Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Anak Bilang "Aku Jadi Seperti Ini karena Kalian", Ini Cara Orang Tua Merespons Menurut Psikolog

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Minggu, 02 Aug 2026 18:10 WIB

Terbukti, Ini Cara Efektif Bilang
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/pixs4u
Daftar Isi
Jakarta -

Mendengar anak berkata, "Aku jadi seperti ini karena kalian," bisa menjadi salah satu momen yang paling menyakitkan bagi orang tua. Kalimat tersebut sering kali memicu rasa bersalah hingga marah pada diri sendiri.

Menurut psikolog anak, remaja, dan keluarga, Jeffrey Bernstein Ph.D., respons kita ke anak yang sedang marah dalam 60 detik pertama sangatlah penting. Sayangnya, tidak semua respons ini dapat meredam kemarahan dan kekecewaan anak, Bunda.

"Kata-kata 'kamu menghancurkan hidupku' atau ungkapan menyakitkan serupa, dapat menghancurkan hati kita sebagai orang tua. Pada saat itu, orang tua cenderung membeku dan secara otomatis memberikan salah satu dari dua respons yang gagal. Mereka cenderung meminta maaf atau justru memperkuat pertahanan mereka," kata Bernstein, dilansir Psychology Today.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Tetapi, tidak satu pun dari respons tersebut secara signifikan dapat menurunkan ketegangan atau mengurangi pertengkaran," sambungnya.

Menghadapi anak yang kecewa dengan orang tuanya memang tidak mudah. Lantas, apa yang harus dikatakan orang tua saat anaknya mengatakan, "Aku jadi seperti ini karena kalian?".

Cara orang tua merespons

Alih-alih meminta maaf atau berusaha melindungi diri, orang tua sebaiknya memberikan respons positif saat anak mengatakan, "Aku jadi seperti ini karena kalian."

Berikut tiga respons yang dapat membuka pintu menuju percakapan lebih tenang dan konstruktif saat anak kecewa dengan orang tuanya:

1. "Kamu terdengar sangat kesakitan dan menderita. Ceritakan semuanya ke Bunda/Ayah ya"

Ketika orang tua pertama kali mengakui rasa sakit yang dirasakan anaknya, itu berarti kita setuju dengan persepsi atau sudut pandang dari anak sepenuhnya. Hal tersebut dapat membantu orang dan anak dalam mengatur emosi.

"Respons seperti ini menunjukkan bahwa orang tua dapat merasakan rasa sakit anak-anaknya tanpa perlu segera memperbaiki atau membantahnya. Banyak anak yang sudah dewasa tidak sedang menguji rasa bersalah orang tuanya. Mereka justru sedang menguji apakah orang tuanya dapat tetap hadir," ungkap Bernstein.

2. "Aku dengar kamu benar-benar marah padaku"

Semakin Bunda menyadari bahwa kemarahan adalah bentuk awal dari emosi, maka semakin mudah untuk tidak terlalu terpengaruh olehnya. Sejalan dengan hal itu, kemarahan juga seringkali mencerminkan ketakutan akan terputusnya hubungan.

Menurut Bernstein, semakin Bunda dan Ayah dapat dengan tenang mengakui dan memberi ruang bagi kemarahan anaknya, tanpa meminta maaf, maka semakin banyak peluang yang tercipta untuk menunjukkan bahwa hubungan yang baik dapat mengatasi perasaan yang sulit.

Kemudian, orang tua dapat dengan tenang mencontohkan dialog yang konstruktif dengan mengatakan sesuatu seperti, "Apakah kamu setuju jika kita dapat mencapai titik di mana kita dapat membicarakan hal ini dengan tenang? Itu akan membantu kita berdua mencapai kondisi yang lebih baik".

3. "Aku percaya kamu dapat mengatasi ini, dan aku masih di sini"

Topik tentang menyalahkan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya sering muncul dalam hubungan orang tua dan anak-anaknya. Ketika anak-anak menyalahkan orang tua mereka atas kesulitan yang mereka alami, hal itu berubah menjadi rasa bersalah yang tak henti-hentinya.

Siklus menyalahkan dan rasa bersalah tersebut tidak baik untuk dialog dan pemecahan masalah yang konstruktif. Pernyataan, "Aku mencintaimu dan aku tidak akan menanggung semua kesalahan atas hidupmu" merupakan inti dari apa yang disebut sebagai pergeseran dari pemecah masalah menjadi pelatihan.

"Seorang pemecah mungkin masalah akan berkata, 'Izinkan saya memperbaiki ini untukmu'. Namun ketika orang tua mengatakan sesuatu seperti, 'Aku percaya kamu dapat mengatasi ini, dan aku masih di sini', itu sama saja seperti orang tua beralih ke pola pikir yang lebih efektif," kata Bernstein.

Itulah beberapa respons orang tua saat anaknya mengatakan, "Aku jadi seperti ini karena kalian?". Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda