untuk menanyakan pertanyaan apa pun tentang hal tersebut. Terkadang, membiarkan anak memproses secara verbal apa yang ada di kepalanya akan membantu.
Untuk anak-anak kecil yang kesulitan menjelaskan akar ketakutan mereka, bercerita, memerankan situasi, atau membaca buku tentang situasi yang sangat menakutkan dapat membantu.
4. Cara ajarkan anak kenali rasa cemburu dan mengatasinya
Cemburu adalah emosi yang mudah dirasakan dan sering diungkapkan, tetapi konsep kecemburuan sulit untuk dijelaskan. Meskipun sering kali digambarkan sebagai perasaan atau pikiran tidak aman, ketakutan, hal ini juga bisa berupa perasaan tidak mampu, tidak berdaya, atau kebencian.
Kecemburuan materi sering kali muncul pada masa balita. Cobalah untuk mengalihkan fokus dari barang-barang materi ke sebuah momen berharga seperti liburan bersama atau momen quality time sederhana lainnya. Selain itu, ada pula rasa cemburu dalam pergaulan misalnya saat anak Bunda tidak diundang ke acara menginap bersama teman.
Aturan utama dalam menghadapi kecemburuan sosial adalah jangan pernah mengabaikan atau meremehkan perasaan anak. Bagaimanapun, meskipun Bunda mungkin menganggap drama, bagi anak, hal itu bisa jadi sangat berarti. Begitu anak mulai terbuka menceritakan apa yang mengganggunya, tunjukkanlah sikap pengertian.
Saat rasa cemburu muncul, khususnya dalam situasi pergaulan atau hubungan antar-saudara, ada baiknya Bunda mempersiapkan anak agar bisa menghadapinya dengan baik sejak awal. Jika tahu akan ada peristiwa yang berpotensi memicu kecemburuan seperti ulang tahun saudara kandung atau acara bermain bersama teman yang tidak melibatkannya, berikanlah informasi lebih awal kepada mereka.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
5 Tingkah Laku Anak untuk Cari Perhatian Orang Tua dan Cara Mengatasinya Menurut Ahli
Parenting
Tak Perlu Dimarahi, Coba 3 Trik Ini agar Anak yang Cengeng Jadi Lebih Tenang
Parenting
3 Hal yang Sebaiknya Tidak Bunda Lakukan saat Anak sedang Tantrum
Parenting
5 Manfaat Si Kecil Dekat dengan Kakek dan Neneknya, Salah Satunya Jadi Anak Tangguh Bun
Parenting
6 Cara Mengendalikan Emosi pada Anak, Bunda Perlu Tahu
7 Foto
Parenting
Potret 7 Anak Artis saat Menikmati MPASI, Ekpresinya Cute dan Gemas
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
5 Cara Mengajarkan Anak Bersikap saat Diejek Teman di Sekolah, Haruskah Dibalas?
Ciri Orang Tua Tidak Peka pada Perasaan Anak, Terlihat dari Ucapannya
Jangan Sering Bilang "Kamu kan Kakaknya", Ini 7 Kalimat yang Bisa Membebani Anak Sulung