Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

5 Kalimat dari Orang Tua yang Bisa Membuat Anak Merasa Dirinya Selalu Salah hingga Dewasa

Kinan   |   HaiBunda

Kamis, 13 Aug 2026 13:35 WIB

7 Kesalahan Parenting dari Orang Tua yang Bercerai pada Anaknya
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Kiwis
Daftar Isi
Jakarta -

Tanpa disadari, ada beberapa kalimat dari orang tua yang bisa terbawa oleh anak hingga dewasa. Ucapan ini juga bisa memengaruhi cara anak merespons emosinya.

Biasanya kalimat ini memiliki makna yang membuat anak sedih atau mungkin terasa menyakitkan, sehingga luka batinnya tersimpan dalam waktu lama.

Anak yang terlalu sering dikritik saat kecil rentan tumbuh menjadi sosok yang sering khawatir dianggap 'berlebihan', atau enggan mengekspresikan diri karena saat kecil sering dikritik. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kata-kata dan ucapan sangat mudah diingat, terutama jika bernada menyakitkan atau kasar. Hal ini bisa terus terulang di dalam pikiran anak.

Kalimat yang rentan membuat anak terus merasa bersalah saat dewasa

Saat anak terus menerima kritik yang tidak membangun, mereka biasanya mudah merekam kalimat ini dan jadi menahan diri untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.

Orang tua perlu berhati-hati untuk memilih kalimat saat berbicara, terutama jika anak memiliki emosi yang 'besar' atau agak sensitif.

Berikut beberapa contoh kalimat yang rentan didengar pada masa kanak-kanak dan terbawa hingga dewasa: 

1. "Jangan berlebihan"

Ketika anak menangis, sedih, atau mengekspresikan emosinya, orang dewasa mungkin merespons dengan kalimat yang menyakitkan seperti 'jangan drama' atau 'jangan berlebihan' tanpa menyadari dampaknya.

"Hal ini mengirimkan pesan kepada anak bahwa mengekspresikan emosi adalah sesuatu yang berbahaya, kebutuhan mereka tidak penting, dan hal itu bisa membuat orang yang mereka sayangi menjauh. Kondisi ini berpotensi membentuk hubungan yang tidak sehat di masa depan," kata psikolog di Amerika Serikat, Victoria Latifses, PhD, dikutip dari Parade.

2. "Bunda yang melahirkanmu, jadi berhak mengaturmu"

Menurut Latifses, kalimat ini adalah salah satu ucapan paling toxic yang sering diwariskan oleh orang tua, terutama di generasi lama.

Ia menilai bahwa kalimat tersebut sepenuhnya menghilangkan otonomi, jati diri, dan hak anak atas kehidupannya sendiri.

"Kalimat ini biasanya digunakan untuk membuat remaja yang dianggap membangkang kembali patuh dan menghormati orang yang lebih tua," jelas Latifses.

3. "Tidak perlu dibesar-besarkan seperti itu"

Perlu dipahami, anak bisa merasa dirinya 'terlalu berlebihan' bukan hanya ketika mengungkapkan perasaannya sendiri, tetapi juga saat menunjukkan kepedulian terhadap perasaan orang lain.

Ketika mereka mendengar kalimat seperti ini, anak belajar bahwa tidak semua orang memiliki empati atau perasaan yang mendalam.

"Anak yang sensitif akhirnya memahami bahwa kepedulian terhadap orang lain dan dunia sekitar tidak selalu dipandang positif oleh sebagian orang," ujar Latifses.

4. "Diam saja, jangan bikin ribut"

Saat mendengar kalimat seperti ini, banyak makna yang bisa diterima oleh anak. Termasuk bahwa mengungkapkan pendapat adalah salah.

"Mungkin juga anak menangkap pesan bahwa dirinya lemah atau gagal jika tidak bersikap seperti yang diharapkan," ungkapnya.

Padahal, anak hanya sedang merasakan emosi dan menunjukkan sisi kemanusiaannya, meskipun orang dewasa di sekitarnya tidak menyadari hal tersebut.

5. "Kamu terlalu sensitif"

Terakhir, orang tua juga sering mengucapkan kalimat ini ketika anak menunjukkan emosi yang kuat. Penting dipahami bahwa hal ini bukanlah cerminan dari diri anak.

"Alih-alih anak yang terlalu sensitif, bisa jadi orang tua yang sebenarnya belum memiliki kemampuan emosional yang cukup untuk membantu, sehingga memberikan respons yang 'meremehkan' seperti ini," pesan Latifses.

Meski kalimat-kalimat di atas merupakan contoh penting, itu bukan satu-satunya yang perlu diperhatikan orang tua.

Pesan bahwa anak 'terlalu berlebihan' juga bisa disampaikan tanpa kata-kata dan dirasakan oleh anak secara tersirat, misalnya melalui memutar mata, menghela napas dengan kesal, atau ekspresi serupa.

Cara merespons sisi emosional anak

Cara Melatih Regulasi Emosi pada Anak Sejak Dini Menurut PsikologIlustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/szefei

Saat anak menunjukkan sisi emosional dan kerentanannya, orang tua perlu hadir secara urut dalam situasi ini. Berikan dukungan yang cara yang lebih hangat dan positif.

Dibandingkan kalimat-kalimat di atas, beberapa contoh kalimat alternatif yang bisa digunakan saat berbicara dengan anak, termasuk anak yang sudah dewasa misalnya:

  • 'Bunda memahami perasaanmu, dan Bunda sedih melihatmu terluka'
  • 'Apakah kamu sedang merasa sedih?'
  • 'Bunda bangga karena kamu bisa memberi tahu temanmu alasan kamu marah, bukan dengan langsung memukul'
  • 'Rasa marah seperti apa yang kamu rasakan? Apakah marah yang membuatmu ingin berteriak, atau marah yang membuatmu ingin bersembunyi? Yuk cerita ke Bunda'

Selain itu, pastikan Bunda juga berbicara dengan sopan dan tenang, dengarkan dengan penuh perhatian, dan terapkan budaya saling menghormati di rumah.

Latifses menyebutkan bahwa orang tua atau kakek-nenek adalah 'benteng keamanan' emosional bagi seorang anak. 

"Mereka seharusnya menjadi tempat yang selalu tenang dan aman, tempat anak kembali untuk mendapatkan perlindungan, perhatian, kasih sayang, dan dukungan," sambungnya.

Jenis-jenis perasaan anak yang perlu dipahami orang tua

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine, anak-anak sudah dapat mengalami gejolak emosi yang begitu besar, bahkan sejak usia kurang dari 1 tahun.

Itulah mengapa penting bagi orang tua untuk mengetahui cara membicarakan emosi dengan anak sejak dini. 

Selain membantu anak memahami berbagai perasaan yang ada di dalam diri mereka, tapi juga belajar mengungkapkan emosi dengan baik. Berikut emosi dasar yang dimiliki oleh anak, Bunda:

1. Marah

Marah adalah perasaan kesal, tidak senang, bahkan rasa permusuhan yang kuat. Namun faktanya, marah tidak selalu merupakan emosi yang buruk.

Pada anak, kemarahan sering muncul ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, misalnya saat mainannya diambil teman.

Respons melawan atau menghindar (fight or flight) akan aktif, dan karena anak belum mampu mengatur emosinya dengan baik, mereka mungkin memukul, berteriak, atau mengalami tantrum.

2. Sedih

Perasaan kehilangan, kecewa, atau merasa tersakiti merupakan emosi besar bagi anak.

Kesedihan dapat muncul ketika anak merasa takut, merindukan seseorang, merasa dikucilkan, atau menghadapi situasi yang membuat stres, seperti mendengar orang tua bertengkar.

Kesedihan sering kali berawal dari rasa kecewa. Ketika anak kesulitan mengelola kekecewaan, mereka dapat merasakan kesedihan yang mendalam.

3. Takut

Perasaan takut berkembang dari kecemasan dan kekhawatiran. Pada anak kecil, rasa takut berkaitan dengan persepsi bahwa ada sesuatu yang berbahaya.

Takut juga bisa menjadi bagian normal dari perkembangan, seperti takut pada orang asing, takut gelap, atau takut berpisah dengan orang tua.

4. Cemburu

Dikutip dari Parents, psikolog Francyne Zeltser, PsyD menyebutkan bahwa perasaan cemburu dapat muncul sejak bayi berusia sekitar 3 bulan.

Emosi ini mudah dirasakan dan ditunjukkan, misalnya ketika ibu menggendong bayi lain atau melihat saudara mendapat hadiah ulang tahun. Namun, konsep cemburu memang cukup sulit dijelaskan kepada anak.

Cemburu sering digambarkan sebagai perasaan tidak aman, takut, atau khawatir karena merasa memiliki sesuatu yang lebih sedikit atau kurang aman dibanding orang lain. 

Itulah penjelasan tentang kalimat dari orang tua yang bisa membuat anak merasa dirinya selalu salah, serta berbagai macam jenis emosi anak yang perlu dipahami.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda