Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Bukan Kebetulan, Ini 8 Ciri Orang Tua yang Selalu Dekat dengan Anak Meski Sudah Dewasa

Kinan   |   HaiBunda

Selasa, 21 Jul 2026 09:20 WIB

Ciri Orang Tua yang Selalu Dekat dengan Anak Meski Sudah Dewasa
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Bogdan Malizkiy
Daftar Isi
Jakarta -

Supaya anak tetap merasa dekat dengan orang tua bahkan sampai menjelang dewasa, ada beberapa ciri pengasuhan yang diterapkan sejak awal. Seperti apa?

Ya, tidak sedikit orang tua yang berharap untuk bisa tetap dekat dengan anak meski mereka sudah tumbuh dewasa dan menjalani kehidupannya sendiri. 

Salah satu bentuk kedekatan yang dianggap bermakna adalah saat anak sering menghubungi orang tua. Bukan karena sedang membutuhkan bantuan, melainkan sekadar ingin menyapa, berbagi cerita, atau menanyakan kabar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Menurut para psikolog, kebiasaan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Ada pola hubungan dan cara mengasuh yang telah dibangun sejak anak masih kecil, sehingga membuat mereka merasa aman hingga dewasa.

Ciri orang tua yang selalu dekat dengan anak meski sudah dewasa

Menurut psikolog Dr. Kathryn Smerling, ada beberapa faktor yang membuat sebagian anak yang telah dewasa tetap dekat dengan orang tua. Salah satunya adalah gaya komunikasi. Dengan kata lain, hal ini berkaitan dengan ikatan yang telah dibangun orang tua bersama anak sejak kecil. 

Namun, jika selama masa tumbuh kembang orang tua justru menjadi penghalang bagi anak untuk berkembang atau menemukan jati diri, maka seiring bertambah dewasa anak cenderung menjaga jarak.

Berikut ciri-ciri orang tua yang selalu dekat dengan anak meski sudah dewasa seperti dikutip berbagai sumber:

1. Punya rasa ingin tahu terhadap kehidupan anak

Seorang anak yang telah dewasa akan lebih sering menghubungi orang tuanya jika ia merasa orang tuanya benar-benar tertarik dengan kehidupannya.

Oleh karena itu, menunjukkan rasa ingin tahu terhadap kehidupan anak adalah hal yang sebaiknya dilakukan sejak dini dan secara konsisten.

"Orang tua harus memahami apa yang menjadi minat anak," kata Dr. Smerling, seperti dikutip dari Parade. 

Ia menambahkan bahwa orang tua juga perlu memberikan respons yang positif terhadap hal-hal yang diminati anak.

Sebagai contoh, anak sebenarnya tidak menyukai olahraga, tetapi Bunda terus memaksanya ikut klub renang. Kondisi seperti ini sangat mungkin menimbulkan rasa kecewa atau bahkan kebencian di kemudian hari.

2. Tidak terlalu mencampuri urusan anak

Menahan diri untuk tidak selalu menyampaikan pendapat memang tidak mudah. Namun dalam situasi ini, sesekali memilih untuk diam justru merupakan langkah yang baik sebagai bagian dari pola asuh yang tidak terlalu mencampuri urusan anak.

"Banyak orang tua merasa seolah-olah mereka akan selalu memiliki kendali penuh atas anak-anaknya. Hal ini dapat membuat mereka melanggar batasan pribadi sehingga anak merasa tidak nyaman," imbuh Smerling.

Sebagai gantinya, ia menyarankan agar orang tua menerapkan pola asuh yang tidak mengganggu kemandirian anak, yaitu dengan mendengarkan secara aktif tanpa langsung memberikan pendapat.

3. Tidak menghakimi

Smerling menuturkan bahwa anak yang semakin dewasa perlu merasa aman dan diterima sepenuhnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi orang tua.

Sikap tidak menghakimi membantu menciptakan rasa aman. Hal ini juga pola asuh penting agar anak merasa diterima apa adanya.

Orang tua perlu memberi ruang yang cukup bagi anak agar mereka dapat mengekspresikan diri dengan bebas, tanpa merasa sedang dihakimi.

4. Menghormati keputusan anak

"Hubungan yang dilandasi rasa saling menghormati memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan keterbukaan untuk saling berbagi, bahkan di kemudian hari," ungkap psikolog Dr. Meera Khan, PsyD.

5. Tidak memaksakan keinginan kepada anak

Sikap menghakimi sering muncul ketika orang tua tidak melihat anak sebagaimana dirinya, melainkan sebagaimana yang mereka inginkan.

Namun, para psikolog sepakat bahwa memaksakan keinginan pribadi kepada anak bukanlah dasar yang baik untuk membangun hubungan yang sehat dengan anak yang telah dewasa.

"Orang tua perlu mengikuti perkembangan anak sesuai tahap usianya dan memberi mereka ruang untuk menjadi pribadi yang mandiri," ujar Khan.

Pisahkan identitas diri orang tua dari identitas anak, biarkan mereka berkembang menjadi individu yang utuh.

6. Membiasakan kemandirian melalui parallel play

Parallel play adalah ketika dua orang berada di tempat yang sama, tetapi masing-masing melakukan aktivitasnya sendiri. Misalnya bermain di kotak pasir yang sama, tapi tidak saling kontak langsung. 

Menurut Smerling, parallel play dapat membantu anak merasa diperlakukan sebagai individu yang setara dalam hubungan dengan orang tua. 

7. Membangun secure attachment

Membangun secure attachment atau kelekatan yang aman dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tanpa kehilangan kedekatan emosional dengan orang tua.

Artinya, anak merasa terikat secara emosional dan yakin bahwa orang tuanya akan selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun.

Namun di saat yang sama, orang tua juga memberi kebebasan yang cukup. Dengan begitu, mereka mampu melepas anak untuk menjalani kehidupannya sendiri."

8. Mengutamakan hubungan saling timbal balik

Sebagian orang tua masih beranggapan bahwa anak yang seharusnya selalu menghubungi orang tua terlebih dahulu.

"Itu adalah pandangan yang sangat tradisional tentang bagaimana hubungan seharusnya berjalan, yaitu ketika anak sudah tinggal terpisah, maka merekalah yang harus lebih dulu menghubungi orang tua," kata Smerling.

Ia berpendapat bahwa yang lebih tepat adalah membangun hubungan yang saling timbal balik (reciprocal relationship). Jadi, tak masalah jika orang tua juga bisa menghubungi anak terlebih dahulu.

Hubungan yang saling timbal balik membuat anak merasa lebih mandiri dan tidak takut dihakimi.

"Orang tua perlu memberikan pilihan kepada anak. Namun, tidak perlu mengarahkan pilihan tersebut atau terlalu memaksakan," tuturnya.

Itulah penjelasan tentang ciri-ciri orang tua yang selalu dekat dengan anak meski sudah dewasa. Bunda termasuk salah satunya?

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda