Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Cara Mengenali Tanda Bayi Cerdas Sejak Usia 7 Bulan, Benarkah Bisa Diprediksi?

Kinan   |   HaiBunda

Senin, 03 Aug 2026 08:50 WIB

Kenali Karakteristik Bayi yang Lahir di Bulan Juli
Ilustrasi/Foto: Getty Images/oatawa
Daftar Isi
Jakarta -

Cara mengenali tanda bayi cerdas disebut-sebut sudah bisa dilihat sejak usia 7 bulan. Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk menstimulasi?

Dikutip dari Parents, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kemungkinan memang ada cara untuk memprediksi kecerdasan seseorang sejak masih bayi.

Studi yang dilakukan oleh University of Colorado Boulder ini mengungkapkan bahwa bayi dapat menunjukkan tanda-tanda awal kemampuan kognitif sejak usia yang sangat muda, sebagaimana yang sering diyakini para orang tua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dalam hasil yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) tersebut, para peneliti juga menemukan bahwa kemampuan seseorang dalam mengerjakan tes kognitif saat berusia 30-an tahun mungkin sudah dapat diprediksi sejak usia 7 bulan.

Studi lebih lanjut terkait kecerdasan pada bayi

Untuk mengetahui lebih dalam, para peneliti kemudian  merekrut 500 keluarga yang memiliki anak kembar, baik kembar identik maupun kembar fraternal (tidak identik).

Para peserta kemudian diikuti perkembangannya saat berusia 7 bulan, 9 bulan, 1 tahun, lalu setiap tahun hingga usia 17 tahun, dan selanjutnya setiap lima tahun hingga mereka memasuki usia 30-an.

Melalui data yang dikumpulkan selama puluhan tahun tersebut, para peneliti ingin memahami bagaimana genetik dan lingkungan saling berinteraksi dalam membentuk perkembangan anak. Dengan mempelajari anak kembar, peneliti juga dapat membedakan peran faktor genetik dan lingkungan yang mereka alami bersama.

Kembar identik memiliki 100 persen gen yang sama, sedangkan kembar fraternal berbagi sekitar 50 persen gen, seperti saudara kandung pada umumnya. 

Dengan membandingkan tingkat kemiripan IQ mereka, peneliti dapat memperkirakan seberapa besar kemampuan kognitif dipengaruhi oleh faktor genetik dibandingkan faktor lingkungan yang sama-sama mereka alami.

Daniel Gustavson, PhD, asisten profesor riset di University of Colorado Boulder sekaligus penulis utama penelitian ini, menjelaskan bahwa lingkungan bersama mencakup seluruh aspek rumah, lingkungan tempat tinggal, dan lingkungan sekolah yang dialami anak.

Bagaimana hasilnya?

Penelitian ini menemukan bahwa lingkungan pada awal kehidupan, khususnya sebelum usia 3 tahun, dapat memberikan pengaruh yang nyata dan bertahan lama terhadap kemampuan kognitif seseorang di masa depan. 

Menurut Gustavson, faktor tersebut menyumbang sekitar 10 persen perbedaan IQ antarindividu.

Untuk menilai kemampuan kognitif bayi, peneliti menggunakan beberapa metode pengukuran, termasuk novelty preference (mengamati berapa lama bayi memperhatikan mainan baru dibandingkan mainan yang sudah dikenalnya), vokalisasi (suara atau ocehan yang dikeluarkan bayi), dan visual expectation (kemampuan mengikuti pergerakan suatu objek dengan pandangan mata).

Meskipun berbagai tes pada usia 7–9 bulan hanya mampu memprediksi sebagian kecil IQ seseorang saat dewasa, penelitian ini menunjukkan bahwa ketika anak mencapai usia 3 tahun, hasil evaluasi tahunan sudah dapat memprediksi sekitar 20 persen perbedaan IQ antarindividu.

Kemampuan prediksi tersebut kemudian meningkat pesat pada rentang usia 7 hingga 16 tahun, yaitu masa ketika pengaruh faktor genetik mulai terlihat semakin kuat terhadap kemampuan kognitif seseorang.

Peneliti tetap ingatkan pentingnya stimulasi eksternal

Walaupun faktor genetik memberikan kontribusi yang besar terhadap IQ, Gustavson menegaskan bahwa bukan berarti semuanya tidak dapat berubah. 

Setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk belajar, mengembangkan keterampilan baru, dan meningkatkan kemampuannya.

Penelitian ini memang menekankan pentingnya lingkungan pada awal kehidupan, tetapi tidak menjelaskan secara rinci bagaimana orang tua dapat memberikan stimulasi terbaik untuk mendukung perkembangan kognitif anak.

Tips mengoptimalkan perkembangan kognitif anak

Menurut psikolog Sara Douglas, PsyD, EdM, IQ sebaiknya dipahami sebagai kapasitas seseorang yang mencakup berbagai kemampuan dan karakteristik, bukan patokan tunggal.

Berikut beberapa strategi sederhana yang dapat membantu mendukung perkembangan kognitif anak secara menyeluruh:

1. Berikan anak beragam pengalaman

Lingkungan yang kaya stimulasi dapat memberikan berbagai pengalaman untuk membantu mengembangkan kemampuan anak.

Sejak bayi, Bunda bisa memberi kesempatan pada Si Kecil untuk merasakan berbagai tekstur, melihat beragam pola, mendengarkan berbagai jenis suara, serta berinteraksi dengan banyak orang yang berbeda.

Ia juga menambahkan bahwa orang tua sebaiknya memberikan berbagai pengalaman baru secara bertahap.

Bila memungkinkan, berikan pengalaman yang berbeda pada setiap tahap perkembangan. Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk menguasai kemampuan yang sedang dipelajari sekaligus mengembangkan minat terhadap keterampilan berikutnya.

2. Luangkan waktu untuk berinteraksi secara langsung

Dokter spesialis anak, Heather Gosnell, MD menyebutkan bahwa interaksi langsung antara orang tua dan anak juga sangat penting.

Kegiatan sederhana seperti membaca, berbicara, dan bermain bersama memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan otak serta menjadi dasar proses belajar anak.

Sediakan waktu setidaknya sekitar minimal 30 menit setiap hari untuk berinteraksi pada bayi, misalnya membacakan buku.

Bunda juga dapat mengajak Si Kecil mengobrol dan menceritakan aktivitas sehari-hari guna membantu perkembangan kemampuan berbahasanya.

3. Bermain jalur rintangan

Buatlah tiruan jalur rintangan di rumah menggunakan barang sehari-hari, seperti kardus, tumpukan buku besar, atau bantal.

Ajak bayi untuk untuk melewati rintangan dengan merangkak atau berjalan, sambil memanggil namanya dari titik akhir.

Kegiatan ini membantu meningkatkan keterampilan motorik, navigasi, koordinasi tangan-mata, memori dan kemampuan kognitif.

4. Terapkan rutinitas

Dikutip dari Baby Center, memiliki rutinitas berarti mengetahui apa yang dibutuhkan anak, termasuk kapan dan berapa banyak kebutuhannya. Hal ini merupakan fondasi bagi kehidupan sehari-hari keluarga, termasuk anak usia balita. 

Jika anak punya rutinitas harian yang teratur, kebutuhan akan rasa tenang dan keteraturannya pun terpenuhi. Dalam jangka panjang, hal ini juga membantu proses tumbuh kembang anak dan kecerdasan di sekolah.

5. Bermain alat musik

Bunda dapat membantu melatih sensorik dan indra pendengaran bayi dengan mengajaknya bermain alat musik. 

Tak perlu menggunakan alat musik sungguhan, Bunda bisa menggunakan barang-barang yang ada di rumah. Misalnya seperti kaleng biskuit atau kotak mainan.

Selain melatih pendengaran, permainan ini juga bisa merangsang kemampuan kognitif dan sensorik Si Kecil. 

Berikan stimulasi tepat untuk kecerdasan anak

Perlu diingat bahwa penelitian ini tidak bersifat mutlak. Bukan berarti bayi yang menunjukkan tanda-tanda kecerdasan sejak dini pasti akan menjadi sangat cerdas saat dewasa atau sebaliknya.

Kecerdasan dan kemampuan intelektual dapat terus berkembang seiring waktu, terutama jika orang tua memberikan stimulasi yang optimal.

Jadi, Bunda juga tidak perlu terlalu cemas apabila perkembangan anak berbeda dengan anak lain, sebab pencapaian setiap anak memang pasti berbeda-beda.

"Jangan khawatir jika bayi mungkin belum terlihat lebih maju di semua bidang atau terlambat mencapai salah satu tonggak perkembangan, karena waktunya bisa berbeda-beda," ungkap Gosnell.

Keterlambatan berbicara maupun rentang perhatian yang masih pendek juga belum tentu menjadi tanda adanya masalah.

Gosnell menyebut sebagian besar anak yang terlambat berbicara akan mampu mengejar ketertinggalannya pada usia 4 hingga 7 tahun, terutama jika kemampuan memahami bahasa tetap baik dan perkembangan di bidang lain berjalan normal.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda